Al-Mahdi Akan Ditolak Ulama & Mayoritas Umat, Sifat Sejarah Para Utusan Selalu Berulang

{"remix_data":[],"remix_entry_point":"challenges","source_tags":["local"],"origin":"unknown","total_draw_time":0,"total_draw_actions":0,"layers_used":0,"brushes_used":0,"photos_added":0,"total_editor_actions":{},"tools_used":{},"is_sticker":false,"edited_since_last_sticker_save":false,"containsFTESticker":false}

Pada bab kali ini penulis tidak bermaksud menggiring opini atau menyudutkan pihak tertentu. Akan tetapi, kami hanya menyampaikan hujjah yang termaktub dalam kitab-kitab ulama besar, yang justru sejalan dengan fakta dan keadaan yang terjadi saat ini. Mari kita bedah bersama dan mencoba merenunginya;

Dalam kitab As-Siraj Al-Munir karya Syamsuddin Muhammad bin Ahmad Al-Khaṭib asy-Syarbini (w. 977 H), seorang ulama besar dari madzhab Syafi’i., disebutkan;

 

وقد تواترت الأخبار والآثار بخروج المهدي في آخر الزمان، وأنه إذا ظهر أُنكر أمره أولًا، وكذّبه أكثر الناس، ورُمي بالضلال والكفر، وعاداه الناس أشد العداوة، وسبّوه وشتموه، لما هم عليه من الجهل وفساد الاعتقاد.

 

“Telah mutawatir berbagai khabar dan atsar tentang keluarnya Imam Mahdi di akhir zaman. Dan sesungguhnya ketika beliau pertama kali muncul, perkaranya akan diingkari, kebanyakan manusia akan mendustakannya, beliau akan dituduh sesat dan kafir, manusia akan memusuhinya dengan permusuhan yang sangat keras, mencaci dan memakinya, karena kebodohan dan rusaknya akidah mereka.”

Dalam kitab Al-Fitan karya Nu‘aim bin Ḥammad (w. 228 H) juga disebutkan pernyataan seperti diatas ditambah pernyataan lain seperti;

عن بعض أصحاب النبي ﷺ قال:

إذا خرج المهدي قال الناس: هذا دجّال،

Dari sebagian sahabat Nabi ﷺ, ia berkata:

“Apabila al-Mahdi keluar, manusia akan berkata: “Ini adalah dajjal!”.

إذا قام المهدي أنكَرَهُ الناسُ،

وقالوا: ما هذا إلا دجّالٌ كذّاب.

“Apabila al-Mahdi berdiri (muncul), manusia akan mengingkarinya,

dan mereka berkata: “Ini tidak lain hanyalah dajjal pendusta.”

Dalam kitab Al Isyaah Li Asratisaah karya Sayyid Muḥammad bin Rasul al-Barzanji As-Syafi’i (w. 1103 H), seorang ulama besar dari madzhab Syafi’i, disebutkan;

ونقل الإمام أبو القاسم القشيري رحمه الله:

أن المهدي إذا خرج في آخر الزمان، ونزل عيسى عليه السلام في أيامه،

كان العلماء والفقهاء موجودين،

وأنهم أكبر أعدائه،

لذهاب جاههم بسَبَبِه، وكساد علمهم بظهوره.

Imam Abul Qasim al-Qusyairi رحمه الله menukil bahwa:

“Sesungguhnya apabila Imam Mahdi keluar di akhir zaman, dan Nabi ʿIsa عليه السلام turun pada masa beliau, maka para ulama dan fuqaha tetap ada pada masa itu, dan sungguh mereka adalah musuh-musuh terbesar al-Mahdi, karena hilangnya kewibawaan mereka akibat keberadaannya, dan merosotnya “ilmu” (kedudukan keilmuan mereka) dengan kemunculannya.”

Dalam Kitab al-ʿUrf al-Wardi fi Akhbar al-Mahdi karya Imam Suyuthi  (w. 911 H), salah satu ulama besar dari madzhab Syafi’i,

ويعمل المهدي بالكتاب والسنة، ولا يقلد أحدًا من الأئمة،

ويخالف المذاهب لما يظهر له من الدليل،

ويقضي باجتهاده، فينقض كثيرًا من آراء المجتهدين.

“Imam Mahdi akan beramal dengan Al-Qur’an dan Sunnah, dan tidak bertaklid kepada seorang pun dari para imam, bahkan menyelisihi pendapat-pendapat madzhab sesuai dengan dalil yang tampak baginya, dan beliau memutuskan hukum dengan ijtihadnya sendiri, sehingga membatalkan banyak pendapat para mujtahid.”

Dalam Kitab Al-Futuḥat al-Makkiyyah karya Syaikh Muḥyiddin Ibnu ‘Arabi (w. 638 H) disebutkan;

Baca Juga:  Al-Mahdi Dari Orang Biasa, Bukan Dari Ulama Maupun Ahli Kitab

فَيَخْرُجُ الْمَهْدِيُّ عَلَى قَدَمِ النَّبِيِّ ﷺ، وَلَهُ كَشْفٌ صَحِيحٌ، وَإِلْهَامٌ إِلَهِيٌّ،

وَأَشَدُّ النَّاسِ إِنْكَارًا عَلَيْهِ الْفُقَهَاءُ خُصُوصًا، لِأَنَّهُ يَجِيءُ بِحُكْمٍ يُخَالِفُ مَا عِنْدَهُمْ، فَتَزُولُ رِيَاسَاتُهُمْ، وَتَسْقُطُ مَذَاهِبُهُمْ، وَلَا يَبْقَى مِنْ عِلْمِهِمْ إِلَّا الْقَلِيلُ، وَتَرْتَفِعُ الْخِلَافَاتُ كُلُّهَا، وَإِذَا حَكَمَ الْمَهْدِيُّ بِحُكْمٍ قَالُوا: هَذَا جُنُونٌ

“Maka keluarlah Al-Mahdi mengikuti jejak Nabi ﷺ, dan ia memiliki kasyf yang shahih serta ilham ilahi. Dan manusia yang paling keras dalam mengingkarinya adalah para fuqaha secara khusus, karena ia datang dengan hukum yang menyelisihi apa yang ada pada mereka. Maka hilanglah kedudukan-kedudukan mereka, gugurlah madzhab-madzhab mereka, dan tidak tersisa dari ilmu mereka kecuali sedikit. Seluruh perbedaan pendapat pun hilang. Dan apabila Al-Mahdi menetapkan suatu hukum, mereka akan berkata: ‘Ini adalah kegilaan.’”

Beradasarkan kutipan-kutipan hujjah dari kitab diatas, bisa dipahami bahwa ketika Al-Mahdi muncul untuk menyampaikan risalah petunjuknya akan didustakan oleh mayoritas umat dan bahkan oleh ulama-ulamanya. Al-Mahdi akan mendapatkan berbagai macam hinaan, cacian, dan bahkan dituduh sebagai Dajjal yang pendusta hanya karena menyampaikan petunjuk Tauhidnya.

Bahkan dalam salah satu hujjah diatas dikatakan, yang akan memusuhi paling keras adalah para ahli fuqahah dan ulama madzhab, karena apa yang disampaikan Al-Mahdi tidak sesuai pendapat-pendapat dan tafsir mereka. Para ulama takut kedudukan mereka hilang di khalayak ramai. Dengan kemunculan Al-Mahdi pun akan membatalkan semua hasil ijtihad dan fatwah para ulama, dihilangkan semua perbedaan-perbedaan pendapat golongan yang menyebabkan perpecahan umat.

 

Fakta & Korelasi Terhadap Muhammad Qasim & Mimpinya

Fakta 1:

“Mimpi 2015, Aku pergi ke Ulama, Mufti (ahli Islam) dan pemimpin muslim untuk memberitahu mereka tentang petunjuk mimpiku, Tapi Ulama, Mufti dan para pemimpin tidak percaya padaku dan menganggapku berbohong. Tetapi mereka tidak mengatakan apa-apa kepadaku, dan tidak juga menghentikan atau melarangku untuk mengatakan hal ini kepada orang lain. Mereka mengatakan bahwa biarkan dia melakukan apapun yang dia inginkan, karena dia hanya membuang-buang waktu.

Kemudian Allah Membantuku dan muslim biasa mulai percaya pada kata-kataku, lalu berita ini menyebar ke seluruh dunia. Kemudian, ketika aku menyebarkan cahaya Allah dengan Rahmat-Nya, para Ulama mengatakan: “Aduh! Seharusnya kita adalah orang pertama yang mempercayainya”. (Mimpi Muhammad Qasim;web-pdf)

“Mimpi 2016, Kemudian Orang-orang muslim berkata kepadaku, Qasim “kami adalah saudara-saudaramu dan kami ingin menolongmu.”

Terfikir di dalam hatiku, “Ketika aku memerlukan pertolongan kalian, kebanyakan dari kalian mentertawakanku.” Dan ketika kalian melihat Allah ﷺ menolongku, kalian mula berubah fikiran. Dan sekarang kalian sedang berusaha untuk menunjukkan kepadaku bahwa kalian adalah kaum muslimin yang sejati?

Sebaliknya, kalian adalah orang-orang yang buruk. Allah adalah satu-satunya yang telah memberikan kejayaan kepadaku. Maka apa yang terbaik adalah aku menyandarkan diri kepada-Nya juga di masa depan.” (Mimpi Muhammad Qasim;web-pdf)

Baca Juga:  Pertemuan Muhammad Qasim Dengan Uzma Adalah Perangkap Dajjal

Berdasarkan 2 Mimpi ini menunjukkan bahwa mayoritas umat dan bahkan dari kalangan ulama ahli fuqahah mendustakan petunjuk Muhammad Qasim, menyebut pembohong dan hanya membuang-buang waktu. Tapi ketika melihat Allah ﷺ menurunkan pertolongan kepada Muhammad Qasim maka mereka semua berubah pikiran dan sebaliknya ingin membantu Qasim.

Fakta 2:

Muhammad Qasim mendapatkan berbagai macam hinaan, cacian bahkan dituduh sebagai dajjal hanya karena menyebarkan mimpi petunjuknya tentang Tauhid dan perkara besar akhir zaman. Beberapa ulama besar pun (yang tidak bisa kami sebutkan namanya), langsung menuduh Muhammad Qasim sesat dan langsung menolak petunjuk mimpinya tanpa melakukan tabayyun dan penelitian secara rinci terhadap mimpinya terlebih dahulu.

Kesimpulan:

APAKAH KALIAN PIKIR KETIKA AL-MAHDI MUNCUL, KALIAN AKAN LANGSUNG MENJADI PENGIKUTNYA?

Sehingga kalian lupa bahwa semua utusan Allah akan dianggap pendusta diawal kemunculannya. Nabi Nuh As dianggap gila, Nabi Musa As diburu kerajaan, Nabi Isa As difitnah sebagai anak pezina, Rasulullah ﷺ dianggap gila, bodoh karena tidak bisa baca tulis, penyihir dan munafik karena telah menyebarkan Tauhid. Maka Al-Mahdi pun tak lepas dari sifat sejarah yang berulang ini.

Al-Mahdi akan didustakan pada awal kemunculannya dan para pengikutnya berada dalam jumlah minoritas, karena kebenaran tidak pernah datang dalam keadaan ramai dan diterima mayoritas sejak awal. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah ﷺ bahwa Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali asing, maka beruntunglah orang-orang yang asing. Fakta ini menegaskan pola sejarah yang selalu berulang: setiap pembawa kebenaran diuji dengan penolakan, pengingkaran, bahkan pendustaan, termasuk dari kalangan ahli ilmu dan fuqaha yang terikat oleh paradigma lama. Dengan demikian, keterasingan dan penolakan awal bukan tanda kebatilan, tetapi justru ciri khas jalan para utusan Allah ﷻ.

Catatan dari penulis:

Mengapa dengan Munculnya Al-Mahdi akan membatalkan semua ijtihad & fatwah ulama? Hal ini sudah kami sampaikan pada Bab 11. Al-Mahdi dari orang biasa bukan kalangan ulama maupun ahli kitab, bahwa :

Level Juz’un Minannubuwah (جُزْءٌ مِنَ النُّبُوَّةِ) yang berarti “sebagian dari kenabian”, seperti yang disebut dalam hadis tentang mimpi yang benar (ru’ya ṣaliḥah), dianggap lebih tinggi karena berasal langsung dari wahyu yang merupakan bagian dari cahaya kenabian. Meskipun kecil, ia tetap merupakan bagian dari nubuwah (kenabian).

Sedangkan ulama sebagai pewaris para nabi (العُلَمَاءُ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ) mewarisi ilmu, bukan kenabian itu sendiri. Ilmu yang mereka warisi adalah hasil ijtihad, pemahaman, dan penafsiran terhadap wahyu, bukan bagian dari wahyu itu secara langsung.

Jadi secara singkat: Juz’un Minannubuwah lebih tinggi karena merupakan bagian langsung dari kenabian, sedangkan ulama hanya mewarisi ilmu kenabian bukan kenabian itu sendiri. (Al-Mahdi bukan nabi, tapi hanya mendapatkan petunjuk kenabian yang masih tersisa yaitu Mimpi yang benar/mubasyirat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Enjoy this blog? Please spread the word :)