Dalam sebuah hadits disebutkan, di antara 73 golongan Islam yang sudah terpecah ini, hanya satu golongan yang akan selamat masuk surga tanpa harus mampir ke neraka terlebih dahulu. Yaitu golongan orang-orang yang tetap berjalan sesuai petunjuk Al Qur’an dan hadits.
Berikut dalil terkait;
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً.
“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan.” (HR Tirmidzi).
Sesungguhnya tugas manusia di dunia ini adalah mencari kebenaran. Dalam perjalanan Ruh, PUNCAK KEMURNIAN TAUHID adalah Puncak dari perjuangan manusia yang mampu mencapai kesadaran diri dan kesadaran Ruh dengan Istiqomah. Berikut urutan dan ciri-ciri seseorang sudah mencapai Kemurnian Tauhid.
– fikiran nya sudah menyadari bahwa konsekuensi segala sesuatu ada akibat yang di timbulkan. Jika melakukan dosa ada setan yang berhak masuk ke tubuhnya dan mendorong hawa nafsunya agar mendominasi pikiran untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak di ridhoi Allahﷻ. Termasuk buang waktu sia-sia, adalah perbuatan yang tidak di sukai Allahﷻ meskipun tidak berdosa.
Sevaliknya، jika seseorang melakukan perbuatan yang di ridhoi Allahﷻ akan mendatangkan pahala dan mengantarkan Ruhnya mencapai kemenangan, yaitu semakin mendekat kepada Allahﷻ.
– Ruh yang mampu mengendalikan fikirannya agar tidak di kuasai keinginan bebas hawa nafsunya, itulah tolok ukur sebuah kemenangan. Ruh nya berhasil mendominasi hati dan fikirannya agar selalu bergerak melakukan perbuatan dan ucapan yang di ridhoi Allahﷻ.
Ciri-ciri Ruh yang menang :
– selalu merasakan Allahﷻ dekat dengan dirinya melebihi urat nadi.
Surat Qaf Ayat 16
وَلَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِۦ نَفْسُهُۥ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ ٱلْوَرِيد
Artinya: Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya,
– merasakan ketenangan dan tidak ada rasa takut (khawatir) sedikitpun dengan apa yang sedang terjadi dan yang akan terjadi Tidak galau dengan kejadian di masa lalu, karna sudah berhasil melepaskan semua endapan negatif yang tersisa dalam dirinya.
– Ikhlas bahwa semua adalah ketetapan Allahﷻ. Selalu melakukan ikhtiar tidak melenceng dari Al Qur’an dan hadits dan tawakkal dengan hasil yang akan di capai, sepenuhnya kepada Allahﷻ.
Syarat mencapai kemenangan:
– Terbebas dari segala kesalahan dan dosa, sehingga tidak ada satu mahluk pun yang mendominasi dan berkuasa dalam kendali dirinya.
Yaitu dengan cara:
– membebaskan diri dari segala bentuk kesyirikan, baik dari perbuatan maupun benda-benda yang menyerupai (patung dan gambar makhluk bernyawa. Karena itu tidak di sukai Allahﷻ, dan malaikat juga enggan untuk memasuki rumah yang masih ada unsur kesyirikan di dalamnya.
Berikut beberapa hadits terkait:
Rasulullah ﷺ bersabda.
لاَ تَدَعْ تِمْثَالاً إِلاَّ طَمَسْتَهُ وَلاَ قَبْراً مُشْرِ فًَا إِلاَّ سَوَّيْتَهُ
“Janganlah engkau tinggalkan patung kecuali engkau telah membuatnya menjadi tidak berbentuk, dan jangan pula meninggalkan kuburan yang menjulang tinggi kecuali engkau meratakannya“. [Hadits Riwayat Muslim dalam Al-Jana’iz, 969]
Dan hadits yang ditegaskan dari Aisyah رَضِی اَللهُ عَنْه . Sesungguhnya Aisyah telah membeli bantal kecil untuk hiasan yang didalamnya terdapat gambar. Ketika Rasulullah ﷺ melihat bantal tersebut, beliau berdiri di depan pintu dan enggan untuk masuk seraya bersabda.
إِنَّ أَصْحَابَ هَذِهِ الصُّوَرِ يُعَذَّبُوْنَ وَيُقَالُ لَهُمْ أَحْيُوْامَا خَلَقْتُمْ
“Sesungguhnya pemilik gambar ini akan diadzab dan akan dikatakan kepada mereka. “Hidupkanlah apa yang telah engkau ciptakan“.[1]
Dalam sebuah hadits dari Nabi Muhammad ﷺ bersabda bahwa, ketika Jibril hendak mendatangi rumah beliau, dia enggan memasuki rumah, maka Nabi ﷺ bertanya dan dijawab oleh Jibril.
أَنَهُ كَانَ فِي الْبَيْتِ قِرَامُ سِتْرٍ فِتْهِ تَمَاثِيْلَ وَكَانَ فِي الْبَيْتِ كَلْبٌ فَمُرْ بِرَأْسِ التِّمْثَالِ الَّذِيْ فِي الْبَيْتِ يُقْطَعُ فَيَصِيْرُ كَهَيْئَةِ الشَّجَرَةِ وَمُر بِالسِّتْرِ فَلْيُقْطَعْ فَليُجْعَلْ مِنْهُ وِسَادَتَيْنِ مَنْبُوْ دَتَيْنِ تُوْطَآنِ وَمُرْ بِالْكَلبِ فَلْيُحْرَجْ
“Di dalam rumah itu terdapat tirai dari kain tipis yang bergambar patung dan di dalam rumah itu terdapat seekor anjing. Perintahkan agar gambar kepala patung yang berada di pintu rumah itu dipotong sehingga bentuknya menyerupai pohon, dan perintahkan agar tirai itu dipotong dan dijadikan dua buah bantal untuk bersandar dan perintahkan agar anjing itu keluar dari rumah“. [Hadits Riwayat At-Tirmidzi dalam Al-Adab 2806]
Maka Nabi ﷺ melaksanakan perintah tersebut sehingga Jibril عَلَیهِ السَّلام masuk ke dalam rumah itu. Diriwayatkan oleh An-Nasa’i dengan sanad yang baik[2]. Dalam hadits tersebut bahwa anjing itu adalah anjing kecil milik Hasan atau Husain yang secara sembunyi-sembunyi tinggal di dalam rumah itu. Dalam sebuah hadits shahih dari Nabi ﷺ besabda.
لاَ تَدْ خُلُ المَلاَئِكَةُ بَيْتًا فِيْهِ كَلْبٌ وَلاَ صُوْرَةٌ
“Malaikat tidak akan masuk rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan lukisan“.[3].
– Memintakan ampunan kepada Allahﷻ atas segala kesalahan dan dosa yang di lakukan nasabnya ( orang tua, kakek neneknya ) serta slalu mendoakan keturunannya (anak dan cucu2nya) agar selamat dari jebakan setan baik yang datang melalui lingkungan sekitar maupun dorongan hawa nafsunya sendiri.
– mempertahankan Istiqomah segala perbuatan dan ucapan yang di lakukan sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah.
– mampu mempertahankan keseimbangan antara fikiran, hati dan perbuatan dengan tetap fokus apa yang sedang di kerjakan dan bertahan dalam ikhsan (merasakan kehadiran Allahﷻ).
Peringatan: Ujian akan terus terjadi selama masih hidup di dunia, seperti gelombang pasang surut. Terkadang kecil namun tak jarang tiba-tiba besar.
Tolok ukurnya adalah kekuatan dan ketahanan diri kita sendiri, apakah mampu tetap stabil memegang kendali mempertahankan keimanan tersebut.
Semakin besar ujian dan mampu melewatinya, semakin kuat dan tangguh melampaui gempuran ujian apapun yang akan terjadi. Karena dirinya yakin, hanya Allahﷻ satu-satunya penolong dan pemberi Rahmat.
Tidak bergantung kepada siapapun kecuali kepada Allah ﷻ. Karena hanya Dia satu-satunya yang mencukupi segala kebutuhan makhlukNya.
Wallahu a’lam bisshowab
Penulis: v3
Editor : v3

