Pada artikel kali ini kita akan membahas tentang Ringkasan khutbah Jum’at 10 dzulhijjah 1446 H yang ditulis oleh Abu Ukasyah selaku Khotib, bertempat di masjid Al-mahdi tanah uzlah Bukit Lebah Ciater dengan tema Tiga Karakter Muslim Sejati.
Diantara nikmat terbesar yang wajib kita syukuri adalah nikmat Islam dan iman. Rasulullah Shallallahuﷺ mengabarkan kepada kita bahwa Islam dan iman merupakan modal utama seseorang untuk masuk surga. Dalam hadits shahih riwayat Imam Muslim Nabi Muhammadﷺ bersabda:
إنه لا يدخل الجنة إلا نفس مسلمة
“Sesungguhnya tidak akan masuk surga kecuali jiwa yang muslim.”
Dalam riwayat lain disebutkan: “tidak akan masuk surga kecuali jiwa yang mukmin.”
(HR. Bukhari & Muslim)
Menjadi seorang muslim sejati, tidaklah cukup dengan ucapan saja tidaklah cukup dengan klaim semata.
Untuk menjadi muslim sejati, setidaknya seseorang harus memiliki tiga karakter.
Pertama adalah Al yakin.
Yakin, percaya dan mantap akan Allahﷻ, Rasulullahﷺ, dan agama Islam. 3 hal ini merupakan materi utama yang akan ditanyakan oleh malaikat kepada kita di alam barzah nanti. Di antara sekian banyak masalah, hanya 3 ini saja yang akan ditanya oleh malaikat.
Kedudukan al yakin sangat tinggi di sisi Allahﷻ. Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam kitab-nya Madarijus Salikin, Bab Manzilatul Yakin menyebutkan, beberapa ayat tentang kedudukan yakin.
Di antara ayat yang disebut adalah Al-Baqarah ayat 4 dan 5, Beliau menyebutkan bahwa Allahﷻ mengkhususkan, hanya mereka orang-orang yang mencapai derajat al-yaqin yang mendapat petunjuk. Allahﷻ berfirman:
وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ (٤) أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-Baqarah: 4-5)
Sangat jelas dari ayat itu bahwa cara untuk menjaga hidayah adalah dengan memupuk keyakinan. Tanpa itu, seorang muslim bisa goyah. Banyak kisah menjadi pelajaran. Seseorang telah beriman kepada Nabi Muhammad ﷺ, kemudian ikut hijrah ke Madinah bersama beliau. Namun kemudian goyah oleh kuda peliharaannya di Mekkah. Ia kemudian menyalahkan jalan hijrahnya. Ini merupakan musibah.
Begitu juga dengan kita para penolong MUBASYIRAT yg sudah Allahﷻ pilihkan utk uzlah. Ketika Allahﷻ memberikan petunjukNya berupa mimpi-mimpi baik yang di dalamnya terdapat sebuah peringatan, petunjuk dan kabar gembira, maka kita harus yakin dengan keyakinan yang mantap. Tidak boleh goyah dengan perkara-perkara dunia apalagi sampai berbalik ke belakang.
Menurut salah seorang ulama Abu Bakar Al Wara, yakin ada 3 macam:
a. Al Yaqin Al-Akhbar
Yakni meyakini seluruh berita informasi yang Allahﷻ sampaikan kepada Rasulullahﷺ dan risalah yang beliau bawa. Mencakup informasi yang terdapat dalam Al-Quran maupun hadits
Rasulﷺ terkait perkara yang sudah berlalu maupun terkait dengan hal-hal yang belum terjadi. Ini harus di mantapkan dalam diri kita.
b. Al Yakin Ad-Dalalah
Yakni yakin dan percaya kepada setiap bukti dan dalil yang membenarkan berita-berita tersebut. Yakin terhadap Al-Quran, hadits, dan setiap mukjizat Rasulullahﷺ.
c. Yakin Al Musyaahadah
Ini merupakan tingkatan yakin paling tinggi. Hanya tingkatan para wali Allahﷻ dari kalangan para sahabat dan ahli ibadah yang mencapai level tersebut. Al musyaahadah adalah tingkatan keyakinan terhadap hal yang ghaib atau tidak tampak, namun seakan-akan dia melihat dengan mata kepalanya sendiri. Keyakinan yang sempurna seperti Keyakinan para sahabat pernah diungkapkan oleh Amir bin Abdul Qais, bahwa seandainya surga dan neraka ditampakkan, mereka tidak akan bertambah keyakinan. Karena keyakinan mereka sudah sempurna tanpa perlu bukti yang kasat mata.
Kedua, adalah At Tasliim.
Yaitu berserah diri kepada Allahﷻ. Pasrah dan berserah diri kepada Allahﷻ, kepada RasulNya dan agamanya. Allahﷻberfirman:
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ
“Tidak patut bagi seorang mukmin, baik seorang, baik laki-laki maupun perempuan, ketika Allah sudah memutuskan perkara kemudian mereka memiliki pilihan yang lainnya…” (Al-Ahzab: 36).
Itu bukan sifat mukmin sejati. Ketika Allahﷻ dan rasulnya memilih warna putih, seorang muslim yang sejati tidak ada pilihan warna yang lain. Mereka tunduk dan patuh kepada Allahﷻ dan tunduk patuh pada aturannya. Selaras dengan hal ini, Allahﷻ berfirman:
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Maka demi Robbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’: 65)
Ketiga, adalah at tadhiyyah atau rela berkorban.
Yakni rela berkorban di jalan Allahﷻ karena sesungguhnya iman itu menuntut cinta. Sedangkan cinta menuntut pengorbanan. Seperti Iman dan cinta nya Nabi Nuh عَلَیهِ السَّلام, yang menjadikan Nabi Nuh mampu mewakafkan jiwa dan raganya, nafas dan umurnya selama 950 tahun di jalan Allahﷻ.
Dalam satu ayat Allahﷻ mengabarkan ungkapan Nabi Nuh :
قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلا وَنَهَارًا
“Nuh berkata, ‘Ya Robbku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang’.” (Nuh: 5)
Dalam ayat selanjutnya menceritakan, Nuh berdakwah selama itu dan tidak ada yang menyambut. Tetapi ia tidak bosan, lalu pindah pekerjaan. Inilah karakter mukmin yang sempurna. Semoga kita semua memiliki tiga karakter yang telah disebutkan, yakin, berserah, dan rela berkorban.
Bahkan yg di dapati Nabi Nuh عَلَیهِ السَّلام salam dari kaumnya, mereka bukannya sadar menyambut dakwah beliau melainkan mereka lari, menutup telinga dengan jari tangannya dan menutupkan baju ke muka. Mereka benar-benar mengingkari dengan kesombongan.
Semoga Alloh Subhanahu wa Ta’ala
Menganugerahkan kepada kita semua 3 karakter ini sehingga kita menjadi muslim sejati.
Penulis: TantiAZ


