The Way of life !! Ikuti Jalan Para Nabi, Bukan Sebagai Dongeng Saja Part 2

Ini adalah lanjutan dari artikel sebelumnya yang telah publish dengan judul The Way of life !! Ikuti Jalan Para Nabi, Bukan Sebagai Dongeng Saja Part 2.

Ikutilah jalan para Nabi, walaupun orang lain bilang kamu gila, sesat karena kita mengikuti mubasyirat. Padahal seperti kita ketahui bahwa mubasyirat itu dari Allahﷻ dan terdapat dalam hadits Rasulullahﷺ. Itu artinya yang harus kita yakini bukan di ingkari.

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَا تَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَـكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَا للّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 31)

Ketika melihat kalimat ikuti jalan para Nabi, hal ini mengingatkan kondisi umat Islam saat ini seperti buih di lautan. Karena ketika diri kita sendiri membahas, membaca atau mendengar sejarah para Nabi, rasanya seperti membaca dongeng. Padahal seharusnya di amati, di contoh dan di analisis sejarah perjalanan para Nabi dan Rasul tersebut.

Al Qur’an memberikan contoh sejarah dan jalan hidup para Nabi untuk diikuti, bukan sekedaelr kekaguman atau kesedihan dalam perkataan semata.

Berikut ini adalah yang harus di ikuti dan di jadikan contoh dalam kehidupan sehari-hari :

1. Jalan hidup (Milah Ibrahim) berupa jalan dakwah, cara hidup kesabaran Rasullullahﷺ,

…” Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan dia tidaklah termasuk orang musyrik.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 95)

Dengan mencontoh jalan para Nabi maka mental dan ruh kita akan kuat. Dimana Nabi sampai, maka kita juga akan sampai di jalan tersebut.

Contoh :
Ketika Nabi Ibrahim عَلَیهِ‌ السَّلام meninggalkan anak istrinya di Padang gersang hanya bermodalkan perintah Allahﷻ, beliau diberi petunjuk. Itu artinya, jika kita berada dalam kondisi yang mirip-mirip dengan kisah tersebut maka ikutilah jalan Nabi Ibrahim dan ketegaran Ibunda Hajar(istri Nabi Ibrahim عَلَیهِ‌ السَّلام)

Naka ikutilah kesabaran, tawakkal saat melaksanakan perintah Allahﷻ hanya berdasarkan mimpi. bayangkan kita hidup di zaman itu, walaupun hal itu sama tidak akan terjadi lagi.

2. Uzlah, khalwat (dalam bahasa Indonesia bertapa, menyendiri, merenungi sendiri kanapa saya hidup, mencari jalan kebenaran). Ikuti bagaimana uzlahnya Rasullullahﷺ atau khalwatnya nabi Musa عَلَیهِ‌ السَّلام, saat mencari kebenaran sejati in syaa Allaah kita akan mendapatkan kekuatan spritual sejati seperti mereka. Maka hilanglah kelemahan dan kerapuhan aqidah yang membuat umat Islam seperti buih di lautan.

3. Prinsip Berserah diri pada Allahﷻ karena arti Islam adalah berserah diri. Allahﷻ berfirman:

اِذْ قَا لَ لَهٗ رَبُّهٗۤ اَسْلِمْ ۙ قَا لَ اَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

“(Ingatlah) ketika Tuhan berfirman kepadanya (Ibrahim), “Berserah dirilah!” Dia menjawab, “Aku berserah diri kepada Tuhan seluruh alam.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 131)

Ayat ini menceritakan bahwa Islamnya para Nabi itu adalah Islam pencarian, bukan sekedar ikut-ikutan. Karena hasil pencarian maka keimanan para Nabi menjadi teguh ketika berdakwah, istiqomah terhadap tantangan karena sudah menemukan Islam sejati.

4. Kisah Nabi Isa عَلَیهِ‌ yang ingin melihat wajah Allahﷻ, sebagai pelajaran Allahﷻ tunjukkan kebesaran dan keagungan di hadapan makhluk ciptaanNya.

“dan Allah berkata Engkau tidak akan sanggup, lihatlah gunung itu” maka leburlah gunung itu karena zat Allahﷻ yang tidak bisa dilihat secara langsung di dunia.
Maka nabi Musa عَلَیهِ‌ السَّلام tersungkur sujud, mengakui betapa dahsyat dan Maha agung yang di hadapanku, yang sedang berbicara denganku ini. Dan nabi Musa berkata” Inna awalun muslimin” aku bertobat kepada-Mu, kembali berserah diri kepadaMu.

Baca Juga:  Sepasang Suami Istri dari USA di Temui Rasulullahﷻ Agar Beruzlah

5. Nabi Nuh mendapat berita bencana banjir bandang, yang diperintahkan membuat perahu di atas bukit sesuatu yang tidak lazim dan tidak masuk akal tapi tetap dikerjakan. Ikutilah, walaupun mustahil dan tidak masuk akal. Meskipun di anggap gila seperti Nabi Nuh.

6 Nabi Ayub عَلَیهِ‌ السَّلام yang ditimpa penyakit selama kurang lebih 15 tahun, ikuti jejak kesabarannya karena semua diceritakan dalam Al Qur’an adalah untuk diikuti.

7. Nabi Isa عَلَیهِ‌ السَّلام yang hidupnya single selalu dikaitkan dengan orang termiskin di dunia, karena tidak mempunyai tempat tinggal, bahkan muridnya hanya 12 orang setelah sekian lama berdakwah.
Ikuti! Meskipun hanya sedikit orang yang mendengarkan, termasuk orang yang miskin dan berpindah-pindah tempat, jika menapaki jalan Kebenaran, mendakwahkan tauhid dan kebenaran, ikuti dan lakukan!

Saat ini kita memiliki Muhammad Qasim sebagai Al Mahdi yang tidak bisa diam di satu tempat karena harus menyampaikan pesan pesan mimpi. Keadaannya mirip dengan Nabi Isa عَلَیهِ‌ السَّلام, single, miskin, pengikutnya sedikit, tidak dipercaya oleh umat Islam akhir zaman.
Ikutilah! Karena misinya sama dengan semua Nabi yaitu membasmi kesyirikan dan menegakkan Islam sejati seperti dimasa Rasulullahﷺ.

Di akhirat kelak Allah akan membandingkan manusia di dunia ini dengan para Nabi.

Jika ada orang kaya yang lalai dan di sibukkan oleh dunia, maka mereka akan ditanya seberapa kekayaanmu dibandingkan dengan Nabi Sulaiman عَلَیهِ‌ السَّلام? Itulah mengapa kita harus mengikuti para nabi, Karena para nabi itu memang harus diikuti, walaupun derajat kita tidak akan bisa mencapai maqamnya para Nabi.

Jika Rasulullahﷺ mencapai surga firdaus, Insya Allah kita sebagai manusia biasa juga bisa masuk surga Firdaus namun beda rumah dan setiap hari bisa melihat beliau dan bisa bermuamalah. Maka ikutilah jejak Nabi Muhammadﷺ agar bisa bersama beliau.

Berikut ini adalah ayat Qur’an untuk memperjelas alasan umat islam agar bisa mengikuti jalan para Nabi:

Allahﷻ berfirman:

اُولٰٓئِكَ الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُ فَبِهُدٰٮهُمُ اقْتَدِهْ ۗ قُلْ لَّاۤ اَسْـئَلُكُمْ عَلَيْهِ اَجْرًا ۗ اِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٰى لِلْعٰلَمِيْنَ

“Mereka itulah (para nabi) yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak meminta imbalan kepadamu dalam menyampaikan (Al-Qur’an).” Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk (segala umat) seluruh alam.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 90)

اِتَّبِعْ مَاۤ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ ۚ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۚ وَاَ عْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِيْنَ

“Ikutilah apa yang telah diwahyukan Tuhanmu kepadamu (Muhammad); tidak ada tuhan selain Dia; dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 106)

Maka ikutilah jalan yang lurus jangan kamu ikuti jalan-jalan yang lain yang akan menceraikan kamu dari jalannya demikianlah dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa agar kamu memelihara diri.

itulah alasan kenapa saat ini umat Islam tercerai-berai dan berjalan sendiri-sendiri. karena tidak mengikuti jalan para Nabi yang lurus, yang bisa membawa pada ketaqwaan dan memelihara diri. Semua umat Islam saat ini sibuk mencari jalan sendiri, mengikuti keinginan dan pemikiran pribadinya masing masing.

Sangat berbahaya jika manusia tidak ingin mencari tahu apa keinginan Allahﷻ, baik melalui pesanNya dalam bentuk wahyu, petunjuk dan peringatan karena mengikuti mayoritas orang. Sebagaimana yang di sampaikan dalam QS. Ya-Sin 36: Ayat 21.

Baca Juga:  Persiapan Jiwa Sebelum Gelombang Besar

Allahﷻ berfirman:

اتَّبِعُوْا مَنْ لَّا يَسْــئَلُكُمْ اَجْرًا وَّهُمْ مُّهْتَدُوْنَ

“Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
(QS. Ya-Sin 36: Ayat 21)

Keikhlasan tidak lepas dari kebenaran. Dan para nabi tidak meminta imbalan setelah menyampaikan peringatan Allahﷻ. Sangat berbeda dengan kondisi saat ini setiap kali Ustadz berceramah, selalu berharap dapat imbalan. Lalu apakah mereka bisa dikatakan sebagai pewaris nabi?

Allahﷻ berfirman:

ثُمَّ جَعَلْنٰكَ عَلٰى شَرِيْعَةٍ مِّنَ الْاَ مْرِ فَا تَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَآءَ الَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ

“Kemudian Kami jadikan engkau (Muhammad) mengikuti syariat (peraturan) dari agama itu, maka ikutilah (syariat itu) dan janganlah engkau ikuti keinginan orang-orang yang tidak mengetahui.”
(QS. Al-Jasiyah 45: Ayat 18)

maknanya adalah:
1. Jangan ikuti orang-orang yang suka menduga-duga, menafsirkan tanpa ada dalil.
2. Perintah kepada nabi dan umatnya agar komitmen terhadap Islam sebagai jalan hidup bukan hanya sebagai keyakinan tetapi juga dijalankan dalam tindakan nyata.
3. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui, orang-orang yang tidak memiliki ilmu, yaitu mereka yang mengikuti nafsu, tradisi , tanpa dasar kebenaran atau ideologi pemikiran yang bertentangan dengan Wahyu.

Islam bukan hanya ajaran moral, tapi sistem hidup menyeluruh yang diturunkan langsung dari Allahﷻ. Kebenaran tidak ditentukan oleh mayoritas atau keinginan, tapi oleh ilmu dan Wahyu. umat Islam harus waspada terhadap pengaruh pemikiran luar yang menjauhkan dari syariat yang menyesatkan, walaupun dikemas secara modern atau menarik.

Jangan terpengaruh oleh orang-orang yang menolak kebenaran karena mengikuti hawa nafsu dan spekulasi. Mereka menolak karena hanya menggunakan akal karena mereka lebih berilmu, tanpa mau berusaha memahami dan mencari tahu kebenaran. Dalam Al Qur’an, mereka inilah termasuk seburuk buruknya makhluk.

Kebenaran sejati tidak ditentukan oleh keinginan pribadi atau mayoritas, tapi oleh Wahyu dan ilmu yang benar. Allahﷻ memerintahkan Nabi Muhammadﷺ, “maka tinggalkanlah Muhammad orang yang berpaling dari peringatan Kami.”

Allahﷻ berfirman dalam QS. An-Najm 53: Ayat 29:

فَاَ عْرِضْ عَنْ مَّنْ تَوَلّٰى ۙ عَنْ ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ اِلَّا الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا 

“Maka tinggalkanlah (Muhammad) orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan dia hanya mengingini kehidupan dunia.”
(QS. An-Najm 53: Ayat 29)

Jelas sekali mereka hanya menginginkan kehidupan dunia saja “ingin hidup normal”. Bagaimana “kehidupan para nabi dan shidiqqun?”
Lalu dimana ujian dan perjuangannya? Bukankah syarat masuk surga harus melewati ujian dan perjuangan?

Sedangkan Saat ini tanda tanda azab sudah Allahﷻ berikan. Gempa Myanmar, kebakaran los angeles, banjir di berbagai kota, pembunuhan, nuklir (perang dunia III). Satu satunya jalan keluar adalah uzlah untuk menyelamatkan diri dan agamanya dari berbagai fitnah Dajjal.

Apakah kita bisa realisasikan ? Sebab uzlah adalah hidup mengasingkan diri menjadi ghuroba yang tinggal di lereng gunung, dengan kambing sebagai harta berharga. Apakah siap? Dan janji Allah sangat besar bagi orang yang beruzlah, yaitu sebaik baik manusia akhir zaman dan terbebas dari Dajjal.

Allahﷻ mudahkan langkah kaki kita mengikuti jalan para Nabi untuk “beruzlah” demi menyelamatkan diri dan agama serta terhindari dari Dajjal laknatullaah.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Enjoy this blog? Please spread the word :)

Scroll to Top