﷽
Berikut ini adalah suatu hati penduduk Uzlah yang menggambarkan keadaan disana.
Di saat dunia sibuk berlari mengejar fatamorgana kenikmatan duniawi, baik berupa harta dan kesenangan lainnya. Dan di saat umat terpecah belah dalam lautan fitnah serta dipenuhi kelalaian. Ada sekelompok jiwa yang memutuskan untuk diam, menjauh pergi demi menyelamatkan iman mereka. Di Tanah Uzlah Kami Meninggalkan Segalanya Demi Menunggu Panggilan Langit
Kami bukan orang terkenal dan bukan para ustadz ternama. Kami adalah kaum fakir dunia dan fakir ilmu. Tapi kami yakin janji Rasulullah ﷺ tidak pernah dusta.
Kami gabungan dari berbagai penjuru dan golongan. Pengikut kelompok ini berasal dari berbagai mazhab, bahkan ada yang perjalanan hidupnya tanpa arah. Sentuhan hidayah dari Allahﷻ melalui mimpi-mimpi menggiring langkah kami ke satu titik kumpul, yaitu Tanah Uzlah.
Di sini aktifitas setiap hari kami terbiasa bangun sebelum fajar, menundukkan hati di hadapan Rabb kami. Menangis mengadu kesedihan, mencucurkan air mata merindukan pertolongan Allahﷻ. Setiap malam, langit menjadi saksi permohonan kami.
“Ya Allah, jangan matikan kami dalam kesesatan.” Itu salah satu doa kami
Di sinilah kami belajar kembali hidup seperti generasi pertama Islam. Kami makan dari bumi yang kami tanami. Kami shalat berjamaah. Kami belajar hadits setiap hari. Kami membaca Al-Qur’an bersama. Kami mengenang janji-janji akhir zaman. Kami menanti pertolongan yang telah dijanjikan Allahﷻ dan Rasul-Nya.
Karena kami mengetahui, di antara umat ini ada pemuda dari keturunan Nabi ﷺ yang akan bangkit untuk membela Islam. Dialah Al-Mahdi. Dan kami tahu, sebelum kedatangannya, akan ada pasukan asing, kaum fakir yang meninggalkan kesenangan dunia, yang akan di satukan demi satu tujuan untuk menghidupkan agama di masa fitnah.
Berikut hadits terkait;
Akan tetap ada segolongan dari umatku yang selalu berada di atas kebenaran… tidak membahayakan mereka siapa pun yang mencela… hingga datang keputusan Allah.” (HR. Muslim)
Kami tidak mengajak kalian kepada kelompok. Kami tidak menyeru kalian kepada jamaah. Kami menyeru kalian kepada satu kalimat.
“Kembalilah kepada Allah dan Rasulullah ﷺ. Mengembalikan ajaran Islam yang murni, dengan pertolongan Allahﷻ melalui perantara Al-Mahdi.
Berikut hadits agar manusia segera beruzlah;
Maka pergilah kalian ke gua… Tuhan kalian akan melimpahkan rahmat-Nya kepada kalian… (QS. Al-Kahfi: 16)
Dari tempat terpencil dengan saung sederhana, makan dari perut bumi yang ditanam sendiri Kami bersuara.
“Wahai umat Muhammad… sadarlah… bangunlah… dengarkan suara langit… lihatlah mimpi-mimpi Muhammad Qasim… perhatikan tanda-tanda zaman… karena janji kemenangan sudah dekat!
Jika kalian tidak percaya kami tidak masalah, tapi jangan dustakan hadits Nabi ﷺ, jangan lupakan mimpi-mimpi yang telah diwariskan para shalihin, jangan abaikan janji Rabbul Alamin.
Kami hidup di sini menunggu, menyiapkan diri untuk menyambut panggilan langit. Dan kami tidak takut mati. Karena kami mengetahui, kematian adalah gerbang menuju pertemuan dengan Allahﷻ dan Rasul-Nya.
Kami memilih menjadi asing, agar kelak Allahﷻ menghimpun kami dalam barisan Thaifah Manshurah… dalam pasukan Al-Mahdi.
Di sinilah kami membangun kembali ruh Islam yang hampir hilang. Kami belajar kembali ajaran Nabi yang murni. Tidak ada yang menonjolkan golongan. Tidak ada yang merasa lebih alim. Kami semua fakir — fakir harta dan fakir ilmu, namun kaya akan harapan perjumpaan dengan kebangkitan umat Islam.
Kami menanam makanan kami sendiri: singkong, jagung, umbi-umbian, pisang, sayur-sayuran… karena Rasulullah ﷺ bersabda:
Sebaik-baik rezeki adalah dari hasil tanganmu sendiri.” (HR. Bukhari)
Kami bangun sebelum fajar, sholat tahajjud, menangis di keheningan malam. Kami mengkaji mimpi-mimpi shadiqah, karena Rasulullah ﷺ bersabda:
Tidak tersisa dari kenabian selain kabar gembira.” Para sahabat bertanya, “Apa itu kabar gembira wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Mimpi yang baik.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kami ingin hidup sebagaimana Ashabul Kahfi — pergi dari dunia demi menjaga iman.
Kami siarkan setiap kajian kami, agar dunia tahu: zaman sudah berubah. Janji Allah tentang kebangkitan Islam sudah dekat. Seseorang yang ditunggu-tunggu sudah hadir. Dan umat harus sadar, sebelum pintu rahmat ditutup oleh fitnah Dajjal.
Kami bukan siapa-siapa. Kami hanya sekelompok fakir yang rindu surga. Kami tidak ingin menjadi penguasa dunia, kami hanya ingin menjadi penolong Al-Mahdi saat panggilan itu datang.
Berbahagialah orang-orang yang asing… mereka yang memperbaiki kerusakan umat.” (HR. Muslim)
Kami menunggu kalian. Bukan untuk menjadi pengikut kami, tapi untuk menjadi pengikut Rasulullah ﷺ yang sejati. Menghidupkan sunnah, meninggalkan dunia, menyambut janji Allah.
Kami di Tanah Uzlah… menunggu kalian untuk pulang bersama menuju surga yang abadi.
وَاللّٰهُ عَلَى مَا نَقُوْلُ شَهِيْدٌ
By :Zk




