Kemunculan awal Al-Mahdi tidak diawali oleh pengakuan terbuka atau kekuatan politik, melainkan oleh seruan dari langit yang disampaikan melalui mimpi mubasyirat setelah kenabian terputus. Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa mimpi yang benar merupakan bagian dari sisa kenabian dan akan semakin nyata di akhir zaman. Ketika wahyu kenabian telah berhenti dan manusia tenggelam dalam fitnah serta kebingungan, maka petunjuk ilahi tidak datang dalam bentuk syariat baru, tetapi melalui isyarat yang berulang, konsisten, dan selaras dengan Al-Qur’an dan hadist, yang berfungsi sebagai tanda awal, penguatan, dan pembuka jalan bagi peristiwa besar yang telah dijanjikan.
وَأُخْرِجَ أَيْضًا عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ قَالَ:
تَكُونُ فِرْقَةٌ وَاخْتِلَافٌ حَتَّى يَطْلُعَ كَفٌّ مِنَ السَّمَاءِ،
وَيُنَادِي مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ: أَنْ أَمِيرَكُمْ فُلَانٌ
Diriwayatkan dari Sa‘id bin al-Musayyib, ia berkata:
“Akan terjadi perpecahan dan perselisihan, lalu seorang penyeru menyeru dari langit: ‘Sesungguhnya pemimpin kalian adalah si Fulan.” (Kitab Al-Burhan fi ‘Alamat al-Mahdi Akhir az-Zaman, Kitab Al Fitan Nu’aim Bin Hammad)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
«إِذَا اقْتَرَبَ الزَّمَانُ لَمْ تَكَدْ رُؤْيَا الْمُؤْمِنِ تَكْذِبُ، وَرُؤْيَا الْمُؤْمِنِ جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ، وَمَا كَانَ مِنَ النُّبُوَّةِ فَإِنَّهُ لَا يَكْذِبُ»
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila zaman telah mendekat, maka hampir-hampir mimpi seorang mukmin tidak bohong. Mimpi seorang mukmin adalah satu bagian dari empat puluh enam bagian kenabian, dan apa saja yang berasal dari kenabian itu tidaklah bohong.” (HR.Bukhari & Muslim)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
«إِذَا اقْتَرَبَ الزَّمَانُ لَمْ تَكَدْ رُؤْيَا الْمُؤْمِنِ تَكْذِبُ، وَأَصْدَقُهُمْ رُؤْيَا أَصْدَقُهُمْ حَدِيثًا»
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila waktu (kiamat) telah semakin dekat, maka hampir-hampir mimpi seorang mukmin tidak akan berbohong. Dan orang yang paling benar mimpinya adalah orang yang paling benar (jujur) dalam ucapannya.” (HR.Bukhari & Muslim)
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ:
كَشَفَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ السِّتْرَ، وَرَأْسُهُ مَعْصُوبٌ فِي مَرَضِهِ الَّذِي تُوُفِّيَ فِيهِ،
فَقَالَ:«اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ؟» ثَلَاثًا،
ثُمَّ قَالَ:«إِنَّهُ لَمْ يَبْقَ مِنَ النُّبُوَّةِ إِلَّا الْمُبَشِّرَاتُ».
قَالُوا: وَمَا الْمُبَشِّرَاتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟
قَالَ: «الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ، يَرَاهَا الْمُسْلِمُ أَوْ تُرَى لَهُ»
Dari ‘Aisyah رضي الله عنها, ia berkata:
Rasulullah ﷺ suatu ketika menyingkap tirai, sementara kepala beliau dililit dengan kain karena sakit yang akhirnya menyebabkan beliau wafat. Lalu beliau bersabda: “Ya Allah, bukankah telah aku sampaikan?” (beliau mengucapkannya tiga kali). Kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya tidak tersisa lagi dari kenabian kecuali kabar-kabar gembira.” Para sahabat bertanya: “Apakah kabar-kabar gembira itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Yaitu mimpi yang baik (benar), yang dilihat oleh seorang muslim atau yang diperlihatkan kepadanya.” (HR.Bukhari, Muslim & An-Nasa’i)
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «إِنَّ الرِّسَالَةَ وَالنُّبُوَّةَ قَدِ انْقَطَعَتْ، فَلَا رَسُولَ بَعْدِي وَلَا نَبِيَّ»
قَالَ: فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَى النَّاسِ،
فَقَالَ:«لَكِنِ الْمُبَشِّرَاتُ»
قَالُوا: وَمَا الْمُبَشِّرَاتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟
قَالَ:«رُؤْيَا الْمُسْلِمِ، وَهِيَ جُزْءٌ مِنْ أَجْزَاءِ النُّبُوَّةِ»
Dari Anas bin Malik رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya risalah dan kenabian telah terputus, maka tidak ada rasul dan tidak ada nabi setelahku.” Hal itu terasa berat bagi orang-orang. Lalu beliau bersabda: “Akan tetapi masih ada mubasyirât.” Mereka bertanya: “Apa itu mubasyirât wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Mimpi seorang muslim, dan ia adalah salah satu bagian dari kenabian.” (HR.Tirmidzi & Ahmad)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:«مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ بِي، وَرُؤْيَا الْمُؤْمِنِ جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ»
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa melihatku dalam mimpi, maka sungguh ia telah melihatku, karena setan tidak dapat menyerupai diriku. Dan mimpi seorang mukmin adalah satu bagian dari empat puluh enam bagian kenabian.” (HR.Bukhari & Muslim)
Terdapat puluhan riwayat shahih yang tidak bisa kami cantumkan semuanya, yang secara tegas menjelaskan kedudukan mimpi sebagai petunjuk, peringatan dan kabar gembira di akhir zaman. Rasulullah ﷺ menyatakan bahwa mimpi yang benar berasal dari Allah dan termasuk sisa-sisa kenabian, dan penegasan ini diriwayatkan melalui banyak jalur yang sahih. Ketika dalil-dalil shahih tersebut berbicara secara konsisten, maka meremehkan mimpi sebagai petunjuk bukan sikap ilmiah dan bukan pula sikap yang sejalan dengan sunnah, melainkan penolakan terhadap bagian ajaran yang telah ditetapkan Nabi ﷺ sendiri.
فإنهم يعوضون بالرؤيا الصادقة، التي هي جزء من النبوة الآتية بالبشر والإنذار،
ويؤيد هذا القول حديث أبي هريرة: يقترب الزمان، وينقص…
Ibnu Hajar Al Asqalani berkata :“Maka mereka (umat diakhir zaman) diberi pengganti berupa mimpi yang benar, yang merupakan bagian dari kenabian yang datang sebagai kabar gembira dan peringatan. Dan pendapat ini dikuatkan oleh hadits Abu Hurairah: ‘Zaman akan semakin mendekat dan akan berkurang…” (Kitab Fath al-Bari jilid 12, halaman 406).
إِذَا اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ صَدَقَتْ رُؤْيَا الْمُؤْمِنِينَ، وَقَلَّ الْعِلْمُ بِذَهَابِ أَهْلِهِ، وَكَثُرَتِ الْفِتَنُ وَالْحُرُوبُ، حَتَّى يَتَحَيَّرَ النَّاسُ فِي دِينِهِمْ وَيَصِيرُوا كَأَهْلِ الْفَتْرَةِ، فَيَحْتَاجُونَ إِلَى مَنْ يُجَدِّدُ لَهُمْ دِينَهُمْ وَيَرُدُّهُمْ إِلَى الْحَقِّ
Arti: “Apabila kiamat telah dekat, mimpi orang beriman menjadi benar, ilmu menjadi sedikit dengan hilangnya para ulama, fitnah dan peperangan semakin banyak, hingga manusia bingung dalam agama mereka dan menjadi seperti أهل الفترة. Maka mereka membutuhkan seseorang yang memperbaharui agama mereka dan mengembalikan mereka kepada kebenaran.” (Kitab Al-Isya’ah li Asyrat as-Sa‘ah, Muhammad Bin Rasul Al Barjanzi As-Syafii)
Istilah penamaan Al-Mahdi yang Artinya orang yang diberi petunjuk.
Secara bahasa dan istilah, Al-Mahdi berarti orang yang diberi petunjuk oleh Allah, bukan orang yang mengaku paling benar atau mengklaim dirinya suci. Penamaan ini menunjukkan bahwa Al-Mahdi dibimbing dan diluruskan oleh petunjuk ilahi sesuai kehendak Allah. Karena itu, hakikat Al-Mahdi bukan terletak pada kekuatan, popularitas, atau pengakuan manusia, tetapi pada bimbingan Allah ﷻ yang menuntunnya untuk menegakkan kebenaran di tengah kerusakan dan kesesatan akhir zaman.
Imam Ibn Katsir dalam an-Nihayah fi al-Fitan wa al-Malahim menjelaskan,
وَإِنَّمَا سُمِّيَ الْمَهْدِيَّ لِأَنَّهُ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ.
“Dinamakan al-Mahdi karena ia mendapat petunjuk kepada kebenaran.”
Wahyu telah terputus setelah wafatnya Nabi terakhir Muhammad ﷺ, satu-satunya bentuk “petunjuk ilahi” yang sah pasca masa kenabian adalah Mubasyirat (mimpi benar) sebagai sisa kenabian. Sebutan “al-Mahdi” menegaskan bahwa ia adalah figur yang mendapat petunjuk, dan bentuk petunjuk tersebut terjadi melalui mimpi yang benar, bukan wahyu.
Lantas bagaimana Hukumnya mimpi bertemu Allah ﷻ?
وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ اَنْ يُّكَلِّمَهُ اللّٰهُ اِلَّا وَحْيًا اَوْ مِنْ وَّرَاۤئِ حِجَابٍ اَوْ يُرْسِلَ رَسُوْلًا فَيُوْحِيَ بِاِذْنِهٖ مَا يَشَاۤءُ ۗاِنَّهٗ عَلِيٌّ حَكِيْمٌ
“Dan tidaklah patut bagi seorang manusia bahwa Allah akan berbicara kepadanya kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengutus utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Mahatinggi, Mahabijaksana.” (Asy-Syura Ayat 51)
Pada masa kenabian, Allah ﷻ memberi petunjuk kepada para Nabi dan Rasul melalui tiga cara yang jelas, perantaraan Malaikat Jibril, wahyu langsung tanpa perantara, dan melalui mubasyirat (mimpi yang benar). Setelah kenabian terputus dengan wafatnya Rasulullah ﷺ, dua jalur pertama tertutup secara mutlak, dan yang tersisa bagi umat di akhir zaman hanyalah mubasyirat. Hal ini ditegaskan dalam banyak riwayat shahih, di antaranya sabda Nabi ﷺ bahwa mimpi yang benar merupakan satu dari empat puluh enam bagian kenabian. Ini menunjukkan mimpi mubasyirat adalah sisa mekanisme petunjuk ilahi yang Allah biarkan tetap hidup di tengah umat ketika wahyu tidak lagi turun dan fitnah semakin mendominasi.
Abdul Ghani an-Nabulsi didalam kitab Ta‘tir al-Anam fi Ta‘bir al-Manam menjelaskan,
رؤية الله في المنام حق، ولكنها ليست رؤية الذات، بل رؤية نور أو معنى يدل على الرحمة أو الهيبة
“Melihat Allah dalam mimpi adalah benar, namun bukan melihat zat-Nya, melainkan melihat cahaya atau makna yang menunjukkan rahmat atau keagungan.”
Imam an-Nawawi di Syarh Shahih Muslim – Kitab ar-Ru’ya menjelaskan,
فَإِنْ رَأَى فِي مَنَامِهِ مَا يَظُنُّهُ اللَّهَ، فَإِنْ كَانَ عَلَى صِفَةِ الْمَخْلُوقِ فَلَيْسَ ذَلِكَ اللَّهَ
“Jika seseorang melihat dalam mimpinya sesuatu yang ia sangka Allah, lalu ia memiliki sifat makhluk, maka itu bukan Allah.”
Qadi ‘Iyad Ikmal al-Mu‘lim (Syarah Shahih Muslim) menjelaskan,
رُؤْيَةُ اللَّهِ فِي الْمَنَامِ جَائِزَةٌ عِنْدَ أَهْلِ السُّنَّةِ، لَكِنْ لَا عَلَى صِفَةٍ وَلَا تَشْبِيهٍ
“Melihat Allah dalam mimpi itu boleh menurut Ahlus Sunnah, namun tidak dengan sifat (bentuk fisik) dan tidak dengan penyerupaan.”
عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ: هَلْ رَأَيْتَ رَبَّكَ؟
قَالَ: نُورٌ أَنَّى أَرَاهُ
Dari Abu Dzar رضي الله عنه, ia berkata:
Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ: “Apakah engkau melihat Rabbmu?” Beliau menjawab:“(Yang aku lihat hanyalah) cahaya, bagaimana mungkin aku dapat melihat-Nya?” (HR.Muslim)
حِجَابُهُ النُّورُ، لَوْ كَشَفَهُ لَأَحْرَقَتْ سُبُحَاتُ وَجْهِهِ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرُهُ
“Hijab-Nya adalah cahaya. Seandainya hijab itu dibuka, niscaya keagungan wajah-Nya akan membakar seluruh makhluk sejauh pandangan-Nya.” (HR.Muslim)
Dengan demikian, Para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah menegaskan bahwa mimpi bertemu Allah ﷻ adalah sah dan mungkin terjadi, tidak terbatas hanya pada para nabi, tetapi juga bagi siapa saja yang Allah kehendaki. Namun mereka menetapkan batas yang jelas, apa yang dilihat dalam mimpi tersebut bukanlah bentuk fisik, bukan rupa, dan bukan penyerupaan makhluk, melainkan cahaya. Oleh sebab itu, selama mimpi tersebut tidak mengandung penyerupaan bentuk, arah, atau jasad, maka ia tidak bertentangan dengan aqidah dan tidak boleh ditolak secara mutlak.

