Arti Kata Al-Mahdi Adalah “Yang Diberi Petunjuk”
Secara etimologi, kata “Al-Mahdi” (المهدي) berasal dari akar kata Arab hdy (ه-د-ي), yang bermakna “petunjuk ilahi”. Bentuk pasifnya berarti “orang yang dibimbing” atau “yang diberi petunjuk yang benar”.
Gelar ini diberikan kepada sosok pemimpin akhir zaman karena ia akan dibimbing langsung oleh Allah SWT untuk menegakkan keadilan dan kebenaran di muka bumi setelah sebelumnya dipenuhi kezaliman.
1. Al-Mahdi Bukan Nabi
Ini adalah konsensus (ijma’) di kalangan umat Islam. Nabi Muhammad SAW adalah nabi dan rasul terakhir (khatamun nabiyyin). Tidak akan ada nabi baru setelah beliau. Keyakinan ini sangat fundamental dalam akidah Islam.
Oleh karena itu, segala bentuk komunikasi atau petunjuk ilahi yang diterima oleh Al-Mahdi tidak mungkin melalui mekanisme wahyu yang dibawa oleh Malaikat Jibril, karena wahyu kenabian telah terhenti.
2. Petunjuk Melalui Mubasyirat (Mimpi yang Benar)
Karena Al-Mahdi adalah manusia biasa (bukan nabi atau rasul), mekanisme petunjuk yang mungkin diterimanya adalah melalui cara-cara yang Allah sediakan bagi hamba-hamba-Nya yang saleh, salah satunya adalah mubasyirat.
Hal ini didasarkan pada hadis sahih:
“Risalah (kenabian) telah terputus, maka tidak ada lagi rasul dan nabi setelahku.” Orang-orang merasa berat mendengar itu. Beliau bersabda lagi, “Akan tetapi ada mubasyirat (kabar gembira/mimpi yang benar).” Mereka bertanya, “Apa itu mubasyirat wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Mimpi yang benar seorang muslim, dan itu adalah bagian dari bagian-bagian kenabian.”
(HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah)
Jumlah 1/46 bagian kenabian disebutkan dalam riwayat lain yang serupa. Mimpi yang benar (ru’ya shadiqah) adalah satu-satunya “sisa” dari metode komunikasi ilahi yang bersifat kenabian yang masih bisa dialami oleh orang-orang beriman setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW.
Konsep bahwa petunjuk tersebut datang melalui mubasyirat adalah pandangan yang diyakini oleh sebagian kalangan ulama, terutama dalam konteks warisan kenabian setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW.
Apa itu Mubasyirat?
Mubasyirat (مبشرات) berarti “kabar gembira” atau “mimpi yang baik/benar”.
Warisan Kenabian: Dalam sebuah hadis yang masyhur, Rasulullah SAW bersabda bahwa setelah kenabian, yang tersisa hanyalah mubasyirat (mimpi yang benar). Mimpi yang benar ini dianggap sebagai bagian dari 46 bagian kenabian dan merupakan salah satu cara Allah memberikan petunjuk atau isyarat kepada hamba-Nya yang saleh, terutama di akhir zaman.
Kaitan dengan Al-Mahdi: Beberapa riwayat dan penafsiran kontemporer mengaitkan bahwa Al-Mahdi mungkin akan menerima petunjuk atau pengenalan akan misinya melalui mimpi yang benar (mubasyirat) ini, sebagai bentuk bimbingan ilahi langsung yang tersisa di zaman ketika wahyu kenabian telah terputus.
Kesimpulan
Sudut pandang bahwa Al-Mahdi adalah yang diberi petunjuk melalui mubasyirat didasarkan pada gabungan arti linguistik “Al-Mahdi” (yang dibimbing) dan hadis tentang mubasyirat sebagai satu-satunya warisan kenabian yang tersisa di akhir zaman. Ini adalah salah satu cara penafsiran mengenai bagaimana sosok Al-Mahdi menerima bimbingan Allah untuk peran besarnya sebagai pemimpin yang adil




