Diutusnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam adalah tanda pertama bahwa Umat Islam adalah umat akhir zaman.
Dari Sahal ibn Sa’ad r.a, “Aku melihat Rasulullah saw. mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari Tengah yang dirapatkan, seraya berkata, ‘Aku diutus sedangkan jarak antaraku dan kiamat seperti dua jari ini.’” (H.R. Bukhari)
Saat ini kita berada di 1447 H, lebih dari 1400 tahun sejak diutusnya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. Artinya kita semakin mendekati garis akhir zaman.
Banyak orang mulai memperhatikan tanda-tanda kiamat yang dikaitkan dengan berbagai peristiwa di dunia. Dalam konteks keimanan, tanda-tanda kiamat tidak hanya menjadi isu tentang akhir zaman, tetapi juga ajakan untuk introspeksi diri, taubat, dan kembali kepada Allah. Dalam Islam, tanda-tanda kiamat disebutkan dalam hadis-hadis Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan salah satu dari tanda-tanda itu adalah munculnya Al-Mahdi, seorang pemimpin yang akan memperbaiki dunia.
Al-Mahdi, menurut hadis, akan muncul dari keturunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, khususnya dari keturunan Fatimah dan Hasan bin Ali. Ia akan memimpin selama tujuh tahun, membawa keadilan dan keseimbangan ke bumi setelah masa penuh kezaliman. Hadis riwayat Abu Sa‘id al-Khudri menyebutkan bahwa ia akan membagi-bagikan harta secara adil, sehingga tidak ada lagi orang yang merasa kekurangan. Dalam hadis lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Allah akan memenuhi hati umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kekayaan, dan keadilan pemerintahannya meliputi mereka, hingga seorang penyeru menyerukan, ‘Siapa yang masih membutuhkan harta?’ Maka tidak ada seorang pun yang berdiri kecuali seorang lelaki. Lalu ia berkata, ‘Pergilah kepada bendahara (penjaga harta), katakan kepadanya, ‘Sesungguhnya al-Mahdi memerintahkanmu agar memberiku harta.’” Maka bendahara itu berkata, “Ambillah!” Lalu ia mengambil hingga penuh di pangkuannya. Namun setelah keluar, ia menyesal dan berkata, “Aku adalah manusia yang paling tamak dari umat Muhammad. Bukankah cukup bagiku apa yang telah mencukupi mereka?” Lalu ia ingin mengembalikan harta itu, tetapi tidak diterima darinya. Maka dikatakan kepadanya, “Sesungguhnya kami tidak akan mengambil kembali sesuatu yang telah kami berikan.”
Dari sini terlihat bahwa keadilan dan kesejahteraan yang dibawa oleh Al-Mahdi akan menjadi ciri khas masa pemerintahannya. Namun, setelah wafatnya Al-Mahdi, akan muncul fitnah besar, seperti disebutkan dalam hadis:
“Kemudian tidak ada lagi kebaikan dalam hidup setelah itu.”
Seiring dengan itu, tanda-tanda kiamat juga muncul dalam bentuk perubahan iklim yang ekstrem, konflik global, dan ancaman terhadap kemanusiaan. Di Indonesia, BMKG menyebutkan bahwa suhu bumi meningkat drastis, bahkan pada 2023, suhu rata-rata mencapai 1,52 derajat Celsius lebih panas dibandingkan periode 1850-1900. Perubahan iklim ini tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga kehidupan manusia, termasuk ketahanan pangan dan ketersediaan air. Dalam konteks sejarah, Ardhasena Sopaheluwakan, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, menjelaskan bahwa perubahan iklim pernah menjadi penyebab runtuhnya peradaban-peradaban besar seperti Maya dan Tiahuanaco.
Selain itu, di Timur Tengah, muncul berbagai tanda-tanda yang dikaitkan dengan akhir zaman. Misalnya, lahirnya sapi merah di Israel, yang dalam Yudaisme merupakan tanda akhir zaman. Meskipun banyak yang menganggapnya sebagai mitos, namun bagi sebagian orang, hal ini menjadi pertanda bahwa dunia sudah mendekati akhir. Di Arab Saudi, fenomena alam seperti pegunungan tandus yang berubah menjadi hijau juga dikaitkan dengan tanda kiamat. Selain itu, fenomena yang baru-baru ini muncul menghebohkan warga Raqqa, Suriah. Ratusan orang menyerbu bantaran Sungai Eufrat yang mengering untuk mencari emas mentah setelah muncul gundukan tanah berkilau di dasar sungai. Dalam waktu singkat, suasana berubah menjadi “demam emas” dengan tenda-tenda darurat dan aktivitas penggalian siang-malam menggunakan peralatan seadanya.
Diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab RA, Rasulullah SAW bersabda:
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَحْسِرَ الْفُرَاتُ عَنْ جَبَلٍ مِنْ ذَهَبٍ، يَقْتَتِلُ النَّاسُ عَلَيْهِ، فَيُقْتَلُ مِنْ كُلِّ مِائَةٍ، تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ، وَيَقُولُ كُلُّ رَجُلٍ مِنْهُمْ: لَعَلِّي أَكُونُ أَنَا الَّذِي أَنْجُو
Artinya: “Kiamat tidak akan terjadi sampai al-Furat (Sungai Eufrat) mengering sehingga muncullah gunung emas. Manusia pun saling bunuh untuk memperebutkannya. Dari setiap seratus orang (yang memperebutkannya), terbunuhlah 99 orang. Setiap orang dari mereka mengatakan, ‘Mudah-mudahan aku-lah orang yang selamat.” (HR Muslim)
Dari semua tanda-tanda ini, kita diingatkan untuk tidak lengah dan tetap menjaga iman serta ketaqwaan. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 217:
“Dan janganlah kamu mengira bahwa Kami tidak akan menguji manusia. Sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji mereka, supaya Kami mengetahui siapa yang beriman dan siapa yang tidak.”
Mari kita gunakan waktu ini untuk bertaubat, memperbaiki diri, dan menjaga persatuan. Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk menjalani hidup dengan penuh iman dan kesadaran akan akhir zaman. Dengan taubat dan ketaqwaan, kita bisa menjadi bagian dari umat yang akan diberi keadilan dan kesejahteraan, seperti yang akan dibawa oleh Al-Mahdi.




