
Kita hidup di penghujung akhir zaman, sebuah masa yang dipenuhi dengan fitnah dari berbagai arah. Fitnah ini bukan sekadar ujian kecil, tetapi ujian besar yang menyasar akidah, iman, dan arah keberagamaan umat. Karena itulah, siapa pun yang menginginkan keselamatan akan berusaha mengenali fitnah-fitnah tersebut agar mampu menyelamatkan agamanya, bukan malah terseret dan tenggelam di dalamnya.
Yang sering luput disadari, fitnah akhir zaman tidak datang dari orang-orang awam yang tidak paham agama. Justru banyak fitnah muncul dari para tokoh. Tokoh-tokoh yang seharusnya menjadi penunjuk jalan, tetapi dalam kenyataannya justru menimbulkan kebingungan dan kesesatan di tengah umat. Ketika para penunjuk jalan itu sendiri tersesat, maka umat yang mengikuti mereka pun ikut terseret.
Banyak Tokoh, Sedikit Petunjuk yang Lurus
Akhir zaman bukanlah zaman yang kering dari penceramah, khatib, dan tokoh agama. Sebaliknya, kita hidup di masa yang penuh dengan mereka. Namun keanehannya, meskipun para tokoh ini mampu menjelaskan penyakit umat—seperti cinta dunia, rusaknya akhlak, dan jauhnya umat dari nilai Islam—mereka sering kali tidak menghadirkan obatnya.
Mereka tahu penyakitnya, tetapi tidak sungguh-sungguh membawa solusi wahyu. Akibatnya, umat semakin bingung, karena solusi yang ditawarkan bukan bersumber dari manhaj kenabian, melainkan dari akal, ideologi, atau pendekatan buatan manusia.
Sejarah yang Terulang di Akhir Zaman
Al-Qur’an telah mengisahkan bagaimana Ahlul Kitab menolak kebenaran bukan karena tidak tahu, tetapi karena iri dan dengki. Ketika kebenaran datang dari luar kelompok mereka, mereka menolaknya. Pola ini kembali terulang di akhir zaman.
Ketika Allah memberikan petunjuk melalui al-mubasyirāt dan mimpi-mimpi yang benar, sebagian tokoh dan kelompok menolaknya bukan karena isinya salah, tetapi karena petunjuk itu tidak muncul dari komunitas mereka. Mereka merasa telah lama berdakwah, memiliki kelompok besar, dan menganggap diri telah sepenuhnya berada di atas Al-Qur’an dan Sunah.
Padahal, petunjuk Allah tidak terikat oleh struktur kelompok mana pun.
Fanatisme yang Melahirkan Perpecahan
Salah satu ciri kuat akhir zaman adalah fanatisme kelompok. Banyak orang mengaku membela kebenaran, tetapi justru mudah menuduh bid’ah, hizbiyah, bahkan takfir, hanya karena perbedaan manhaj kelompok. Ilmu yang seharusnya menyatukan berubah menjadi alat perpecahan.
Ironisnya, perpecahan ini sering dibungkus dengan dalil. Dalil digunakan bukan untuk menyatukan umat, tetapi untuk saling menjatuhkan. Akibatnya, umat terus terpecah meskipun sama-sama mengaku berpegang pada Al-Qur’an dan Sunah.
Banyak Penyeru, Sedikit yang Selamat
Rasulullah ﷺ telah mengabarkan bahwa akhir zaman bukan ditandai dengan ketiadaan penyeru, tetapi dengan banyaknya penyeru. Tidak semua yang berbicara atas nama agama membawa petunjuk yang lurus. Bahkan, Nabi ﷺ memperingatkan bahwa yang paling dikhawatirkan atas umat ini adalah para pemimpin yang menyesatkan.
Mereka tampak seperti penunjuk jalan, tetapi sejatinya menarik umat menuju jurang kesesatan. Retorika mereka indah, penyampaiannya meyakinkan, namun manhaj yang dibawa menyelisihi jalan Rasulullah ﷺ.
Al-Mubasyirāt sebagai Peneguh di Akhir Zaman
Di tengah kerusakan dan fitnah yang semakin luas, Allah tidak meninggalkan umat ini tanpa petunjuk. Salah satu bentuk kasih sayang-Nya adalah al-mubasyirāt—kabar gembira dan peringatan bagi orang-orang beriman di akhir zaman.
Al-mubasyirāt bukan pengganti Al-Qur’an dan Sunah, tetapi penguat dan peneguh bagi orang-orang yang jujur mencari kebenaran. Sayangnya, banyak tokoh justru menganggapnya asing, tidak relevan, bahkan menolaknya, padahal ia merupakan bagian dari manhaj kenabian yang telah dikenal sejak umat-umat terdahulu.
Jalan Tengah: Tidak Berlebihan dan Tidak Meremehkan
Kesalahan dalam menyikapi al-mubasyirāt sering terjadi di dua sisi. Ada yang berlebihan hingga menjadikan mimpi sebagai satu-satunya sandaran, lalu tersesat. Ada pula yang meremehkan dan menolaknya mentah-mentah, sehingga kehilangan petunjuk di tengah fitnah akhir zaman.
Menolak mimpi sebagai petunjuk berarti bukan hanya mengabaikan hadis mubasyirat, tetapi juga mengabaikan banyak dalil Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa mimpi adalah bagian dari petunjuk Allah kepada hamba-Nya.
Jalan yang benar adalah jalan tengah: menimbang segala sesuatu dengan Al-Qur’an dan Sunah, dengan pemahaman generasi terbaik umat ini, serta menjadikan al-mubasyirāt sebagai peneguh, bukan penentu tunggal.
Menimbang Tokoh, Bukan Mengkultuskan
Fitnah akhir zaman bukan karena umat tidak tahu penyakitnya. Umat tahu bahwa mereka cinta dunia dan lalai. Namun masalahnya, obat wahyu sering diganti dengan resep buatan manusia. Karena itu, siapa pun yang ingin selamat hendaknya menimbang setiap ucapan tokoh, setiap seruan, dan setiap solusi dengan timbangan wahyu, bukan dengan fanatisme kelompok.
Keselamatan tidak terletak pada banyaknya pengikut, panjangnya jenggot, atau simbol-simbol lahiriah, tetapi pada kesungguhan meniti jalan Rasulullah ﷺ di tengah derasnya fitnah.
Penutup
Di akhir zaman, kebenaran akan terasa asing. Tidak selalu diikuti oleh mayoritas. Namun itulah sunnatullah. Keselamatan hanya ada pada mereka yang bersabar di atas kebenaran, meskipun ditinggalkan manusia.
Semoga Allah meneguhkan hati kita, membimbing kita di tengah fitnah akhir zaman, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang selamat dengan petunjuk-Nya.



