Nama Al-Mahdi Serupa dengan Nama Rasulullah ﷺ (Bukan Sama Persis)

Mayoritas ulama terjebak spekulasi dan penafsiran bahwa nama Al-Mahdi harus “Muhammad Bin Abdullah”. Padahal tidak ada satupun hadist yang memuat nama itu secara langsung, mari kita jabarkan teks hadist aslinya.

 

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:

لَوْ لَمْ يَبْقَ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا يَوْمٌ، لَطَوَّلَ اللَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ، حَتَّى يَبْعَثَ فِيهِ رَجُلًا مِنِّي أَوْ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي، يُوَاطِئُ اسْمُهُ اسْمِي، وَاسْمُ أَبِيهِ اسْمَ أَبِي، يَمْلَأُ الْأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلًا، كَمَا مُلِئَتْ ظُلْمًا وَجَوْرًا

Dari Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Seandainya tidak tersisa dari dunia ini kecuali satu hari saja, niscaya Allah akan memanjangkan hari itu, hingga Dia mengutus seorang laki-laki dariku atau dari Ahlul Baitku. Namanya serupa dengan namaku, dan nama ayahnya serupa dengan nama ayahku. Ia akan memenuhi bumi dengan keadilan dan kejujuran, sebagaimana sebelumnya bumi dipenuhi dengan kezaliman dan kecurangan.” (HR.Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad, & Al-Hakim)

عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: الْمَهْدِيُّ مِنَّا أَهْلَ الْبَيْتِ، يُوَاطِئُ اسْمُهُ اسْمِي

Dari Ali radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Al-Mahdi berasal dari kami, Ahlul Bait. Namanya serupa dengan namaku.”

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:

يَخْرُجُ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي، يُوَاطِئُ اسْمُهُ اسْمِي،وَخُلُقُهُ خُلُقِي،

 يَمْلَأُ الْأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلًا، كَمَا مُلِئَتْ ظُلْمًا وَجَوْرًا.

Dari Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Akan keluar seorang laki-laki dari keluargaku (Ahlul Baitku), namanya serupa dengan namaku, dan akhlaknya serupa akhlakku, Ia akan memenuhi bumi dengan keadilan dan kejujuran, sebagaimana sebelumnya bumi dipenuhi dengan kezaliman dan kecurangan. (HR.At-Tabrani)

Baca Juga:  Umur Al-Mahdi Ketika Diutus, Muncul, & Dibaiat

Dari hujjah diatas yang ada hanya kata (يُوَاطِئُ), yang bermakna serupa, sama, sesuai. Tapi makna kata (يُوَاطِئُ) harus berhati-hati dalam menafsirkan. Jika kita menganggap artinya harus sama persis tidak kurang & tidak lebih, maka dalam hadist ketiga diatas huruf (وَ) Huruf ‘athaf menghubung ke kata (يُوَاطِئُ), berarti artinya “Akhlaknya sama persis dengan Rasulullah ﷺ”. Ini sangat menyimpang karena ulama sepakat tidak ada seorang pun yang bisa menyamai akhlak Rasulullah ﷺ.

 

1.Qadi ‘Iyad (w. 544 H) – Asy-Syifa’

وَأَمَّا خُلُقُهُ ﷺ فَلَمْ يُؤْتَ أَحَدٌ مِثْلَهُ

Artinya: Adapun akhlak Nabi ﷺ, maka tidak ada seorang pun yang diberi (akhlak) seperti beliau.

2.Ibnu Katsir (w. 774 H)

وَلَا يُمْكِنُ لِبَشَرٍ أَنْ يَبْلُغَ مَا بَلَغَهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فِي الْأَخْلَاقِ

Artinya: Tidak mungkin seorang manusia mencapai apa yang dicapai Rasulullah ﷺ dalam akhlak.

Dengan demikian kata (يُوَاطِئُ ) bisa ditafsirkan bermakna serupa tapi tidak sama persis. Maka pendapat yang mengatakan nama Al-Mahdi harus “Muhammad bin Abdullah” itu sangat bertentangan dengan nash Syar’i dan hujjah yng ada.

 

Fakta & Korelasi Terhadap Nama Muhammd Qasim

Sudah kita ketahui Muhammad Qasim memiliki ayah yang bernama Abdul Karim. Jika kita telitih nama “Qasim” adalah salah satu nama Nabi ﷺ

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:

تَسَمَّوْا بِاسْمِي، وَلَا تَكَنَّوْا بِكُنْيَتِي، فَإِنَّمَا أَنَا قَاسِمٌ أَقْسِمُ بَيْنَكُمْ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

“Berilah nama dengan namaku, tetapi janganlah kalian berkunyah (menggunakan julukanku). Sesungguhnya aku adalah Qasim, yang akan membagi-bagikan (rahmat) di antara kalian.” (HR.Bukhari & Muslim)

Nama “Abdul Karim” terdiri dari kata “Abdul” yang berarti “Hambah” dan “Karim” yang mana itu adalah salah satu nama Allah dalam Asmaul Husna. Bedanya nama “Allah” menunjukkan dzat sedangkan nama “Karim” menunjukan sifat.

Baca Juga:  Menelusuri Sosok Pemuda Bani Tamim Dan Keterkaitannya Dengan Kaidah Kausalitas

 

Kesimpulan:

Nama Al-Mahdi dan Ayahnya tidak sama persis dengan nama Nabi ﷺ dan juga Ayah beliau, yang benar adalah “Serupa tapi tidak sama”

 

Catatan dari penulis:

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ ۖ فَلَمَّا جَاءَهُم بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَٰذَا سِحْرٌ مُّبِينٌ

“Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata, ‘Wahai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad.’ Maka ketika Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, ‘Ini adalah sihir yang nyata.’” (As-Shaff (61): 6)

Imam Ibn Katsir

Menjelaskan ayat ini:

“Ahmad adalah salah satu nama Nabi Muhammad ﷺ. Penyebutan dengan nama ini terdapat dalam kitab-kitab terdahulu, namun ketika beliau datang, banyak dari mereka mengingkarinya karena dengki dan kesombongan.”

Ahlul kitab jaman dahulu menolak Nabi Muhammad ﷺ, hanya karena namanya tidak sesuai sama persis dengan kitab mereka. Penolakan ini hasil dari kesombongan atau ketidakmauan menerima perubahan dalam sistem kepercayaan tafsir mereka

Ingat sifat sejarah itu selalu berulang, jangan sampai ketika Al-Mahdi diutus dan namanya tidak sesuai penafsiran kita, lantas kita langsung mendustakannya tanpa melakukan penelitian terlebih dahulu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Enjoy this blog? Please spread the word :)