Pilih Menjadi Mukmin atau Kufur?

Artikel ini berusaha untuk menyadarkan diri kita sendiri dalam memilih apakah kita Pilih Menjadi Mukmin atau Kufur? sehingga kita patut mendapatkan pertolongan Allahﷻ. Karena semakin hari semakin berasa bencana terus-menerus datang sementara sebagian besar manusia masih mengabaikan keberadaan Al Mahdi yang sebenarnya sudah di utus saat ini. Banyak yang tidak menyadari bahwa Muhammad Qasim adalah Imam akhir zaman yang di tunggu-tunggu selama ini. Walaupun majelis Gaza telah banyak memberikan peringatan kepada seluruh umat tentang hal itu, tapi hanya sedikit yang mempercayai kebenaran tersebut.

APAKAH SETIAP ORANG ISLAM PASTI BERIMAN?

Dalam Islam, seseorang yang beragama Islam adalah orang yang telah memenuhi beberapa syarat dan kriteria tertentu. Berikut beberapa syarat dan kriteria yang menentukan seseorang beragama Islam. Berikut adalah syarat-syaratnya:

1. Mengucapkan dua kalimat syahadat: Seseorang harus mengucapkan dua kalimat syahadat, yaitu “La ilaha illallah” (tidak ada Tuhan selain Allah) dan “Muhammadur rasulullah” (Muhammad adalah utusan Allah).
2. Menerima dan mengamalkan ajaran Islam: Seseorang harus menerima dan mengamalkan ajaran Islam, termasuk mengikuti rukun Islam dan rukun iman.
3. Mengakui dan menghormati Nabi Muhammadﷺ: Seseorang harus mengakui dan menghormati Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah dan pembawa ajaran Islam.

Seseorang harus memiliki iman yang kuat dan keyakinan yang mendalam terhadap Allahﷻ, rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, malaikat-Nya, hari akhir, dan qada serta qadar-Nya., mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Mengakui serta menghormati umat Islam sebagai saudara dan sahabat dalam agama.

Dalam Al-Quran, disebutkan bahwa iman adalah pilihan yang harus dibuat oleh setiap individu. Allahﷻ berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 256:

“Tidak ada paksaan dalam agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Karena itu, barangsiapa yang ingkar kepada thaghut (sesembahan selain Allahﷻ) dan beriman kepada Allahﷻ, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allahﷻ Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”

Dalam ayat tersebut, menjelaskan bahwa iman adalah pilihan yang harus dibuat oleh setiap individu, dan tidak ada paksaan dalam agama Islam.

Oleh karena karena itu setiap muslim belum tentu mukmin dan seorang mukmin sudah pasti muslim. Karena menjadi mukmin adalah pilihan. Dan menjadi mukmin juga bukan perkara yang mudah. Banyak ujian dan cobaan untuk bisa dikatakan sebagai mukmin yaitu orang Islam yang beriman kepada Allahﷻ dan Rasulullahﷺ, dengan segenap hati dan keyakinan serta mampu mencintai Allahﷻ dan Rasulullahﷺ di atas segalanya.

Allahﷻ berfirman:

وَا لَّذِيْنَ سَعَوْا فِيْۤ اٰيٰتِنَا مُعٰجِزِيْنَ اُولٰٓئِكَ اَصْحٰبُ الْجَحِيْمِ
“Tetapi orang-orang yang berusaha menentang ayat-ayat Kami dengan maksud melemahkan (kemauan untuk beriman), mereka itu adalah penghuni-penghuni Neraka Jahim.”
(QS. Al-Hajj 22: Ayat 51)
Dalam Islam, iman memiliki arti yang sangat penting dan mendalam. Secara bahasa, iman berasal dari kata “amana” yang berarti percaya atau yakin. Dalam konteks agama, iman berarti kepercayaan yang kuat dan keyakinan yang mendalam terhadap Allah, rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, malaikat-Nya, hari akhir, dan qada serta qadar-Nya ¹.

Dalam Al-Quran, iman disebutkan dalam beberapa surat, seperti Surat Al-Baqarah ayat 4 dan Surat Al-An’am ayat 75. Dalam Surat Al-Baqarah ayat 4, disebutkan bahwa orang-orang yang beriman adalah mereka yang percaya pada apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammadﷺ dan apa yang diturunkan sebelumnya, serta percaya pada hari akhir.

Iman juga memiliki beberapa tingkatan, yaitu:

– Iman Taqlid: iman yang didasarkan pada ucapan orang lain, tanpa memahami dalilnya.
– Iman Ilmu: iman yang dimiliki seseorang ketika ia mengkaji syariat agama Islam.
– Iman Iyana: iman yang dimiliki seseorang ketika ia meyakini bahwa Allah adalah zat yang nyata.
– Iman Haq: iman yang dimiliki seseorang ketika ia memiliki pandangan bahwa Allah selalu ada dalam hatinya.
– Iman Hakikat: iman yang dimiliki seseorang ketika ia hanya melakukan segala hal yang mendekatkan dirinya pada Allah.

Baca Juga:  Allahﷻ Berfirman dalam Mimpi Muhammad Qasim

Selain itu, iman juga memiliki enam rukun, yaitu:

– Iman kepada Allahﷻ: percaya bahwa Allahﷻ adalah Tuhan Yang Maha Esa.
– Iman kepada malaikat Allahﷻ: percaya bahwa malaikat adalah makhluk ciptaan Allah.
– Iman kepada kitab-kitab Allah: percaya bahwa kitab-kitab seperti Al-Quran, Taurat, Injil, dan Zabur adalah kitab-kitab suci yang diturunkan oleh Allahﷻ.
– Iman kepada rasul-rasul Allah: percaya bahwa rasul-rasul seperti Nabi Muhammadﷺ adalah utusan Allahﷻ.
– Iman kepada hari akhir: percaya bahwa hari akhir akan datang dan manusia akan dibangkitkan dari kubur untuk dimintai pertanggungjawaban.
– Iman kepada qada dan qadar: percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah ketetapan Allahﷻ.

Untuk bisa menggapai petunjuk Allahﷻ maka iman kita harus sampai pada tahap iman yang hakiki, iman yang dimiliki seseorang ketika ia hanya melakukan segala hal yang mendekatkan dirinya pada Allahﷻ. Itulah keimanan yang benar jauh dari kesyirikan.

Petunjuk Allahﷻ diakhir zaman adalah mubasyirat yang setara dengan 1/46 kenabian, itu tertulis dalam hadits shahih, jelas, berdalil. Dan mentakwilkan mubasyirat bukanlah tathoyur, karena mimpi tanpa ditakwilkan tidak akan dimengerti dan tidak akan terjadi, coba lihat bagaimana cerita nabi Yusuf عَلَیهِ‌ السَّلام, Bukankah mentakwilkan mimpi orang yang dipenjara bersamanya, juga mentakwilkan mimpi raja.

Jadi jika hendak bicara dan menolak jangan menduga duga karena semua harus berdasarkan Qur’an dan hadits, bukan praduga dan dugaan karena pikiran sendiri. Bukankah beriman itu menerima samina waatona pada semua ketetapan Allahﷻ?

Kebanyakan orang saat ini masih dihalangi hati nuraninya antara ego dan sombong karena tidak bisa menerima kebenaran, itu karena masih ada syirik berupa taklid buta dari ashabiyah bahwa golonganya yang paling benar, dakwah harokahnya yang paling benar, sehingga sulit mendengarkan kebenaran dari semua golongan.

Hilangkan dan bersihkan hati karena Allahﷻ, serta melakukan segala sesuatu karena Allahﷻ saja. Tidak memendam amarah dan dengki dengan seseorang, yang selalu memperingatkan urusan akhir zaman dan Al Mahdi adalah Muhammad Qasim. memprioritaskan km urusan akhirat dan mengesampingkan urusan dunia.

Lihatlah esensi kebenaran dengan nurani yang sudah Allahﷻ berikan, kesampingkan semua Ego dan tetapkan tujuan beribadah seperti zaman Rasulullahﷺ, (yang murni, tanpa ada Mazhab dan golongan seperti saat ini) seperti yang ada QS 23 (Al Mukminun) 52-56:
“Sesungguhnya agama tauhid inilah agama kamu agama yang satu dan Akulah tuhanmu maka bertakwalah kepadaku

Lalu mereka para pengikut Rasul terpecah belah dalam urusan agamanya menjadi beberapa golongan, setiap golongan bangga dengan apa yang ada pada mereka masing-masing

Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai waktu yang ditentukan. Apakah mereka mengira bahwa apa yang kami berikan kepada mereka berupa harta dan anak-anak

Itu berarti bahwa kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidaklah demikian tetapi mereka tidak menyadarinya.”

Hal ini akan makan waktu lama, karena harus berani menelanjangi diri dari semua kesalahan dan egois. Bahwa Islam adalah 1 bukan terbagi-bagi menjadi golongan. Dan hanya kepada Allahﷻ hukum itu diikuti. Maka akan lepas buhul ashobiyah yang membutakan mata hati dan segera keluar dari jamaah golongan dan harokah untuk mengembalikan pada hakikat islam yang murni seperti zaman Rasulullahﷺ terdahulu serta tidak menyekutukan Allahﷻ dengan apapun.

Baca Juga:  Zoom Meeting SMQ dengan Media dan Wartawan

Rahasia dari semua ini adalah kejujuran dalam beragama, apakah kita lebih mengikuti apa kata Allahﷻ atau kata ustadz/ qiyadah?

Majelis GAZA telah berkali-kali membagikan petunjuk tersebut ke khalayak umum. Pilihan ada di tangan masing-masing orang, seperti QS 32 (as sajdah) ayat 2:
“Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya kemudian dia berpaling darinya Sesungguhnya kamu akan memberikan balasan kepada para pendosa.
Atau mau surganya..

berpaling berarti kufur karena telah ingkar dengan ayat Allahﷻ, atau Ikuti perintah dan petunjuk Allahﷻ maka akan selamat.

Tetapi jika tetap dengan pendapat pribadi dan mayoritas ulama yang menentang mubasyirat dan meragukan Muhammad Qosim adalah Al Mahdi, maka semua perbuatan kita akan sia sia seperti terdapat dalam dalam QS 18 ( Al Kahfi) 103-104:
“Katakanlah Nabi Muhammad Apakah perlu kami beritahukan orang-orang yang paling rugi perbuatannya kepadamu yaitu orang-orang yang sia-sia usahanya dalam kehidupan dunia sedangkan mereka mengira bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya”.

Dan kesimpulan artikel ini terdapat pada QS 22 (Al Hajj) ayat 69:
“Allah akan memutuskan di antara kamu pada hari kiamat apa yang selalu kamu perselisihkan”.

Tanda orang kufur 22 (Al Hajj) 71-72:
1. Menyembah selain Allahﷻ
2. Apabila ayat-ayat kami yang terang dibacakan di hadapan mereka engkau akan mengetahui tanda-tanda keingkaran pada wajah orang-orang yang kufur itu mereka hampir menyerang orang-orang yang membacakan ayat-ayat kami kepada mereka.

QS 67 (Al Mulk) ayat 29:

“katakanlah, (Muhammad) Dialah Maha pengasih, kami beriman kepadaNya dan hanya kepadaNya kami bertawakal kelak kamu akan tahu siapa yang berada dalam kesesatan yang nyata”.

Hadits :
HR Ahmad nomor 6462
Dari Abdullah bin Amr رَضِی اَللهُ عَنْه berkata:
“Bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabiﷺ, saya berkata wahai Rasulullah, Apakah amalan surga itu? beliau menjawab: kebenaran kejujuran. karena jika seseorang hamba berlaku benar ia akan berbakti, apabila berbakti dia akan beriman, apabila beriman dia akan masuk surga”.

Hadits tentang jujur dan dusta
HR muslim nomor 4721 dari Abdullah radhiallahuan dia mengatakan,
“Rasulullahﷺ bersabda; hendaklah kamu selalu berlaku jujur karena berlaku jujur membimbing kepada kebajikan, dan kebajikan membawa ke surga. seseorang yang senantiasa berlaku jujur dan berusaha mempertahankan kejujuran maka dia dicatat sebagai orang yang jujur? hindarilah oleh mendusta, karena sesungguhnya dusta itu membimbing kepada kejahatan, dan kejahatan membawa ke neraka. seseorang yang senantiasa berdusta dan mempertahankan kedustaan, maka dia dicatat oleh Allahﷻ sebagai seorang pendusta”.

Hedonisme, jabatan , pengaruh sosial, anak keturunan adalah istidroj, yang tidak disadari. Terlihat senang tapi sesungguhnya menderita batin. Karena menyepelekan dan mengabaikan petunjuk Allahﷻ yang sudah di depan mata, justru tertipu mengambil jalan lain yang berliku.

Majelis GAZA mengajak semua umat menyelamatkan diri dengan cara beruzlah, mengikuti hadits yang di sampaikan Nabi Muhammadﷺ ketika menghadapi akhir zaman. Bermuamalah dengan Allahﷻ jauh lebih baik dibandingkan mengikuti kesenangan dunia yang sifatnya hanya tipuan. Ketika memutuskan berjual beli dengan Allahﷻ hilang semua rasa takut miskin dan tidak akan kekurangan, karena Allahﷻ Maha mencukupi dan berjanji senantiasa melindungi dan menolong hambanya yang mencintaiNya lebih dari apapun yang ia miliki.

Selain itu kita telah mengamalkan Sunnah yang sangat berat dilakukan umat akhir zaman. Hanya orang terpilih yang mampu mengambil keputusan tersebut. Barang siapa memperjuangkan agama Allahﷻ, Allahﷻ akan memperjuangkannya.

Waalahu a’lam bisshawab.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Enjoy this blog? Please spread the word :)

Scroll to Top