Artikel kali ini lanjutan dari uraian sebelumnya yaitu Memahami Spiritual dan Sihir dari Segi Ilmiah Part 6. Kali ini adalah part terakhir, kesimpulan dari seluruh uraian yang telah di bahas sebelumnya dalam beberapa bagian. Puncaknya Spiritual adalah Tauhid, energi yang bersumber dari Allahﷻ.
Sejak sebelum manusia di ciptakan, sesungguhnya Allahﷻ sudah menyusun segala skenarionya dengan rapi dan terencana. Segala sesuatu yang di jalani manusia merupakan salah satu taqdir yang sudah di tetapkan olehNya. Semua makhluk ciptaannya, tinggal menjalani proses perjalanan hidup sesuai perannya.
Begitu pula dengan yang terjadi di akhir zaman ini. Dengan adanya Dajjal yang bersekutu dengan Iblis, itu juga merupakan salah satu bagian taqdir yang harus di jalani kedua makhluk tersebut yang berperan sebagai musuh manusia, terutama umat Islam.
Dari jaman di ciptakannya Adam, Iblis telah di tetapkan sebagai musuh yang nyata bagi anak cucu Adam. Hanya karena sebuahs peristiwa, dimana Iblis tidak patuh ketika Allahﷻ memerintahkan iblis untuk sujud kepada Adam (ini bukan syirik, namun sebagai bentuk ujian terhadap Iblis apakah mau taat pada perintah Allahﷻ).
Sejak kejadian itulah iblis mengikrarkan diri sebagai musuh manusia.
Oleh sebab itulah Iblis selalu membuat strategi agar manusia tersesat dengan berbagai cara. Termasuk menyesatkan manusia yang berusaha membangun energi spiritual melalui amalan syirik dan bid’ah. Namun sumber kekuatan murni berasal dari Allahﷻ yang berpegang pada Kemurnian Tauhid, bersumber dari Al Qur’an dan Hadits yang bisa mengalahkan energi di sekitarnya. Dan hanya orang-orang yang bertauhid dan memiliki hati yang suci yang akan di pilih Allahﷻ untuk menjadi pasukan pilihanNya menjadi tentara Al Mahdi.
Umat Islam saat ini harus terus berusaha untuk memperjuangkan dirinya agar mencapai tingkat spiritual tertinggi untuk mendapatkan reward yang di janjikan Allahﷻ, dan di janjikan pahala 10 kali sahabat Nabiﷺ serta mendapat kesempatan masuk surga tanpa hisab bersama beliau ﷺ.
Pembahasan berikutnya adalah masuk ke ranah taqdir yang merupakan bagian dari rukun Iman seorang muslim. Berikut uraiannya.
TAQDIR DI BAGI MENJADI 2:
Qada (قضاء):
Berarti ketetapan, perintah, kepastian, dan kehendak Allahﷻ.
Merupakan keputusan Allahﷻ yang telah ditetapkan sejak zaman azali, meliputi segala sesuatu yang terjadi di dunia.
Tidak dapat diubah oleh manusia.
Contoh: adanya kehidupan, kematian dan hari kiamat. Termasuk seseorang yang tidak bisa memilih harus terlahir dari siapa, wajahnya seperti apa.
Qadar (قدر):
Berarti peraturan dan ukuran.
Merupakan perwujudan atau pelaksanaan dari qada, yaitu bagaimana ketentuan Allahﷻ tersebut bisa terwujud dalam kehidupan manusia.
Qadar terbagi menjadi 2:
Qadar Mubram (Takdir yang Pasti): Ketentuan Allah yang tidak dapat diubah, seperti waktu kematian, kelahiran, dan lain-lain.
Qadar Muallaq (Takdir yang Belum Pasti): Ketentuan Allahﷻ yang masih dapat diubah melalui usaha dan doa manusia, seperti rezeki, kesehatan, dan lain-lain.
Hubungan Qada dan Qadar:
Qada dan qadar memiliki hubungan yang erat. Qada adalah dasar atau rencana, sedangkan qadar adalah perwujudannya. Dengan memahami kedua konsep ini, manusia diharapkan untuk selalu bersyukur, bersabar, dan bertawakal kepada Allahﷻ dalam segala hal, serta tetap berusaha dan berikhtiar untuk mencapai kebaikan.
Contoh:
Qada: Waktu kematian, kelahiran, dan jodoh seseorang.
Qadar (Mubram): Semua orang pasti akan mati.
Qadar (Muallaq): Kesehatan, kekayaan, dan kemiskinan.
HUBUNGAN TAQDIR DAN SPIRITUAL
Spiritual adalah sebuah kemampuan seseorang menciptakan sebuah energi positif dalam tingkatan tertentu, dengan tujuan membuat perlindungan terhadap serangan sihir/energi negatif yang menghalangi tujuan utama menuju kepada Allahﷻ untuk mendapatkan surga di akhirat.
Sedangkan Doa adalah toleransi yang di berikan Allahﷻ kepada hambaNya agar bisa merubah taqdir ( qodar) untuk memperjuangkan nasibnya sebagaimana hadits berikut:
وعن ثوبان رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يرد القدر إلا الدعاء ولا يزيد في العمر إلا البر
Artinya:
Dari Tsauban berkata: Rasulullah bersabda: Tidak ada yang dapat mengelakkan takdir kecuali doa dan tidak ada yang bisa memperpanjang umur kecuali perbuatan baik. (HR Hakim dan Ahmad)
Namun perlu diingat, spiritual bukan sebuah pencapaian, karena spiritual adalah proses yang berkesinambungan tanpa batas. Peran spiritual hanya mengiringi proses mengantar manusia menuju taqdirnya untuk bertemu yang menciptakannya (Allahﷻ).
Meski begitu, kemampuan seseorang untuk meningkatkan spiritual mendapatkan hasil yang berbeda-beda sesuai kemampuannya.
Ketika seseorang sudah mampu membangun kesadaran diri dan mengendalikan emosional yang stabil di tingkat tertinggi, maka orang tersebut lebih mudah untuk mencapai ketetapan taqdir yang di tuju, karena lebih waspada dan mampu menghadapi tantangan yang terjadi dalam perjalanan hidupnya.
Ketika seseorang sudah di taqdirkan atau berhasil merubah taqdirnya dengan doa, selanjutnya orang tersebut akan menjalani proses menuju taqdir tersebut, baik ketetapan qada maupun doanya yang di kabulkan Allahﷻ, sehingga merubah ketetapan taqdirnya.
Dalam proses inilah syetan akan berusaha menggoda dan menyesatkan manusia dengan kemampuan sihirnya, sebagai bentuk ujian bagi manusia. Apakah orang tersebut mampu bersabar dan mempertahankan Istiqomah dalam usahanya menjemput taqdir tersebut.
Kondisi spiritual seseorang tidak selalu linier. Pengertian Linier dalam konteks ini berarti bahwa sesuatu berjalan secara lurus, teratur, dan dapat diprediksi. Dalam perjalanan spiritual, linier berarti bahwa seseorang akan mengalami kemajuan spiritual secara terus-menerus dan stabil, tanpa adanya kemunduran atau tantangan yang signifikan.
Namun, dalam kenyataan, perjalanan spiritual seringkali tidak linier. Seseorang mungkin akan mengalami kemajuan, kemudian diikuti dengan kemunduran, atau mengalami tantangan yang tidak terduga. Oleh karena itu, penting untuk tetap sabar, konsisten, dan terus berusaha untuk meningkatkan kualitas spiritual agar tetap jadi pemenang dalam proses perjuangan menuju taqdirnya.
Berikut Tingkatan Spiritual.
Tingkat terendah:
1. Getaran frekwensi 20 : Rasa malu (tidak percaya diri)
2. Getaran frekwensi 30 : Rasa bersalah (memiliki rasa bersalah yang berlebihan dan terus menerus)
3. Getaran frekwensi 50 : Apatis (putus asa)
4. Getaran frekwensi 75 : kesedihan
5. Getaran frekwensi 100 : ketakutan, kecemasan/was-was
6. Getaran frekwensi 125 : Ambisius/ memiliki keinginan/desire.
7. Getaran frekwensi 150 : Kemarahan
8. Getaran frekwensi 175 : Sombong
Tingkat Sedang :
9. Getaran frekwensi 200 : keberanian
10. Getaran frekwensi 250 : Netral
11. Getaran frekwensi 310 : semangat atau ada kemauan mencapai harapannya.
12. Getaran frekwensi 350 : Iklhas/ penerimaan taqdir tanpa menyalahkan orang lain.
Tingkat Tinggi:
13. Getaran frekwensi 400 : pemikir yang logis/ bisa menyelesaikan masalah dengan tepat.
14. Getaran frekwensi 500 : cinta universal tanpa syarat.
15. Getaran frekwensi 540 : Suka Cita, damai (tidak bergantung pada makhluk)
16. Getaran frekwensi 600 : Kedamaian ( menebarkan energi positif pada sekitarnya)
17. Getaran energi 700 : Pencerahan/ enlightenment ( biasanya di miliki orang yang memiliki Spiritualitas tingkat tinggi yang energinya sangat menenangkan orang-orang di sekitarnya).
Skala ini bisa di gunakan sebagai patokan untuk mengukur tingkat energi yang kita miliki agar bisa selalu introspeksi diri, dimana letak kekurangan diri kita yang harus di perbaiki (pentingnya membangun kesadaran diri).
Dalam kesimpulan hikmah yang bisa di petik dari uraian tersebut adalah, manusia bisa mencapai kemampuan spiritual yang tinggi apabila sudah memahami konsep taqdir dengan penuh kesadaran dir, bahwa segala sesuatu selalu di kembalikan kepada Allahﷻ (semua terjadi atas ijin Allahﷻ, ikhlas menerima taqdirnya) tanpa harus menyalahkan/menghakimi pihak lain. Selalu introspeksi diri, dan berusaha mempertahankan kemampuan spiritual yang dimiliki agar tetap ada di tingkat tinggi. Hal itu akan lebih memudahkan proses perjalanan seseorang menuju taqdirnya, agar selamat di dunia dan akhirat.
Wallahu a’lam bisshowab



