Dalam mimpi Muhammad Qasim, khususnya yang terjadi pada 9 Februari 2018 terdapat simbol yang sangat selaras dengan gambaran Nabi ﷺ tentang fitnah Dajjal.
Dalam mimpinya, ia menemukan emas, batu permata, dan logam mulia di dalam tanah. Dalam takwil rohani, emas dan permata bukan sekadar harta, tetapi simbol ilmu laduni, hikmah ilahiah, dan rahasia tauhid yang tertanam di bumi dan tersembunyi dari pandangan manusia.
Tanah melambangkan dunia batin, sementara emas melambangkan hikmah rabbaniah. Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki, dan fondasinya adalah tauhid murni.
Mesin: Metafora Peradaban Islam Hidup
Dalam mimpi itu, emas dan logam mulia hendak dicairkan untuk membuat mesin. Mesin di sini bukan teknologi biasa, tetapi metafora dari proyek peradaban Islam—sistem kehidupan yang hidup, bukan sekadar ide mati.
Mesin melambangkan mekanisme kebangkitan Islam akhir zaman:
-
sistem tauhid,
-
sistem ekonomi bersih dari riba,
-
sistem ilmu dan kekuasaan yang bebas dari dajalisme.
Mimpi—sebagaimana disebutkan Nabi ﷺ—adalah bagian kecil dari wahyu, bukan wahyu syariat, tetapi petunjuk dan isyarat.
Gedung Pasukan Satanik: Dunia yang Tak Bisa Kita Tinggalkan
Namun dalam mimpi itu juga digambarkan sebuah gedung yang berada di bawah kendali pasukan satanik. Ini adalah simbol yang sangat jelas: sistem dunia global modern.
Gedung itu menggambarkan peradaban Dajjal yang:
-
menguasai teknologi,
-
mengontrol ekonomi,
-
membentuk pola pikir manusia.
Yang menarik, dalam mimpi tersebut tidak ada pilihan untuk keluar dari gedung itu. Inilah realitas kita hari ini. Kita hidup di dalam sistem Dajjal, dan hampir mustahil keluar sepenuhnya.
Rasulullah ﷺ bahkan menegaskan bahwa orang beriman tidak akan sanggup melawan fitnah Dajjal secara frontal.
Satu Jalan: Uzlah (Mengasingkan Diri)
Karena itu, Nabi ﷺ memberikan satu solusi utama: uzlah—mengasingkan diri, menjauh dari pusat fitnah.
Uzlah bukan berarti lari dari tanggung jawab, tetapi meminimalkan keterlibatan dalam sistem yang rusak:
- memutus syirik,
- memperkuat ikatan jamaah,
- menghidupkan sunnah dalam kehidupan sehari-hari.
Pernyataan tegas Imam al-Ghazali :
“Pada zaman kerusakan, bergaul menjadi racun bagi agama, dan uzlah menjadi obat.”
Beliau menyebutkan :
– Jika maksiat merajalela, Amar ma‘ruf tidak diterima.
– Saat Fitnah syubhat & syahwat mendominasi.
Maka:
“Uzlah saat itu lebih selamat bagi agama.”
Bahkan Al-Ghazali menyebut : Uzlah bisa menjadi wajib jika bergaul pasti merusak iman.
Lapisan Sistem Dajjal
1. Lapisan Ideologis: Kebenaran Jadi Opini
Sistem Dajjal mengubah kebenaran wahyu menjadi opini, dan opini menjadi kebenaran. Hadis tentang ujlah, Al-Mahdi, dan akhir zaman dipelintir menjadi bahan ejekan dan dianggap ekstrem.
2. Lapisan Ekonomi: Perbudakan Finansial
Riba, pajak berlapis, inflasi, dan sistem utang menjadikan manusia budak tak kasat mata. Rasulullah ﷺ telah menubuatkan zaman ketika manusia tidak lagi peduli dari mana hartanya berasal.
3. Lapisan Teknologi: Kontrol dan Pengawasan
Teknologi menciptakan ilusi “melihat dan mengetahui segalanya”—simbol mata satu Dajjal. Data manusia dipantau, gerak-gerik dikendalikan.
4. Lapisan Politik dan Hukum
Hukum Allah tersingkir, digantikan hukum buatan manusia. Akibatnya, manusia kaya materi tetapi kering ruhani, kehilangan basirah.
Hikmah: Karamah Akhir Zaman yang Sejati
Di akhir zaman, karamah terbesar bukanlah bisa terbang, menggandakan benda, atau keajaiban visual. Karamah sejati adalah hikmah—kemampuan melihat kebenaran, selamat dari syirik, dan memahami jalan keselamatan.
Hikmah itulah yang disebut dalam Al-Baqarah ayat 269:
“Barangsiapa diberi hikmah, sungguh ia telah diberi kebaikan yang banyak.”
Penutup: Siapa yang Real di Mata Allah?
Sistem Dajjal menjadikan dunia tampak indah, padahal ia hanyalah fatamorgana. Yang sederhana dianggap aneh, yang zuhud dianggap gagal, sementara yang pamer dianggap sukses.
Padahal yang real adalah sebagaimana kehidupan para nabi. Menjadikan tujuan hidup adalah akhirat.
Maka tugas kita hari ini bukan melawan arus dengan gagah berani, tetapi menyelamatkan iman dengan kesadaran, menjauh sejauh mungkin dari dajalisme, dan bersiap dengan ujlah yang terukur.
Karena dahsyat dan globalnya fitnah dajjal ini bukan untuk dikalahkan, tetapi untuk dihindari.



