Perpustakaan Eskatologi Majelis GAZA – Seri 10.
DI AKHIR ZAMAN, IKUTI KELOMPOK KECIL, BUKAN KELOMPOK BESAR ATAU TOKOH YANG BANYAK PENGIKUTNYA.
Bismillahirrahmanirrahim.
Rasulullah ﷺ telah menubuatkan secara jelas bahwa kelompok yang benar di akhir zaman adalah kelompok kecil (ghurabā’) — sementara kelompok besar dengan banyak pengikut justru banyak menyesatkan umat.
1. DALIL AL-QUR’AN: KEBENARAN TIDAK DITENTUKAN JUMLAH.
a. QS. Al-An‘ām [6]: 116;
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.
Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta.”
Tafsir Ibn Katsir:
Mayoritas manusia di bumi tidak berdiri di atas ilmu, tetapi pada zhann (prasangka) dan hawa nafsu. Maka kebenaran tidak diukur dengan jumlah pengikut, tetapi dengan kesesuaian terhadap wahyu.
b. QS. Saba’ [34]: 13-14;
“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.”
Menunjukkan bahwa yang benar dan bersyukur (taat kepada Allah) adalah kelompok kecil.
c. QS. Al-‘Āraf [7]: 17;
“Dan engkau (Iblis) akan mendapati kebanyakan mereka tidak bersyukur.”
Setan menargetkan mayoritas manusia. Maka kelompok besar justru lebih mudah digiring ke arah kesesatan massal.
d. QS. Al-Ankabut [29]: 2-3;
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan: ‘Kami beriman’, sedang mereka tidak diuji?
Dan sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka…”
Maka di ujung zaman, kelompok yang bertahan dalam ujian berat (bukan yang banyak) adalah yang benar-benar beriman.
2. HADITS-HADITS SAHIH: KELOMPOK KECIL DI AKHIR ZAMAN.
MAKNA “GHURABĀ’” DALAM BAHASA DAN SYAR‘I :
Al-Ghurabā’ berasal dari kata ghurba yang berarti ; “Terasing, jauh dari kebiasaan umum, sedikit jumlahnya, dan tidak memiliki penolong banyak.” — Lisan al-‘Arab, Ibn Manzhur, 1/693.
Jadi, ghurabā’ adalah mereka yang asing dan sedikit karena tidak sama dengan kebanyakan manusia — baik dalam keyakinan, amalan, maupun orientasi hidup.
Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Maknanya, Islam bermula dengan sedikit pengikut di tengah kekafiran yang meluas, dan di akhir zaman ia kembali seperti itu; hanya sedikit yang memegangnya teguh.” — Syarh Shahih Muslim, Nawawi (2/175)
Ghurabā’ = orang-orang yang tetap memegang Islam saat mayoritas manusia meninggalkannya → kelompok kecil, terasing, dan menyendiri dalam prinsip.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Islam bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali asing sebagaimana ia bermula. Maka berbahagialah orang-orang yang asing (ghurabā’).” — HR. Muslim no. 145.
Sahabat bertanya, “Siapakah al-ghurabā’, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang memperbaiki (agama) ketika manusia telah rusak.” — HR. Ahmad dan Thabrani, shahih menurut Al-Albani.
“Mereka adalah orang-orang yang sedikit jumlahnya di tengah manusia yang banyak.” — HR. Ahmad no. 7073; sanadnya hasan.
Makna & Kesimpulan:
Di akhir zaman, jumlah mereka sedikit, mereka terlihat “aneh” dan ditolak oleh kebanyakan orang, padahal merekalah yang memegang sunnah sejati.
Mereka kelompok kecil di tengah umat yang rusak; berperan memperbaiki, bukan mengikuti arus.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Ghurabā’ itu adalah orang-orang saleh di tengah manusia yang banyak berbuat kejahatan; “mereka yang menentang mereka lebih banyak daripada yang menaati mereka.” — HR. Thabrani & Hakim, disahihkan oleh Al-Albani.
Kata kuncinya:
“Yang memperbaiki di saat manusia rusak.”
Artinya, mereka tidak banyak, tidak ikut sistem yang rusak, bahkan melawan arus — maka wajar jika hidupnya asing dan menyendiri.
3. DALIL QUR’AN: KESEDIKITAN DAN KEASINGAN SEBAGAI TANDA KEIMANAN.
QS. Al-An‘ām [6]: 116; “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.”
Allah menegaskan: kebenaran itu tidak diikuti mayoritas, melainkan segelintir orang yang istiqamah.
QS. Saba’ [34]: 13; “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.”)
Ulama menafsirkan bahwa yang benar-benar taat kepada Allah selalu sedikit jumlahnya.
QS. Al-Waqi‘ah [56]: 13–14;
“Segolongan besar dari umat terdahulu, dan segolongan kecil dari umat yang kemudian.”
Di akhir zaman, golongan yang benar sedikit jumlahnya, sebagaimana tafsir Ibn Abbas dan Mujahid.
4. PENJELASAN ULAMA KLASIK TENTANG GHURABĀ’ = KECIL & MENYENDIRI
Ibn Rajab al-Hanbali – Jāmi‘ al-‘Ulūm wal-Hikam (2/177)
“Al-Ghurabā’ ialah mereka yang berpegang teguh kepada sunnah Rasulullah ﷺ ketika manusia berpaling darinya.
Mereka memperbaiki apa yang telah dirusak manusia.
Karena itu mereka menjadi asing di antara manusia.
Dan sesungguhnya mereka sedikit jumlahnya di setiap zaman.”
Ibn Rajab menegaskan: asing (ghurba) = karena sendiri dalam memegang kebenaran.
Ibn Qayyim al-Jawziyyah – Madarijus Salikin (1/17)
“Mereka adalah orang-orang yang lari dari makhluk untuk menuju Allah.
Mereka meninggalkan kebiasaan manusia, menempuh jalan kesendirian, dan asing di tengah manusia sebagaimana asingnya Islam di tengah zaman fitnah.”
Ibn Qayyim menjelaskan sisi “menyendiri” (uzlah) sebagai ciri ruhani ghurabā’.
Imam Al-Ghazali – Ihya’ Ulumuddin (2/234) :
“Orang yang mencari keselamatan di akhir zaman, hendaklah ia menyendiri dari keramaian, karena manusia telah rusak niat dan amalnya. Maka uzlah (menyendiri) adalah sunnah bagi ghurabā’.”
Al-Ghazali menyebut bahwa uzlah adalah strategi spiritual ghurabā’ di masa rusaknya umat.
As-Suyuthi – Al-Jami‘ Ash-Shaghir :
“Sesungguhnya berbahagialah orang yang menjauhi fitnah,
dan orang yang berpegang teguh di masa kerusakan, walau ia hidup seorang diri.”
5. DALIL SUNNAH TENTANG KEUTAMAAN MENYENDIRI DI AKHIR ZAMAN.
a. Hadits: “Hendaklah engkau beruzlah ketika fitnah”
Rasulullah ﷺ bersabda: “Akan datang masa fitnah di mana orang yang duduk lebih baik dari yang berdiri, yang berdiri lebih baik dari yang berjalan, dan yang berjalan lebih baik dari yang berlari (menuju fitnah).”. Para sahabat bertanya: ‘Apa yang harus kami lakukan?’. Beliau menjawab: ‘Tinggallah di rumahmu, tahanlah lisanmu, ambillah yang kamu kenal dari kebaikan, dan tinggalkan yang mungkar.’ — HR. Bukhari dan Muslim.
Makna hadits:
Ghurabā’ menyelamatkan diri dengan uzlah, menjauh dari hiruk pikuk fitnah dan keramaian yang menyesatkan.
b. Hadits tentang uzlah sejati
Rasulullah ﷺ bersabda: “Akan datang masa di mana sebaik-baik harta seorang muslim adalah kambing yang ia gembalakan di puncak gunung dan lembah, ia lari menyelamatkan agamanya dari fitnah.” — HR. Bukhari no. 19.
Makna:
Ini adalah prototipe ghurabā’ — menyendiri menjaga agama di masa fitnah.
6. KESIMPULAN ILMIAH.
Aspek
Ghurabā’ (Kelompok Kecil & Menyendiri)
Mayoritas Manusia
Jumlah
Sedikit – “qalīlun” (QS Saba’:13)
Banyak – “aktsaruhum” (QS Al-An‘ām:116)
Posisi Sosial
Asing, dianggap aneh
Populer, diterima umum
Ciri Ruhani
Teguh, beruzlah, memperbaiki agama
Mengikuti hawa nafsu, dunia, sistem rusak
Hadits Utama
“Islam bermula asing…” (HR Muslim)
“Jika kamu ikuti kebanyakan orang, kamu akan sesat” (QS Al-An‘am:116)
Strategi Akhir Zaman
Uzlah & istiqamah
Ikut arus & fitnah.
Penutup Hikmah.
“Jamaah itu bukanlah yang banyak, tapi yang sesuai dengan kebenaran walau engkau sendirian.” — Ibnu Mas‘ud (Riwayat Lalikai, Syarh Ushul I‘tiqad Ahlis Sunnah).
“Ghurabā’ itu tidak takut kesendirian, karena mereka bersama Allah ketika manusia bersama dunia.” — Ibn Qayyim, Madarijus Salikin.
a. Hadits “Satu dari Seribu”.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Allah berfirman: Wahai Adam, keluarkan dari keturunanmu delegasi (kelompok) untuk Neraka.”. Adam bertanya, “Berapa jumlahnya, wahai Rabb?”
Allah menjawab, “Dari setiap seribu, sembilan ratus sembilan puluh sembilan ke Neraka, dan satu ke Surga.” — HR. Bukhari dan Muslim
Maknanya:
Kebenaran itu dikuasai oleh segelintir kecil, sementara kebanyakan manusia akan tersesat oleh fitnah Dajjal dan hawa nafsu.
b. Hadits “Thāifah Manshūrah” – Golongan yang Selalu Benar.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Akan senantiasa ada dari umatku sekelompok kecil (ṭāifah) yang menegakkan kebenaran; mereka tidak akan tergoyahkan oleh orang yang menentang mereka hingga datang keputusan Allah.” — HR. Muslim, Tirmidzi, Ahmad.
Kata “ṭāifah” menurut Imam Nawawi:
“Yaitu jamaah kecil dari umat Islam yang tetap memegang kebenaran walau ditinggalkan oleh banyak orang.” (Syarh Muslim, Nawawi, 13/67).
7. PENJELASAN ULAMA KLASIK.
Ibn Katsir (Tafsir Al-An‘ām 116);
“Kebanyakan manusia berpaling dari jalan kebenaran. Maka barangsiapa mengikuti mereka, dia akan tersesat sebagaimana mereka tersesat.”
Imam As-Syathibi (Al-I‘tiṣām);
“Ahlul haq (pembawa kebenaran) biasanya sedikit jumlahnya,
sedangkan ahlul bid‘ah dan pengikut hawa nafsu selalu banyak karena mengikuti kebiasaan dan syahwat.”
Ibn Qayyim (Madarijus Salikin, 1/17);
“Kebenaran dan keistiqamahan selalu sedikit pengikutnya.
Tidaklah engkau melihat banyak orang berjalan menuju Allah dengan benar kecuali segelintir yang diberi taufik.”
Imam Al-Ghazali (Ihya’ ‘Ulumuddin);
“Janganlah engkau tertipu dengan banyaknya pengikut suatu golongan, karena di sisi Allah bukanlah kuantitas yang bernilai, tetapi ketaatan dan keikhlasan.”
8. DALIL TENTANG BANYAKNYA PENGIKUT ADALAH UJIAN DAN FITNAH.
QS. Al-Mā’idah [5]: 49;
“Dan waspadalah terhadap mereka (orang banyak) agar mereka tidak memalingkanmu dari sebagian wahyu yang telah diturunkan kepadamu.”
QS. Al-Muddatsir [74]: 42-47;
Ketika penghuni surga bertanya kepada penghuni neraka, “Apa yang memasukkan kalian ke Saqar (neraka)?” Mereka menjawab: “Kami tidak termasuk orang-orang yang shalat… dan kami mengikuti orang banyak yang sesat.”
Rasulullah ﷺ bersabda: “Akan datang suatu masa, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti memegang bara api.” — HR. Tirmidzi, Hasan Shahih.
Artinya: di saat mayoritas longgar dan kompromi dengan dunia, yang tetap teguh hanyalah segelintir “ghurabā’” yang bersabar menanggung panasnya ujian.
9. KESIMPULAN ILMIAH.
Aspek
Kelompok Kecil (Ghuraba’)
Kelompok Besar (Mayoritas Dunia)
Jumlah
Sedikit, terpencil, istiqamah
Banyak, masif, populer
Kriteria
Berpegang pada Qur’an & Sunnah
Mengikuti hawa nafsu & opini massa
Sikap terhadap fitnah
Teguh, diuji, bersabar
Terbawa arus, ikut sistem
Posisi di akhir zaman
Disisakan oleh Allah sebagai ṭāifah manshūrah
Menjadi pengikut Dajjal dan fitnah dunia
Penutup
“Kebenaran itu tidak diukur dari banyaknya pengikut,
tetapi dari kesesuaiannya dengan wahyu.” — Ibn Mas‘ud.
Dan Ibn Mas‘ud juga berkata: “Jamaah itu bukanlah yang banyak, tapi yang sesuai dengan kebenaran walau engkau sendirian.” (Riwayat Lalikai, Syarh Ushul I‘tiqad Ahlis Sunnah, no. 160)
MAJELIS GAZA
(25 Oktober 2025)




