Mubasyirat dan ramalan adalah dua hal yang sering dianggap serupa karena sama-sama berbicara tentang peristiwa masa depan, namun keduanya memiliki perbedaan mendasar dalam sumber, hukum, dan kebenarannya menurut pandangan Islam.
Berikut adalah perbedaan utama antara mubasyirat dan ramalan:
Definisi dan Sumber Mubasyirat adalah mimpi baik atau ilham yang datang dari Allah ﷻ, sering kali sebagai kabar gembira, petunjuk, atau peringatan bagi seorang Muslim. Mimpi ini dianggap sebagai bagian dari tanda-tanda kenabian yang masih tersisa, di mana setan tidak dapat menyerupai wujud nabi dalam mimpi tersebut.
Sedangkan ramalan adalah praktek menebak atau memprediksi masa depan yang bersumber dari buatan manusia, dukun, zodiak, tahayul, atau bantuan setan (jin).
Kebenaran dan Tingkat Kepercayaan
Mubasyirat kebenarannya tinggi karena berasal dari Allah ﷻ, terutama mimpi orang saleh. Bahkan di akhir zaman terdapat dalil tentang banyaknya orang mukmin yang mengalami mimpi benar sebagai petunjuk kejadian sebelum di akhiri kehidupan dunia ini.
Berikut dalilnya.
dalam sebuah hadist riwayat Imam Bukhari, Rasulullahﷺ bersabda:
“Tidak tersisa dari kenabian kecuali al-mubasyirat.” Para sahabat bertanya, “Apa itu al-mubasyirat?” Beliau menjawab, “Mimpi yang baik.” (HR. Bukhari, no. 6990)
Sedangkan ramalan, tidak memiliki kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan. Bahkan jika terjadi, itu seringkali kebetulan atau penyesatan setan untuk menjerumuskan manusia pada syirik.
Secara Hukum dalam Islam, Mubasyirat boleh diceritakan kepada orang yang dipercaya atau dicintai, dan tidak boleh diremehkan.
Sedangkan ramalan hukumnya haram dan berpotensi menjadi perbuatan syirik (menyekutukan Allah) karena mengklaim mengetahui hal gaib yang hanya diketahui Allah ﷻ. Termasuk mendatangi peramal juga dilarang.
Tujuan Mubasyirat Sebagai motivasi, kabar gembira, atau peringatan untuk meningkatkan iman dan takwa.
Sedangkan ramalan biasanya bertujuan untuk memuaskan rasa ingin tahu tentang nasib, keberuntungan, atau jodoh, yang justru menjauhkan dari tawakal kepada Allah ﷻ, bahkan terjerumus kedalam dosa syirik.
Jadi umat harus bisa membedakan antara Mubasyirat dan ramalan, agar tidak mudah menghujat saudara muslim yang menyampaikan berita gembira dari Allah ﷻ berupa Mubasyirat. Dan jangan sampai salah mencari sumber informasi dari dukun dan peramal berkedok orang pintar.

