Mencari Pemimpin Adil: Antara Harapan dan Kenyataan
Pembahasan tentang pemimpin yang adil selalu menarik dan tidak pernah selesai. Banyak orang mendambakan sosok pemimpin yang benar-benar sempurna dalam keadilannya. Namun, jika direnungkan lebih dalam, kesempurnaan semacam itu sejatinya tidak akan kita temukan pada manusia.
Kesempurnaan dalam keadilan hanyalah milik Allah ﷻ. Manusia, sebaik apa pun, tetap memiliki keterbatasan. Karena itu, yang bisa kita lakukan bukanlah mencari pemimpin yang sempurna, melainkan membandingkan siapa di antara mereka yang lebih mendekati keadilan.
Lalu, apa tolok ukur keadilan tersebut? Salah satu ukuran yang mendasar adalah kemurnian tauhid. Semakin murni tauhid seseorang, semakin dekat ia kepada Allah ﷻ. Kedekatan inilah yang memengaruhi cara berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan. Pemikiran yang lahir bukan semata dari ego, melainkan dari kesadaran yang senantiasa mengharap pertolongan-Nya.
Kesadaran ruhani seperti ini tidak muncul begitu saja. Ia hadir ketika jiwa terbebas dari belenggu hawa nafsu dan godaan setan. Tanda-tandanya dapat dilihat dari sikap yang tidak lagi bergantung pada validasi manusia. Langkahnya tenang, tidak tergesa-gesa, dan fokus utamanya adalah meraih ridha Allah ﷻ.
Orang dengan kesadaran seperti ini juga tidak mudah goyah oleh pujian maupun hujatan. Ia tidak larut dalam emosi ketika dikritik, namun juga tidak menjadi sombong ketika dipuji. Yang ia jaga adalah kestabilan jiwanya agar tetap terhubung dengan Allah ﷻ, hingga perjalanan hidupnya berjalan lurus menuju tujuan yang hakiki.
Lebih dari itu, hatinya dipenuhi kepedulian terhadap umat. Doanya tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk orang lain. Ia tidak menyimpan kebencian, karena memahami bahwa setiap orang berada pada tingkat pemahaman dan pengalaman yang berbeda.
Pada akhirnya, harapan akan hadirnya pemimpin yang adil tidak bisa dilepaskan dari kondisi masyarakat itu sendiri. Jika menginginkan pemimpin yang baik dan adil, maka perbaikan harus dimulai dari mayoritas masyarakatnya. Ketika masyarakat membaik, di situlah terbuka jalan bagi turunnya rahmat Allah ﷻ, termasuk dalam bentuk kepemimpinan yang lebih adil.
Melalui mimpi Muhammad Qasim Allahﷻ menghendaki manusia untuk bersegera menjauhkan diri dari kesyirikan dan segala bentuknya, dan Rahmat Allahﷻ akan segera di turunkan.
Allah ﷻ hanya menginginkan hambaNya bertauhid. Mengingat kehidupan di dunia akan di akhiri, Dia hanya berusaha mengarahkan manusia agar semua selamat kembali ke akhirat layak untuk masuk surga kembali sebagaimana pertama kali di ciptakan.
Wallahu a’lam bisshowab




