Mayoritas umat terutama dari kalangan ulama & para ahli fuqahah jaman kini mengira, berharap serta memiliki paradigma bahwa Al-Mahdi yang muncul itu harus sosok yang agamis, ahli alquran, ahli hadist, serta orang yang religius. Padahal pandangan pendapat itu sangat menyimpang jika dibandingkan dengan banyak hadist, hujjah syar’i & sifat sejarah para utusan terdahulu.
اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ ۚوَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
“Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Al-Qasash :56)
Dalam ayat ini dijelaskan, Allah ﷻ memberi petunjuk kepada orang yang dia kehendaki, yang artinya tidak menutup kemungkinan bahwa seorang yang fasik, pendosa maupun yang kita anggap remeh akan mendapat petunjuk dari Allah karena Allah lebih mengetahui orang yang mau menerima petunjuk.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه،
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ:«إِنَّ اللَّهَ لَيُؤَيِّدُ هَذَا الدِّينَ بِالرَّجُلِ الْفَاجِرِ»
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah benar-benar akan menguatkan (menolong) agama ini dengan seorang lelaki yang fajir (pendosa).” (HR.Bukhari & Muslim)
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:«الْمَهْدِيُّ مِنَّا أَهْلَ الْبَيْتِ، يُصْلِحُهُ اللَّهُ فِي لَيْلَةٍ»
Abdullah bin Mas‘ūd رضي الله عنه berkata, Rasulullah ﷺ bersabda: “Al-Mahdi itu dari kami Ahlul Bait, Allah akan memperbaikinya dalam satu malam.” (HR.Ibnu Majah)
Dari dua hujjah diatas bisa dipahami bahwa Al-Mahdi adalah orang biasa yang cenderung seorang pendosa, maka dari itu dia membutuhkan islah atau diperbaiki dalam satu malam Sebelum menjadi pemimpin umat. Banyak ulama klasik yang menafsir demikian, seperti contoh:
1.Imam al-Munawi (w. 1031 H) dalam kitab Fayḍ al-Qadir
أَيْ يُوَفِّقُهُ اللَّهُ تَعَالَى فِي لَيْلَةٍ لِلتَّوْبَةِ، وَيَغْفِرُ لَهُ مَا سَلَفَ مِنْ ذُنُوبِهِ
“Artinya: Allah Ta‘ala memberi taufik kepadanya dalam satu malam untuk bertaubat, dan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
2.Imam as-Sakhawi (w. 902 H) dalam kitab al-Maqaṣid al-Ḥasanah
وَقِيلَ مَعْنَى يُصْلِحُهُ اللَّهُ فِي لَيْلَةٍ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْهِ وَيُزِيلَ عَنْهُ مَا كَانَ فِيهِ مِنَ التَّقْصِيرِ
“Artinya : Dikatakan bahwa makna Allah memperbaikinya dalam satu malam adalah Allah menerima taubatnya dan menghilangkan darinya kekurangan-kekurangan yang sebelumnya ada padanya.”
3.Imam Ibn Kathsir (w. 774 H) dalam kitab Nihayah fi al-Fitan
فَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِ وَيُقِيمُهُ فِي مَقَامِ الْعَدْلِ بَعْدَ ذَلِكَ
“Artinya: Lalu Allah menerima taubatnya dan menegakkannya pada kedudukan keadilan setelah itu.”
Al-Mahdi bukan berasal dari kalangan ulama atau orang yang dikenal suci sejak awal, melainkan manusia biasa yang pendosa bahkan ummi dalam urusan agama. Hal ini menegaskan pola sejarah yang berulang, dimana para utusan Allah ﷻ selalu datang dari sosok yang tidak disangka-sangka.
Fakta & Korelasi Terhadap Muhammad Qasim & Mimpinya
Fakta 1:
Muhammad Qasim dalam banyak wawancara maupun tulisannya, mengakui dia hanya umat sederhana, orang biasa yang masih melakukan banyak dosa. Dia tidak berjanggut (mencukur habis jenggotnya), dia tidak terbiasa sholat malam dan terkadang masih bolong dalam sholatnya apabila dalam keadaan futur. Dia lebih suka berkata jujur apa adanya, daripada harus menutup-nutupi sesuatu karena baginya Allah lebih mengetahui segala sesuatu. Muhammad Qasim juga orang polos & luguh, dia tidak pernah membaca apalagi mempelajari hadist & kitab ulama yang berkaitan dengan akhir zaman.
Fakta hujjah:
«إِذَا اقْتَرَبَ الزَّمَانُ لَمْ تَكَدْ رُؤْيَا الْمُؤْمِنِ تَكْذِبُ، وَأَصْدَقُهُمْ رُؤْيَا أَصْدَقُهُمْ حَدِيثًا»
“Apabila waktu (kiamat) telah semakin dekat, maka mimpi seorang mukmin tidak akan berbohong. Dan orang yang paling benar mimpinya adalah orang yang paling benar (jujur) dalam ucapannya.” (HR.Bukhari & Muslim)
Fakta 2:

Ketua majelis Gaza (gerakan akhir zaman) yang akrab dipanggil Kang Diki Candra, dr.H Jaya Mualimin, Sp.Kj, M.Kes (Dinas Kesehatan sekaligus dokter Kejiwaan) & beberapa orang dari Indonesia lainnya melakukan Tabayyun dan menelitih secara langsung Muhammad Qasim di pakistan selama 6 bulan.
Hasil dari penelitian ini menyimpulkan, Muhammad Qasim benar-benar orang biasa polos layaknya orang awam pada umumnya. Dia tidak banyak bergaul dan sangat pemalu, bahkan sering futur dalam beribadah. Di rumahnya tidak ditemukan satu kitab atau buku pun yang berkaitan tentang agama yang membahas akhir zaman. Dr. Jaya juga menegaskan bahwa, kejiwaan Qasim masih sehat, tidak ada gejala halusinasi dan gangguan delusi (waham). Tak hanya itu, dr. Jaya mualimin memberi kesaksian bahwa mimpi yang diceritakan adalah jujur sesuai apa adanya, tanpa menambah atau menguranginya dan diceritakan secara konsisten tidak berubah sedikitpun.
Kesimpulan:
Dari semua data diatas dapat disimpulkan bahwa Al-Mahdi adaalah orang biasa yang polos bahkan ummi dalam bidang agama, tetapi justru keadaan inilah yang dijadikan sebagai ujian bagi hati orang-orang beriman, menerima atau sebaliknya mendustakan petunjuknya. Allah dengan sengaja memilih sosok yang tidak dibentuk oleh fanatisme kitab, mazhab, atau pendapat pribadi, agar petunjuk yang disampaikannya benar-benar murni dari Allah tanpa campur tangan hawa nafsu dan konstruksi manusia. Dengan cara ini, Allah memisahkan siapa yang tunduk kepada petunjuk-Nya dan siapa yang lebih memilih otoritas manusia daripada kebenaran yang datang dari-Nya.
Di sisi lain, dengan adanya fakta Al-Mahdi adalah seorang pendosa dan seorang yang sangat kurang dari segala bidang. Allah ﷻ ingin menunjukkan Ke MAHA-ANNYA, dengan merubah seseorang yang awalnya kurang dalam segala bidang menjadi sosok yang menguasai semua lini keilmuan hanya dalam islah (diperbaiki) selama satu malam.
Catatan dari penulis:
“Al-Mahdi itu petunjuknya melalui mimpi dan levelnya lebih tinggi dari ulama manapun”
Level Juz’un Minannubuwah (جُزْءٌ مِنَ النُّبُوَّةِ) yang berarti “sebagian dari kenabian”, seperti yang disebut dalam hadis tentang mimpi yang benar (ru’ya ṣaliḥah), dianggap lebih tinggi karena berasal langsung dari wahyu yang merupakan bagian dari cahaya kenabian. Meskipun kecil, ia tetap merupakan bagian dari nubuwwah (kenabian).
Sedangkan ulama sebagai pewaris para nabi (العُلَمَاءُ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ) mewarisi ilmu, bukan kenabian itu sendiri. Ilmu yang mereka warisi adalah hasil ijtihad, pemahaman, dan penafsiran terhadap wahyu, bukan bagian dari wahyu itu secara langsung.
Jadi secara singkat: Juz’un Minannubuwah lebih tinggi karena merupakan bagian langsung dari kenabian, sedangkan ulama hanya mewarisi ilmu kenabian bukan kenabian itu sendiri. (Al-Mahdi bukan nabi, tapi hanya mendapatkan petunjuk kenabian yang masih tersisa yaitu Mimpi yang benar/mubasyirat)

