Bismillahirrahmanirrahim
Seri Ta’bir Mimpi Umat dunia – Seri ke 130
TOKOH AGAMA SAAT INI BUTA & TULI TERHADAP PETUNJUK YANG DIBAWA ALMAHDI (MQ)
DAFTAR ISI :
I. Isi MimpiII. Resume Hasil Takwil.III. Kesimpulan Utama Hasil Takwil.IV. Hasil Takwil Persimbol MimpinyaV. Klasifikasi tingkat mimpi. VI. Penutup Syar’i.
I. Isi Mimpi
*Sdr Aqsal, Surabaya – 30 Sept 2024*
Sekitar pukul 11.00 siang, saya bermimpi melihat Ustadz Abdul Somad dan Ustadz Adi Hidayat sedang membicarakan dalil-dalil terkait taklid sambil menghina Ustadz Jawas. Di tempat itu juga ada Muhammad Qasim (MQ), tetapi ia hanya diam dan menyimak mereka.
Lalu saya berkata kepada para ustaz itu bahwa Muhammad Qasim adalah Al-Mahdi, dan dengan petunjuknya akan menghilangkan syubhat-syubhat yang ada.
Saya juga menjelaskan kepada mereka apa yang saya pahami tentang syirik berdasarkan dalil.
Namun mereka melihat MQ dan hanya tertawa meremehkan, lalu meninggalkan tempat itu.
Saya mengejar mereka dan menyuruh mereka untuk memahami lebih teliti lagi.
Mereka berkata, “Lihat tuh, masa model gitu Al-Mahdi,” sambil tertawa, lalu pergi.
Setelah itu saya menangis dan memeluk MQ karena sedih melihat para ulama sudah buta dan tuli.
II. Resume Hasil Takwil.
– Mimpi ini mengandung tema besar tentang pertarungan antara hujjah dan ejekan, antara penjelasan tauhid dan sikap meremehkan, serta antara penerimaan terhadap isyarat kebenaran dan penolakan karena pandangan lahiriah.
– Simbol para ustaz dalam mimpi ini menunjukkan sosok-sosok yang berilmu, berpengaruh, dan menjadi pusat perhatian umat.
– Pembicaraan tentang taklid menandakan adanya persoalan manhaj, cara beragama, dan penilaian terhadap dalil.
– Kemunculan MQ yang diam menunjukkan sosok yang sedang diperhatikan, disimak, tetapi belum diberi ruang oleh sebagian pihak.
– Ucapan tentang Al-Mahdi dan penjelasan tentang syirik menandakan dorongan untuk menegakkan tauhid, membuka syubhat, dan menyampaikan hujjah.
– Tertawanya mereka dan kepergian mereka menunjukkan penolakan, penghinaan, dan sikap menutup diri terhadap kebenaran.
– Tangisan dan pelukan pada akhir mimpi menunjukkan kesedihan atas keadaan umat, empati kepada sosok yang dianggap membawa amanah, dan rasa pedih melihat kebenaran tidak diterima.
III. Kesimpulan Utama Hasil Takwil.
Mimpi ini dapat ditakwil sebagai isyarat bahwa jalan kebenaran tidak selalu disambut oleh orang-orang yang memiliki pengaruh besar, bahkan terkadang justru disambut dengan cemooh dan penolakan.
Mimpi ini juga menggambarkan bahwa urusan tauhid dan syirik tidak cukup hanya dibicarakan secara retoris, tetapi harus dijelaskan dengan dalil, dengan kesabaran, dan dengan keteguhan hati.
Perilaku tertawa, meremehkan, lalu pergi, memberi gambaran bahwa sebagian orang mungkin lebih cepat menilai dari penampilan luar daripada menimbang isi hujjah.
Sedangkan tangis di akhir mimpi menunjukkan bahwa di balik keteguhan dakwah, masih ada rasa sedih karena melihat umat belum bersatu dalam menerima kebenaran.
Jadi, inti mimpi ini bukan sekadar tentang perdebatan antarustaz, tetapi tentang ujian terhadap hujjah, ujian terhadap kesabaran, dan ujian terhadap penerimaan manusia pada isyarat kebenaran.
IV. Hasil Takwil Persimbol Mimpinya
1). Ustadz Abdul Somad dan Ustadz Adi Hidayat.
Kedua sosok ini dalam mimpi dapat dipahami sebagai simbol ulama, dai, dan tokoh ilmu yang memiliki pengaruh besar di tengah masyarakat.
Kehadiran mereka tidak harus ditakwil sebagai pribadi mereka secara harfiah, tetapi sebagai lambang dari otoritas keilmuan yang menjadi perhatian publik.
Pembicaraan mereka tentang dalil-dalil terkait taklid menunjukkan bahwa mimpi ini bersentuhan dengan tema cara beragama, mengikuti pendapat ulama, dan perdebatan seputar hujjah.
Adanya suasana saling menghina menunjukkan bahwa ilmu bila tidak diiringi adab dapat berubah menjadi arena saling merendahkan.
Ini sejalan dengan Surat Al-Hujurat ayat 11, sejalan dengan Surat Al-An’am ayat 68, dan sejalan dengan Surat An-Nahl ayat 125.
Maknanya, ilmu yang benar seharusnya mengantar kepada hikmah, bukan kepada cemooh.
2). Ustadz Jawas.
Nama ini dalam mimpi tampak sebagai simbol pihak yang menjadi objek kritik, perdebatan, atau perbedaan pandangan.
Bisa jadi ia melambangkan seorang ulama yang menjadi titik sengketa dalam masalah manhaj atau sikap beragama.
Dalam takwil mimpi, sosok yang dihina sering kali bukan semata orangnya, tetapi simbol dari pendapat, posisi, atau jalan yang sedang diperdebatkan.
Ini sejalan dengan Surat Al-Ma’idah ayat 8, sejalan dengan Surat Al-Isra’ ayat 36, dan sejalan dengan Surat An-Nahl ayat 125.
Maknanya, penilaian terhadap orang dan pendapat harus tetap berada dalam koridor keadilan dan tabayyun.
3). Kehadiran Muhammad Qasim yang diam dan menyimak.
Sikap diam dalam mimpi sering menandakan posisi seorang saksi, orang yang sedang ditunggu penjelasannya, atau figur yang belum membuka seluruh hujjahnya di hadapan publik.
Diamnya MQ di sini dapat ditakwil sebagai tanda bahwa ia belum berbicara, tetapi sudah menjadi pusat perhatian dan penilaian orang-orang di sekitarnya.
Sikap menyimak juga menunjukkan bahwa sebelum menyatakan sesuatu, seseorang harus mendengar terlebih dahulu.
Ini sejalan dengan Surat Az-Zumar ayat 18, sejalan dengan Surat Al-Isra’ ayat 36, dan sejalan dengan Surat Al-Hujurat ayat 6.
Maknanya, mendengar dengan adil jauh lebih benar daripada menolak sebelum memahami.
4). Ucapan bahwa MQ adalah Al-Mahdi dan dengan petunjuknya akan menghilangkan syubhat-syubhat.
Bagian ini adalah inti simbolik mimpi, yaitu keyakinan bahwa ada sosok yang dianggap membawa penjelasan, pembuka kerancuan, dan pengarah kepada kejelasan tauhid.
Dalam takwil, “menghilangkan syubhat” menandakan tugas membuka kesamaran, menyingkap kekeliruan, dan mengarahkan umat kepada dalil yang lebih terang.
Ini sejalan dengan Surat Al-Ma’idah ayat 15, sejalan dengan Surat Az-Zumar ayat 18, dan sejalan dengan Surat Al-Anfal ayat 42.
Maknanya, setiap dakwah yang lurus memang dituntut untuk menjernihkan kerancuan, bukan menambah keruhnya perdebatan.
5). penjelasan tentang syirik berdasarkan dalil.
Ini merupakan simbol yang sangat kuat, karena menunjukkan bahwa inti pesan mimpi berada pada tauhid.
Syirik dalam mimpi ini bukan sekadar istilah, tetapi menjadi pusat arah penjelasan dan koreksi.
Artinya, mimpi ini menekankan pentingnya kembali kepada tauhid, menguji amalan dengan dalil, dan membersihkan hati dari segala bentuk pengagungan yang tidak semestinya.
Ini sejalan dengan Surat Luqman ayat 13, sejalan dengan Surat An-Nisa’ ayat 48, dan sejalan dengan Surat Az-Zumar ayat 65.
Maknanya, tauhid adalah poros utama, sedangkan syirik adalah perkara yang harus dijauhi dengan sangat serius.
6). Reaksi tertawa meremehkan lalu meninggalkan tempat.
Ini adalah simbol penolakan, kesombongan, dan ketidaksiapan menerima kebenaran.
Orang-orang yang tertawa dalam mimpi biasanya menggambarkan pihak yang meremehkan, bukan pihak yang sedang mencari kebenaran.
Kepergian mereka menunjukkan bahwa mereka tidak ingin melanjutkan dialog.
Ini sejalan dengan Surat Al-Mutaffifin ayat 29-34, sejalan dengan Surat Al-An’am ayat 10, dan sejalan dengan Surat Hud ayat 38-39.
Maknanya, tidak semua orang yang mendengar hujjah akan tunduk kepadanya; sebagian justru menolak karena hati mereka telah tertutup oleh kesombongan.
7.) Saya mengejar mereka dan menyuruh mereka memahami lebih teliti lagi.
Bagian ini menandakan semangat tabayyun, dakwah, dan upaya tidak menyerah ketika kebenaran ditolak.
Mengejar dalam mimpi di sini bukan berarti mengejar secara fisik semata, tetapi menggambarkan kegigihan dalam menyampaikan kebenaran.
Ini sejalan dengan Surat An-Nahl ayat 125, sejalan dengan Surat Ali ‘Imran ayat 159, dan sejalan dengan Surat Fussilat ayat 33.
Maknanya, orang yang yakin dengan kebenaran tidak berhenti pada satu penolakan, tetapi tetap menempuh jalan penjelasan dengan sabar.
8.) Ucapan “Lihat tuh, masa model gitu Al-Mahdi,” lalu tertawa.
Ini adalah simbol penilaian lahiriah yang dangkal.
Artinya, mereka menilai berdasarkan bayangan fisik atau kesan awal, bukan berdasarkan isi hujjah dan amanah batin.
Dalam takwil, ucapan semacam ini menunjukkan bahwa sebagian manusia memandang tanda-tanda besar dengan ukuran yang terlalu sempit.
Ini sejalan dengan Surat Al-Hujurat ayat 11, sejalan dengan Surat Al-Hujurat ayat 12, dan sejalan dengan Surat Al-Mu’minun ayat 53.
Maknanya, ukuran benar dan salah bukanlah bentuk luar, tetapi kebenaran dalil dan lurusnya jalan.
9). Tangisan dan pelukan kepada MQ karena sedih melihat para ulama sudah buta dan tuli.
Ini adalah simbol yang sangat emosional dan sangat penting.
Menangis menunjukkan rasa sakit, kepedulian, dan kesadaran bahwa perpecahan atau penolakan terhadap kebenaran adalah perkara besar.
Pelukan kepada MQ menunjukkan adanya pembelaan, penghiburan, dan peneguhan hati kepada sosok yang dianggap membawa amanah berat.
Adapun ungkapan “buta dan tuli” dalam mimpi dapat ditakwil sebagai buta dan tuli hati, bukan sekadar indera fisik.
Ini sejalan dengan Surat Al-Hajj ayat 46, sejalan dengan Surat Al-A’raf ayat 179, dan sejalan dengan Surat Al-Isra’ ayat 72.
Maknanya, yang paling menyedihkan bukan mata yang tidak melihat, tetapi hati yang tidak mau menerima kebenaran walaupun sudah dijelaskan.
10.) suasana umum mimpi yang penuh perdebatan, penolakan, dan tangis.
Ini memperlihatkan bahwa mimpi bukan mimpi tenang biasa, melainkan mimpi yang membawa pesan perjuangan.
Ada unsur hujjah, ada unsur perlawanan, ada unsur penguatan, dan ada unsur kesedihan.
Semua ini menunjukkan bahwa mimpi tersebut mengarah pada tema besar: kebenaran sering datang bersama ujian, bukan bersama kenyamanan.
Ini sejalan dengan Surat Al-Ankabut ayat 2-3, sejalan dengan Surat Al-Baqarah ayat 214, dan sejalan dengan Surat Ali ‘Imran ayat 186.
Maknanya, jalan para pembawa kebenaran memang sering melalui fase diuji, diejek, lalu tetap diminta bersabar.
V. Klasifikasi tingkat mimpi.
Dilihat dari isinya, mimpi ini lebih dekat kepada ru’yā yang bermakna isyarat dan peringatan, bukan sekadar bunga tidur kosong.
Namun di dalamnya juga tampak unsur haditsun nafs, karena ada suasana emosi, kegelisahan, perdebatan, dan kesedihan yang kuat.
Jadi klasifikasinya dapat disebut sebagai ru’yā ṣāliḥah yang bercampur dengan unsur kegelisahan batin, tetapi inti pesannya tetap mengarah kepada peringatan, peneguhan tauhid, dan ujian hujjah.
Karena itu, mimpi ini tidak layak dibaca sebagai penetapan pasti atas sesuatu yang gaib secara mutlak, tetapi layak dibaca sebagai isyarat yang perlu ditimbang dengan adab, ilmu, dan kaidah syar’i.
Maka, secara ringkas: ini lebih dekat kepada ru’yā, bukan hulm yang kacau, namun tetap harus dipahami dengan kehati-hatian.
VI. Penutup Syar’i.
Mimpi, sekalipun mengandung isyarat yang kuat, tidak boleh dijadikan satu-satunya dasar untuk menetapkan perkara gaib secara mutlak.
Dalam kaidah Islam, segala isyarat mimpi tetap harus ditimbang dengan Al-Qur’an, Sunnah, pemahaman ulama, dan kehati-hatian dalam berbicara tentang perkara besar.
Karena itu, mimpi ini lebih pantas dipahami sebagai dorongan untuk menegakkan tauhid, menjauhi syirik, menjaga adab dalam berbeda pendapat, dan bersabar ketika kebenaran tidak langsung diterima.
Adapun penetapan pasti tentang siapa yang menjadi apa dalam perkara besar akhir zaman tetap berada dalam wilayah ilmu Allah semata.
Wallahu a‘lam bish-shawab
MAJELIS GAZA (Tgl. 29 April 2026)

