Pembahasan tentang umur dunia dan sisa umur umat Islam tidak lahir dari spekulasi kosong, tetapi dari pengamatan serius terhadap nash syar’i dan realitas sejarah yang berjalan searah dengan gambaran akhir zaman dalam hadist Nabi ﷺ. Rasulullah ﷺ memberi isyarat kuat bahwa umur umat ini relatif singkat dibanding umat terdahulu dan akan memasuki fase akhir yang dipenuhi fitnah, kerusakan, dan penyimpangan Tauhid. Ketika kondisi dunia hari ini menunjukkan dominasi kezaliman, kerusakan akidah, peperangan tanpa henti, serta umat Islam yang tercerai-berai dan kehilangan kepemimpinan yang lurus, maka pembahasan tentang sisa umur umat bukan lagi sekadar wacana teoritis, melainkan refleksi atas kenyataan zaman yang sedang kita jalani saat ini.
عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا اللَّهُ إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ، فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا اللَّهُ إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا، فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا اللَّهُ إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً، فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا اللَّهُ إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ. ثُمَّ سَكَتَ
Dari Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Akan ada masa kenabian di tengah kalian selama Allah ﷻ menghendakinya, kemudian Allah ﷻ mengangkatnya jika Dia menghendaki. Kemudian akan ada khilafah di atas manhaj kenabian, dan itu berlangsung selama Allah ﷻ menghendakinya, lalu Allah ﷻ mengangkatnya jika Dia menghendaki. Kemudian akan ada kerajaan yang menggigit (zalim/otoriter), berlangsung selama Allah ﷻ menghendakinya, lalu Allah ﷻ mengangkatnya jika Dia menghendaki. Kemudian akan ada kekuasaan diktator (jabariyyah), berlangsung selama Allah ﷻ menghendakinya, lalu Allah ﷻ mengangkatnya jika Dia menghendaki. Kemudian akan kembali khilafah di atas manhaj kenabian.” Kemudian beliau ﷺ diam.” (HR. Ahmad no.18430)
Hadist diatas memberikan gambaran runtutan sejarah kepemimpinan umat Islam secara jelas dan terstruktur, dari masa kenabian hingga fase akhir sebelum kembalinya khilafah di atas manhaj kenabian. kondisi umat Islam hari ini menunjukkan dominasi rezim-rezim represif, hukum Allah ﷻ disingkirkan, kezaliman dilegalkan, dan umat berada dalam keadaan lemah serta terpecah, maka secara faktual umat telah berada di penghujung fase jabariyyah sebagaimana digambarkan dalam hadist ini, menandakan bahwa umat sedang berada di ambang fase akhir yang menjadi pengantar bagi perubahan besar yang telah dijanjikan Rasulullah ﷺ.
عن أنس رضي الله عنه قال: قال رسول الله ﷺ:
«عُمُرُ الدُّنْيَا سَبْعَةُ آلَافِ سَنَةٍ، وَأَنَا فِي الآخِرَةِ»
وقال الطبراني في الكبير: حدثنا أحمد بن النضر العسكري وجعفر بن محمد السرياني قالا: حدثنا الوليد بن عبد الملك بن مسرح الحرازي حدثنا سليمان بن عطاء القرشي عن سليمان بن عبد الله الجني عن عمر بن أبي شعبة بن ربيعة الجني عن الضحاك بن مزاحم الجني قال:
**رأيتُ رؤيا قصصتها على رسول الله ﷺ، فذكرتُ الحديث، وفيه: «إذا أنا بك يا رسول الله على منبر فيه سبع درجات، وأنت في أعلاها درجة»، فقال رسول الله ﷺ:
«أمَّا المنبر الذي رأيتَ فيه سبع درجات، وأنا في أعلاها درجة، فالدنيا سبعة آلاف سنة، وأنا في آخرها»
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
“Umur dunia adalah tujuh ribu tahun, dan aku berada pada yang terakhirnya.”
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa seseorang menceritakan mimpi kepada Rasulullah ﷺ, bahwa ia melihat Nabi berada di atas mimbar yang memiliki tujuh anak tangga, dan Nabi berada di anak tangga paling atas.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
“Adapun mimbar yang engkau lihat memiliki tujuh anak tangga dan aku berada di atasnya, maka itu menandakan bahwa umur dunia adalah tujuh ribu tahun, dan aku berada di akhir masanya.” (HR.At Tabrani dll, dalam kitab Al Hawi lil Fatawi, Imam Suyuti hal. 88)
ذَكَرَ مَا وَرَدَ أَنَّ مُدَّةَ الدُّنْيَا سَبْعَةُ آلَافِ سَنَةٍ
وَأَنَّ النَّبِيَّ ﷺ بُعِثَ فِي أَوَاخِرِ الأَلْفِ السَّادِسَةِ
“(Bab ini) menyebutkan riwayat-riwayat yang menyatakan bahwa masa (umur) dunia adalah tujuh ribu tahun, dan bahwa Nabi ﷺ diutus pada akhir-akhir seribu tahun yang keenam.”
Imam As-Suyuthi menegaskan,
لاَ يَمْكِنُ أَنْ تَكُوْنَ المُدَّةُ أَلْفاً وَخَمْسَمِائَةٍ أَصْلاً
“Tidak mungkin umur umat Islam lebih dari 1.500 tahun.”
مَثَلُكُمْ وَمَثَلُ أَهْلِ الْكِتَابَيْنِ كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَأْجَرَ أُجَرَاءَ فَقَالَ مَنْ يَعْمَلُ لِى مِنْ غُدْوَةَ إِلَى نِصْفِ النَّهَارِ عَلَى قِيرَاطٍ فَعَمِلَتِ الْيَهُودُ ، ثُمَّ قَالَ مَنْ يَعْمَلُ لِى مِنْ نِصْفِ النَّهَارِ إِلَى صَلاَةِ الْعَصْرِ عَلَى قِيرَاطٍ فَعَمِلَتِ النَّصَارَى ثُمَّ ، قَالَ مَنْ يَعْمَلُ لِى مِنَ الْعَصْرِ إِلَى أَنْ تَغِيبَ الشَّمْسُ عَلَى قِيرَاطَيْنِ فَأَنْتُمْ هُمْ ، فَغَضِبَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى ، فَقَالُوا مَا لَنَا أَكْثَرَ عَمَلاً ، وَأَقَلَّ عَطَاءً قَالَ هَلْ نَقَصْتُكُمْ مِنْ حَقِّكُمْ قَالُوا لاَ . قَالَ فَذَلِكَ فَضْلِى أُوتِيهِ مَنْ أَشَاءُ
“Permisalan kalian dengan ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) seperti permisalan seseorang yang diberi upah. Ditanya, “Siapa yang mau bekerja dari pagi hingga pertengahan siang (waktu zawal atau waktu Zhuhur, pen.) lalu mendapat upah satu qirath?” Lalu yang bekerja ketika itu adalah orang Yahudi. Kemudian ditanya lagi, “Siapa yang mau bekerja dari pertengahan siang hingga waktu ‘Ashar dengan mendapat upah satu qirath?” Lantas yang bekerja adalah Nashrani. Lalu ditanya lagi, “Siapa yang mau bekerja dari ‘Ashar hingga matahari tenggelam, upahnya dua qirath?” Itulah kalian umat Islam. Yahudi dan Nashrani lantas marah. Mereka katakan, “Kami lebih banyak bekerja, namun kenapa kami diberi sedikit?” Dijawab, “Apakah upah kalian dikurangi?” Mereka jawab, “Tidak.” Lalu dijawab, “Itulah keutamaanku dan keutamaan yang diberi pada siapa saja yang dikehendaki oleh Allah ﷻ.”(HR.Bukhari)
Imam Ibnu Hajar, dalam syarahnya yang berjudul Fathul Baari (jilid 4 hal 566 cet. Daarul Kutub Al–Ilmiyyah), Ibnu Hajar mengatakan sebagai berikut yang artinya:
“Hadits ini dijadikan dalil bahwa eksistensi umat ini mencapai lebih dari seribu tahun, sebab konsekuensi dari hadits ini ialah bahwa eksistensi Yahudi setara dengan gabungan eksistensi (umur) Nasrani dan muslimin. Sedangkan ahli sejarah telah sepakat bahwa tenggang waktu yang dilalui umat Yahudi hingga diutusnya Nabi adalah lebih dari 2000 tahun, sedangkan tempo yang dilalui Nasrani hingga diutusnya Nabi adalah 600 tahun, dan ada pula yang mengatakan kurang dari itu, sehingga tempo yang akan dilalui kaum muslimin pasti lebih dari seribu tahun.”
Ibnu Hajar juga mengatakan sebelumnya sebagai berikut: “Hadist ini juga mengandung isyarat akan singkatnya umur dunia yang tersisa. Jadi, kalkulasi umur umat Islam sama dengan umur Yahudi dikurangi umur Nasrani, alias 2000 lebih sedikit dikurangi 600 tahun, yakni 1400 tahun lebih sedikit.”
Dari kedua pendapat inilah dapat disimpulkan bahwa umur umat Islam berkisar 1400 tahun lebih ¾ sekian (bisa 1476/1477/1478), tidak bisa dipastikan angka pastinya karena Allah ﷻ lebih mengetahui. Sedangkan kita saat ini berada pada tahun 1447 H. Sebagaimana dimaklumi, bila ditambahkan 13 tahun (periode prahijrah sejak masa kenabian Rasulullah ﷺ), berarti umur umat Islam saat ini adalah 1460 tahun.
Artinya, kita sudah berada diujung fase akhirzaman, hanya tersisa kurang dari 20 tahun, berbagai perkara besar akan kita lalui yaitu Dukhon, Malhmah Kubro, Kemunculan Dajjal, Nabi Isa AS, ya’juj-Ma’juj dll
APAKAH SAAT INI WAKTUNYA MUJADDID TERAKHIR MUNCUL?
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فِيمَا أَعْلَمُ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
«إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا»
Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah akan mengutus untuk umat ini pada setiap penghujung seratus tahun seseorang yang memperbaharui (memperbaiki/menghidupkan kembali) agama mereka.” (HR.Abu Dawud)
Seperti yang kita tahu, keruntuhan kekhalifahan Turki Utsmani pada tahun 1924 adalah isyarat Sejarah bahwa zaman memasuki Mulkan Jabariyah (Pemerintahan Diktator) dimana banyak lahir negara-negara nasional yang dipimpin oleh penguasa zalim berbasis pemerintahan. Di fase keempat ini, umat Islam tidak bersatu di bawah satu kepemimpinan global yang kuat, melainkan terpecah-pecah ke dalam batas wilayah atau negara yang berbeda.
Banyak kalangan memandang bahwa genap 100 tahun setelah runtuhnya kekhalifahan yakni pada tahun 2024, merupakan fase penting yang berkaitan dengan munculnya Mujaddid Akhir zaman yaitu Al-Mahdi.
Dalam kitab ‘Aunul Ma‘būd Syarḥ Sunan Abī Dāwūd, ketika menjelaskan hadits mujaddid:
Beliau menjelaskan bahwa tajdid bukan membuat agama baru, tetapi:
إحياء ما اندرس من العمل بالكتاب والسنة
“Menghidupkan kembali ajaran yang telah hilang/ditinggalkan dari pengamalan Al-Qur’an dan Sunnah.”
Maknanya mujaddid adalah orang yang:
- mengembalikan umat kepada kemurnian Islam,
- memurnikan agama dari penyimpangan, bid‘ah, dan kesyirikan,
- menghidupkan sunnah yang mulai ditinggalkan,
- serta menyebarkan ilmu yang benar.
(Catatan: Umur umat Islam tidak identik dengan waktu kiamat; kiamat tetap rahasia Allah ﷻ dan tidak ditentukan dengan angka. Umat islam juga tidak akan pernah mengalami kiamat karena pencabutan nyawa serempak bagi yang masih memiliki iman walaupun hanya sebesar sebiji sawi, sesuai Hadist Riwayat Muslim no.2940, Kitab al-Fitan wa Asyrath as-Sa‘ah)

