Ketika Al-Mubasyirat Ditolak: Guncangan Iman, Harta, dan Kehidupan di Akhir Zaman

Akhir zaman merupakan fase sejarah manusia yang penuh dengan ujian dan fitnah. Ujian tersebut tidak hanya berkaitan dengan harta, kekuasaan, dan kenikmatan dunia, tetapi juga berkaitan langsung dengan iman dan penerimaan terhadap petunjuk Allah. Salah satu bentuk ujian terbesar umat akhir zaman adalah sikap terhadap al-mubasyirat, yaitu kabar gembira dan mimpi yang benar sebagai sisa-sisa nubuwah yang Allah sisakan untuk umat Nabi Muhammad ﷺ.

Ironisnya, banyak manusia yang mengaku berilmu justru mengabaikan bahkan menolak al-mubasyirat. Penolakan inilah yang menjadi sebab terjadinya berbagai guncangan besar di akhir zaman.

Al-Mubasyirat dan Kehilangan Petunjuk Akhir Zaman

Ketika umat mengabaikan al-mubasyirat, mereka kehilangan petunjuk khusus dari Allah, termasuk petunjuk untuk mengenali Al-Mahdi. Tidak heran jika muncul kebingungan besar di tengah umat, mulai dari klaim-klaim kemunculan Al-Mahdi yang tidak terbukti hingga penolakan terhadap kebenaran ketika ia benar-benar datang.

Padahal, dalil-dalil tentang Al-Mahdi telah dibaca, hadis-hadis telah dikaji, dan isyarat-isyarat telah dijelaskan. Namun karena sejak awal tidak percaya pada al-mubasyirat, maka hati menjadi tertutup untuk menerima kebenaran tersebut.

Penolakan Al-Mubasyirat sebagai Kezaliman

Tidak percaya kepada al-mubasyirat bukanlah perkara sepele. Ia merupakan bentuk kezaliman umat akhir zaman. Mengapa demikian? Karena al-mubasyirat adalah bagian dari nubuwah Rasulullah ﷺ yang masih Allah sisakan sebagai rahmat bagi umat ini.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidak tersisa dari kenabian kecuali al-mubasyirat.”
Para sahabat bertanya, “Apakah al-mubasyirat itu?”
Beliau menjawab, “Mimpi yang benar yang dilihat oleh seorang muslim atau diperlihatkan kepadanya.”

Menolak al-mubasyirat berarti menolak sebagian dari warisan kenabian.

Baca Juga:  Kaitan Tafsir Tematik Surah Al-A‘raf dengan Pesan Mubasyirāt Muhammad Qasim: Seruan Menghindari Kesyirikan

Sunatullah: Kezaliman Mengundang Guncangan

Allah Subhanahu wa Ta‘ala telah menetapkan sunatullah bahwa kezaliman akan mendatangkan azab dan guncangan. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 155, Allah menjelaskan bahwa manusia akan diuji dengan rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.

Guncangan ini bukan sekadar musibah, melainkan peringatan dan sarana penyucian bagi mereka yang mau kembali kepada Allah. Namun bagi yang terus menolak kebenaran, guncangan tersebut berubah menjadi azab.

Lebih berat lagi, azab Allah bisa turun secara menyeluruh, tidak hanya kepada pelaku kezaliman, tetapi juga kepada mereka yang diam dan tidak mencegah kemungkaran.

Bentuk-Bentuk Guncangan Akibat Penolakan Al-Mubasyirat

Penolakan terhadap al-mubasyirat melahirkan berbagai guncangan besar dalam kehidupan umat akhir zaman:

1. Guncangan Iman

Banyak manusia menjadi bingung terhadap kebenaran. Yang haq dianggap batil, dan yang batil dianggap benar. Akibatnya, tidak sedikit yang murtad atau kehilangan arah dalam beragama.

2. Guncangan Ekonomi

Harta melimpah tetapi tidak membawa keberkahan. Gaji besar namun selalu kekurangan, usaha ramai tetapi keuntungan habis tanpa sisa. Inilah tanda dicabutnya keberkahan dunia.

3. Guncangan Sosial

Perpecahan keluarga dan umat semakin meluas. Perbedaan guru, kelompok, dan manhaj menjadi sebab putusnya ukhuwah, bahkan perceraian.

4. Guncangan Spiritual

Hati menjadi keras, sulit tersentuh oleh ayat Al-Qur’an dan hadis. Ilmu tidak lagi melahirkan ketawadhuan, melainkan kesombongan dan merasa paling benar.

5. Guncangan Politik

Pergantian kekuasaan tidak membawa keadilan. Ketidakadilan terus berulang karena jauhnya manusia dari cahaya nubuwah.

Baca Juga:  Makna dan Arti Mimpi Tentang Ya'juj dan Ma'juj dalam Islam

Al-Mubasyirat sebagai Petunjuk di Akhir Zaman

Para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa Al-Mahdi akan ditolong oleh Allah dengan berbagai bentuk pertolongan ilahiah, seperti ilham, firasat, taufik, karamah, dan rukyā shādiqah. Ibnu Katsir dan Ibnu Qayyim menegaskan bahwa mimpi yang benar adalah bagian dari nubuwah dan dapat menjadi petunjuk bagi orang-orang beriman.

Al-mubasyirat di akhir zaman bukan ajaran baru, melainkan pengingat dan peringatan agar umat tidak terlena oleh fitnah dunia, fitnah pengikut, jabatan, dan popularitas dakwah.

Ciri-Ciri Orang yang Selamat dari Guncangan

Allah menjelaskan bahwa orang-orang yang selamat dari guncangan akhir zaman memiliki ciri-ciri berikut:

  • Beriman dan tidak mencampuradukkan iman dengan kezaliman (kesyirikan)
  • Beriman kepada perkara gaib, termasuk al-mubasyirat
  • Tidak menolak tanda-tanda Allah meskipun datang melalui mimpi orang saleh
  • Membersihkan hati dari kesombongan dan kedengkian
  • Menegakkan keadilan dimulai dari diri sendiri
  • Menjadikan Al-Qur’an dan sunah salaf sebagai timbangan kebenaran

Penutup

Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”

Selama manusia terus menolak kebenaran akhir zaman, termasuk al-mubasyirat, maka guncangan demi guncangan akan terus terjadi. Namun bagi mereka yang kembali kepada petunjuk Allah, beriman, dan merendahkan diri di hadapan kebenaran, Allah akan memberikan keamanan dan petunjuk, baik di dunia maupun di akhirat.

Semoga kita termasuk hamba-hamba yang diselamatkan dari guncangan akhir zaman.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Enjoy this blog? Please spread the word :)

Scroll to Top