Dalam situasi seperti sekarang ini, dimana dunia di penuhi dengan kesyirikan melebihi zaman sebelumnya, Uzlah Adalah Pilihan yang Paling Tepat Menyelamatkan Agamanya. Lalu apa rahasia di balik uzlah?
Uzlah adalah perilaku menyendiri yang dilakukan seseorang untuk menyucikan pikiran dan jiwanya. Sikap ini dianjurkan oleh beberapa tokoh Islam seperti Sufyan Al-Tsauri, Ibrahim bin Adham, dan Fudhail bin Iyadh.
Menurut Imam Ghazali, sikap uzlah memungkinkan seseorang untuk istiqamah pada ketaatan dan belajar mengendalikan diri dari larangan yang muncul dalam interaksi sosial seperti riya, ghibah, cinta dunia dan lain-lain.
Uzlah menjadikan seseorang tidak mudah terpengaruh oleh urusan duniawi. Sama seperti amal baik lainnya, niat seseorang yang ingin menerapkan sikap uzlah haruslah murni semata-mata karena Allahﷻ.
Uzlah adalah sikap yang dibutuhkan niat kuat dan ikhlas untuk meninggalkan segala kesenangan duniawi demi menyelamatkan agamanya.
Ia harus memiliki tekad yang kuat untuk menjauhkan umat manusia dari keburukan, memfokuskan diri secara total untuk dzikir kepada Allahﷻ, tidak banyak angan-angan atau fantasi, dan siap berjihad memerangi hawa nafsu (mujahadah al-nafs).
Sebagaimana di ketahui, dunia saat ini telah di kuasai oleh kekuatan yang dominan dengan kesyirikan (dajjal) dan kaki tangannya Illuminati dan satanic ( pemuja syetan). Ketika seseorang berada dalam kekuasaan yang lain, otomatis mereka harus menuruti semua aturan dan perintahnya.
Seperti itulah kenyataan yang sedang terjadi saat ini. Semua negara yang ada dalam kekuasaan elite global harus mengikuti permainan dan aturan main mereka (penguasa).
Jadi satu-satunya cara terbaik adalah keluar dari sistem kekuasaan dajjal, yaitu Uzlah.
Ketika dajjal sedang berkuasa, sudah bisa di pastikan semua aturan yang di mainkan bertujuan untuk menyesatkan manusia. Uzlah adalah satu-satunya cara menyelamatkan agama dan akhiratnya, dengan cara meninggalkan segala sesuatu yang berbau syirik, baik dari perbuatan dan segala bentuknya. Dimana dunia saat ini di penuhi dengan kesyirikan.
Majelis Gaza adalah satu-satunya kelompok yang telah melakukan langkah yang tepat, yaitu melakukan perintah tersebut. Disarankan yang lain untuk segera mengikuti langkah tersebut untuk menyelamatkan agama Allahﷻ dan akhiratnya.
Jika tidak bersegera, aturan yang di susun oleh kaki tangan dajjal akan menjerumuskan manusia untuk menjadi pengikutnya (dajjal) dan harus di patuhi. Yang melawan segala aturan mainnya akan di tekan dari segala arah. Semoga umat Islam segera menyadari tentang simbol-simbol yang mengancam keselamatan dunia, dan Islam kembali berjaya. Aamiin




Pingback: Yang Bisa Tinggal di Tanah Uzlah Majelis Gaza Hanya Orang-orang Pilihan. – GAZA
Seperti yang kita ketahui, ulama di zaman dahulu sering beruzlah dalam beberapa keadaan. Seperti hendak menuliskan sebuah kitab, belajar mengenai suatu permasalahn yang mengharuskan untuk beruzlah dan masih banyak lagi. Ketika setelah melakukan uzlah, seringkali mendapatkan pencerahan untuk menyelesaikan kesuitan-kesulitan yang sedang mereka alami.
Uzlah adalah proses pengasingan diri untuk memusatkan perhatian pada ibadah seperti berzikir dan bertafakur pada Allah. (KBBI). Uzlah merupakan salah satu rangkaian yang biasanya seorang sufi lakukakan agar dapat berfokus pada suatu ibadah dengan mengasingkan diri di suatu tempat yang hanya ada ia sendiri. Tujuan utama uzlah adalah taqarub atau mejadikan diri lebih dekat dengan Allah.
Ulama dahulu terkenal dengan cara mereka uzlah atau pengasingan diri dari masyarakat. Mereka biasa memilih tempat yang benar-benar tidak bertemu dengan orang lain, biasanya mereka memilih gunung maupun gua atau tempat sepi lainnya. Lantas, apakah masih relevan ibadah uzlah ini di era modern ini? Yang mana manusia sekarang membutuhkan tolong-menolong dan hubungan timbal balik?
Tanggapan ulama mengenai uzlah
Uzlah para ulama pada zaman dahulu tentunya sudah tidak bisa menerapkannya di zaman sekarang. Karena banyak dari masyarakat sekarang yang beorietasi antara dunia dan akhirat secaara bersamaan. Mereka membutuhkan sandangan, papan dan pangan yang layak agar bisa beribadah dengan nyaman. Hal ini yang menjadikan banyak pertimbangan ketika seseorang ingin beruzlah.
Menurut Syekh Muhanna, dalam mengkaji Ihya Ulum al-Din, bahwasannya seseorang tidak wajib untuk beruzlah. Karena dalam agama Islam, Allah memberitahu kepada umatnya bahwasannya Islam adalah agama yang mudah, yang tidak memberatkan bagi pengikutnya. Sebagaimana ulama terdahulu menjalankan uzlah.
Baca Juga: Tips Mengontrol Amarah Saat Puasa
Dahulu, para ulama melaksanakan uzlah dengan sukarela dan menjadi kebutuhan mereka. Mereka merasa dengan uzlah adalah jalan yang tepat untuk mendapatkan manfaat, maka uzlah di zaman tersebut sah-sah saja. Di era modernisasi ini, ketika seseorang mendapatkan lebih banyak manfaat dengan bertemu seseorang atau berkumpul dengan banyak orang, menjalankan kewajiban seperti memberi nafkah, maka uzlah tersebut tidak berlaku. Pungkas Syekh Muhanna.
Dari urain di atas, bahwa seseorang harus lebih dahulu mengetahui mengenai kebutuhan atas dirinya sendiri. Mereka harus bisa memilih keadaan mana yang terbaik bagi dirinya dan ibadahnya serta tidak meninggalkan kewajibannya. Karena ibadah adalah sesuatu hal yang harus dibangun dengan kesadaran yang tinggi.
Uzlah di era modernisasi
Tujuan dari adanya uzlah adalah untuk mendekatkan diri dengan Allah. Uzlah di masa sekarang tidak hanya bermakna dengan mengasingkan diri. Tapi bisa juga dia mendekatkan Allah di waktu orang-orang sibuk dengan dunianya, dalam waktu sepertiga malam misalnya. Ketika seseorang berkhalwat atau sedang beribadah di tempat yang sunyi, di waktu yang sunyi juga termasuk ke dalam uzlah.
Maka dari itu, ibadah di sepertiga malam adalah uzlah terdekat yang dapat kita tiru sebagaimana ulama dahulu melakukannya. Karena di waktu sepertiga malam adalah waktu yang tepat, dan waktu yang sunyi untuk dapat mendekatkaan diri kepada Yang Maha Kuasa.
Dengan begitu, suatu ibadah sunnah tidak harus memaksakan beberapa pihak, kita harus melihat lagi mana manfaat yang bisa ambil lebih banyak. Sebagaimana uzlah di atas. Jika kita bisa mengambil lebih banyak manfaat daripada madharat pada suatu komunitas atau masyarakat, tentunya uzlah bukan jalan yang tepat. Dan sebaliknya demikian.