Penolakan Al-Mubasyirat: Kesombongan Umat Akhir Zaman

Di akhir zaman, umat Islam menghadapi berbagai fitnah yang semakin kompleks dan membingungkan. Di tengah kondisi tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membiarkan hamba-hamba-Nya berjalan tanpa petunjuk. Salah satu bentuk rahmat dan petunjuk Allah yang masih tersisa hingga akhir zaman adalah al-mubasyirat, yaitu isyarat gaib berupa ru’yā ṣādiqah (mimpi yang benar). Namun ironisnya, justru banyak kaum muslimin yang menolak, meremehkan, bahkan mengolok-olok al-mubasyirat akhir zaman.

Apa Itu Al-Mubasyirat?

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa tidak tersisa dari kenabian kecuali al-mubasyirat. Ketika para sahabat bertanya apa yang dimaksud dengan al-mubasyirat, beliau menjelaskan bahwa ia adalah mimpi yang baik. Hadis ini menunjukkan bahwa al-mubasyirat bukan sekadar pengalaman tidur, melainkan bagian dari sisa cahaya kenabian yang Allah titipkan kepada umat Muhammad ﷺ sebagai bentuk petunjuk.

Para ulama tafsir seperti Ibnu Abbas, Ibnu Qayyim, dan Ibnu Sirin menjelaskan bahwa kabar gembira (al-busyra) yang Allah sebutkan dalam Al-Qur’an bagi orang-orang beriman di dunia adalah ru’yā ṣādiqah. Dengan demikian, al-mubasyirat merupakan bagian dari iman kepada perkara gaib yang wajib diyakini keberadaannya.

Ironi Penolakan Al-Mubasyirat Akhir Zaman

Fenomena yang menyedihkan di akhir zaman adalah sikap sebagian kaum muslimin yang percaya kepada mimpi para nabi dan umat terdahulu sebagaimana tertulis dalam Al-Qur’an, namun menolak al-mubasyirat yang Allah hadirkan di masa kini. Mereka membaca, menghafal, dan mengajarkan Al-Qur’an serta hadis, tetapi ketika dalil-dalil tentang al-mubasyirat disampaikan, mereka justru menutup diri.

Penolakan ini bukan sekadar kesalahan ilmiah, melainkan kezaliman terhadap ayat-ayat Allah dan sunnah Rasulullah ﷺ. Lebih dari itu, ia lahir dari penyakit hati yang berbahaya, yaitu kesombongan spiritual. Merasa paling berilmu, paling lurus manhajnya, dan paling sah sanadnya, sehingga menolak kebenaran hanya karena tidak datang dari kelompok atau tokoh yang mereka ikuti.

Al-Mubasyirat dan Petunjuk Akhir Zaman

Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa semakin dekat akhir zaman, mimpi orang beriman hampir tidak ada yang dusta. Hadis ini secara khusus menunjukkan bahwa al-mubasyirat justru semakin kuat dan relevan di akhir zaman, bukan semakin dihapus.

Baca Juga:  Mimpi Islam dan Perubahan Sosial: Kaitan antara Keyakinan dengan Perkembangan Masyarakat

Melalui al-mubasyirat, Allah memberi petunjuk agar umat Islam tidak bingung menghadapi fitnah besar seperti fitnah Dajjal, peperangan, kekacauan global, serta agar mampu mengenali Al-Mahdi yang sebenarnya. Tanpa al-mubasyirat, umat akan terus berselisih, bahkan masing-masing kelompok memiliki tafsir dan figur kebenaran versi mereka sendiri.

Sikap Salaf terhadap Al-Mubasyirat

Para sahabat Nabi ﷺ dan generasi salafus shalih memiliki sikap yang sangat adil dan proporsional dalam menyikapi al-mubasyirat. Mereka tidak pernah meremehkan mimpi yang benar, namun juga tidak menjadikannya sebagai sumber syariat yang berdiri sendiri. Al-mubasyirat ditempatkan sebagai isyarat, kabar gembira, dan penguat petunjuk, selama tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan sunnah.

Salah satu contoh paling masyhur adalah kisah pensyariatan adzan. Adzan tidak berawal dari ijtihad logika semata, melainkan dari ru’yā ṣādiqah. Abdullah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu bermimpi melihat seorang lelaki mengajarkan lafaz adzan. Ketika mimpi itu disampaikan kepada Rasulullah ﷺ, beliau membenarkannya dan menyatakan bahwa mimpi tersebut adalah mimpi yang benar. Bahkan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu juga mengalami mimpi serupa. Dari mubasyirat inilah adzan kemudian disyariatkan dan diamalkan hingga hari ini. Ini menunjukkan bahwa perkara besar dalam Islam pun pernah diawali dari mubasyirat, kemudian dikuatkan oleh wahyu dan persetujuan Nabi ﷺ.

Contoh lain adalah sikap Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu dalam peristiwa wabah Tha’un ‘Amwas. Dalam beberapa riwayat, Umar mendapatkan isyarat melalui mimpi dan pertimbangan batin yang kuat sehingga beliau memutuskan untuk tidak memasuki wilayah yang sedang dilanda wabah. Keputusan ini kemudian terbukti membawa kemaslahatan besar bagi kaum muslimin. Ini menunjukkan bahwa para sahabat tidak mengabaikan isyarat ilahi, bahkan menjadikannya bahan pertimbangan strategis dalam kepemimpinan.

Para tabi’in juga memuliakan al-mubasyirat. Ibnu Sirin, seorang ulama besar dalam bidang tafsir mimpi, berkata: “Al-mubasyirātu minal wahyi”—al-mubasyirat adalah bagian dari wahyu, yakni wahyu kecil. Meski memiliki ilmu yang sangat tinggi, Ibnu Sirin tetap tunduk pada mimpi yang benar selama memenuhi syarat dan tidak bertentangan dengan syariat.

Baca Juga:  Mimpi Sebagai Wahyu: Makna, Arti, dan Penjelasan dalam Perspektif Agama dan Psikologi

Demikian pula para imam mazhab. Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, dan para ulama besar Ahlus Sunnah tidak pernah mengubur atau menertawakan al-mubasyirat. Mereka memahami hadis-hadis Nabi ﷺ tentang mimpi yang benar sebagai bagian dari sisa kenabian. Namun mereka juga mengajarkan keseimbangan: al-mubasyirat tidak dijadikan dalil hukum syariat yang berdiri sendiri, tetapi juga tidak ditolak secara mutlak.

Inilah manhaj salaf yang lurus: jalan tengah (tawasuth). Tidak ekstrem dalam mengagungkan mimpi hingga keluar dari syariat, dan tidak pula sombong dengan menolaknya secara total. Karena itu, orang yang mengaku mengikuti salaf, tetapi menolak al-mubasyirat secara mutlak, sejatinya tidak sedang berjalan di atas manhaj salaf, melainkan terjatuh pada sikap ghuluw dalam rasionalitas dan kesombongan terhadap petunjuk gaib.

Dampak Penolakan Al-Mubasyirat

Menolak al-mubasyirat bukan sekadar menolak mimpi, melainkan menolak salah satu bentuk petunjuk Allah yang Rasulullah ﷺ tetapkan sebagai bagian dari kenabian. Akibatnya, seseorang kehilangan kepekaan iman, tidak mampu membaca tanda-tanda akhir zaman, dan baru sadar ketika fitnah besar benar-benar terjadi. Sayangnya, kesadaran itu sering kali datang terlambat.

Allah memperingatkan bahwa azab dunia bisa diturunkan sebagai peringatan agar manusia kembali kepada kebenaran sebelum datang azab akhirat yang jauh lebih besar. Musibah, kegoncangan, dan perselisihan yang meluas merupakan tanda agar manusia mau bertobat dan jujur dalam imannya.

Penutup

Iman kepada petunjuk Allah tidak boleh dihalangi oleh ego kelompok. Iman adalah sikap tunduk, taat, dan jujur menerima kebenaran, bukan merasa paling benar dan paling suci. Al-mubasyirat akhir zaman telah hadir, dan ia adalah rahmat sekaligus peringatan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jangan sampai kita menjadi bagian dari kaum yang terlambat menyadari kebenaran. Semoga Allah meneguhkan hati kita di atas kebenaran, menjauhkan kita dari kesombongan spiritual, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang selamat dengan berpegang teguh pada petunjuk-Nya hingga akhir zaman.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Enjoy this blog? Please spread the word :)

Scroll to Top