Menghadapi Fitnah Akhir Zaman: 3 Karakter Muslim Sejati

Di tengah gelapnya fitnah akhir zaman, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membiarkan hamba-hamba-Nya yang beriman berjalan tanpa petunjuk. Setelah petunjuk Al-Qur’an dan hadis Rasulullah ﷺ, Allah memberikan salah satu bentuk rahmat dan penguat iman bagi hamba-hamba-Nya yang beriman, yaitu al-mubasyirat, berupa ru’yatus shadiqah, mimpi yang benar, yang merupakan sisa dari cahaya kenabian.

Namun ironisnya, pada hari ini kita menyaksikan banyak orang justru meragukan ru’yatus shadiqah, padahal ia jelas disebutkan dalam Al-Qur’an, dalam hadis-hadis Nabi ﷺ, dan dijelaskan oleh para ulama salaf. Bahkan tidak sedikit yang mencibir orang-orang yang mengimaninya dan mendakwahkannya, padahal al-mubasyirat adalah bagian dari khabar nubuwah, perkara gaib yang wajib diimani.

Padahal umat akhir zaman justru sangat membutuhkan petunjuk ini, karena dahsyatnya fitnah yang akan dihadapi. Allah akan memberikan takyid dan pertolongan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, salah satunya melalui al-mubasyirat.

Oleh karena itu, muslim sejati di akhir zaman bukanlah sekadar mereka yang banyak berbicara tentang agama, yang pandai berceramah, berfatwa, menulis karya ilmiah, atau sibuk saling mentahdzir, saling membid’ahkan, bahkan saling mengkafirkan sesama kaum muslimin.
Sementara pada saat yang sama, mereka lalai terhadap hadirnya kebenaran al-mubasyirat akhir zaman.

Muslim dengan keadaan seperti ini diibaratkan seperti singa ompong yang tertidur lelap.
Mereka tampak gagah, suaranya keras, semangatnya tinggi, namun ketika dihadapkan pada dalil-dalil sahih tentang al-mubasyirat, mereka terdiam, bahkan ada yang mengolok-olok dan mengabaikannya.

Baca Juga:  Semua yang Perlu Anda Ketahui Tentang Turki

Karena itu, agar seorang muslim tidak tergolong sebagai “singa ompong yang tertidur”, maka setidaknya ia harus memiliki tiga karakter utama sebagai muslim sejati di akhir zaman.

Karakter Pertama: Al-Yaqin (Keyakinan yang Kokoh)

Karakter pertama adalah al-yaqin, yaitu keyakinan yang kokoh tanpa keraguan.
Ketika seorang hamba telah mengetahui kebenaran, maka ia memegang kebenaran tersebut dengan penuh keyakinan, terlebih ketika Allah memberikan tambahan petunjuk berupa al-mubasyirat sebagai penguat iman.

Al-yaqin mencakup keyakinan terhadap Allah, terhadap Rasul-Nya, terhadap Islam, serta terhadap seluruh kabar yang Allah dan Rasul-Nya sampaikan, baik yang bersifat syariat maupun yang bersifat gaib.

Para ulama menjelaskan bahwa al-yaqin memiliki tingkatan:

  1. Yaqin al-akhbar, yaitu meyakini seluruh berita yang datang dari Allah dan Rasul-Nya.

  2. Yaqin ad-dalalah, yaitu keyakinan yang bersandar pada dalil Al-Qur’an dan hadis.

  3. Yaqin al-musyahadah, yaitu keyakinan yang sempurna, seakan-akan seseorang menyaksikan sendiri perkara gaib tersebut.

Inilah keyakinan yang dimiliki oleh para nabi dan rasul, seperti Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang meyakini perintah Allah melalui mimpi, Nabi Yusuf ‘alaihis salam yang membenarkan mimpinya sejak kecil, hingga Nabi Musa ‘alaihis salam yang berkata dengan penuh yakin, “Sesungguhnya Rabbku bersamaku dan Dia akan memberi petunjuk.”

Karakter Kedua: At-Taslim (Tunduk dan Berserah Diri)

Karakter kedua adalah at-taslim, yaitu penyerahan diri yang total, disertai kepatuhan dan ketundukan terhadap kebenaran, tanpa penolakan.

Ketika seorang muslim telah mengetahui bahwa sesuatu itu benar berdasarkan dalil, maka sikapnya adalah menerima, tunduk, dan patuh, bukan banyak berdebat, bukan mencari-cari alasan, dan bukan menolak karena tidak sesuai dengan kebiasaan, kelompok, atau kepentingan pribadi.

Baca Juga:  Pengertian dan Makna Perintah Agama Islam dalam Kehidupan Sehari-hari

Inilah sifat para nabi dan rasul. Mereka tidak memilih-milih perintah Allah berdasarkan logika atau keuntungan dunia, tetapi berserah diri sepenuhnya kepada kebenaran.

Karakter Ketiga: At-Tadhiyah (Rela Berkorban)

Karakter ketiga adalah at-tadhiyah, yaitu rela berkorban untuk agama Allah tanpa mengharapkan imbalan dunia.

Muslim sejati di akhir zaman siap mengorbankan kenyamanan, posisi, popularitas, bahkan kedudukan di hadapan manusia, demi membela kebenaran.
Ia tidak berhitung untung-rugi dunia ketika kebenaran telah jelas di hadapannya.

Tiga karakter ini—al-yaqin, at-taslim, dan at-tadhiyah—telah dicontohkan oleh para nabi, rasul, dan umat pilihan terdahulu. Dan karakter inilah yang harus dimiliki oleh kaum muslimin yang ingin mendapatkan pertolongan Allah di akhir zaman.

Tentu saja, tiga karakter ini bukan satu-satunya sifat muslim sejati, karena masih ada sifat lain seperti ikhlas, sabar, istiqamah, dan tawakal. Namun tiga karakter ini adalah pondasi utama agar seorang muslim tidak menjadi keras tanpa arah, lantang tanpa daya, dan berilmu tanpa cahaya petunjuk.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang memiliki keyakinan yang kokoh, ketundukan yang tulus, dan pengorbanan yang ikhlas di akhir zaman.

Wallahu a’lam bisshowab.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Enjoy this blog? Please spread the word :)

Scroll to Top