
Pelajaran Akhir Zaman dari Ibnu Muljam dan Ibnu Saba
Salah satu kesalahan besar dalam memahami fitnah akhir zaman adalah anggapan bahwa Dajjal akan muncul secara tiba-tiba, tanpa pendahulu, tanpa pola, dan tanpa proses panjang. Padahal Rasulullah ﷺ telah memberi peringatan yang sangat jelas: sebelum Dajjal besar muncul, akan hadir terlebih dahulu dajjal-dajjal kecil, para pendusta yang menyesatkan manusia dengan nama agama, kesalehan, dan klaim perbaikan umat.
Sejarah Islam tidak pernah hampa dari pelajaran. Setiap fitnah besar selalu diawali oleh penyimpangan yang tampak religius. Di sinilah umat sering lengah: ketika kesesatan dibungkus dengan ibadah, jargon tauhid, cinta Ahlul Bait, atau semangat menegakkan hukum Allah.
Kajian ini bukan bertujuan menyamakan individu tertentu dengan Dajjal, melainkan mengenali pola penyesatan—pola yang kelak akan disempurnakan oleh Dajjal di akhir zaman. Dengan memahami pola ini, umat diharapkan tidak mengulang kesalahan yang sama.
Fitnah Tidak Datang Seketika, Tapi Bertahap
Allah ﷻ menetapkan sunnatullah bahwa fitnah datang secara bertahap, bukan sekaligus. Sebagaimana firman-Nya bahwa setiap nabi memiliki musuh dari kalangan setan manusia dan jin. Maka sebelum fitnah terbesar bernama Dajjal hadir, akan muncul fitnah-fitnah pendahuluan sebagai latihan kesesatan bagi umat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa mendengar tentang Dajjal, hendaklah ia menjauh darinya.”
Menjauh bukan hanya dari sosoknya, tetapi dari polanya.
Pola Pertama: Khawarij dan Tragedi Ibnu Muljam
Salah satu contoh nyata fitnah pendahuluan adalah munculnya Khawarij, yang dipelopori oleh Abdurrahman Ibnu Muljam. Ia bukan seorang kriminal atau preman, melainkan dikenal sebagai ahli ibadah, rajin membaca Al-Qur’an, shalat malam, dan hidup wara’.
Namun kesalehan itu tidak dibimbing oleh fikih dan manhaj sahabat.
Setelah peristiwa tahkim antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abi Sufyan, Khawarij menuduh Ali berhukum kepada manusia dan mengkafirkannya. Mereka mengangkat slogan yang benar:
“Lā hukma illā lillāh” (Tidak ada hukum kecuali milik Allah)
Namun, sebagaimana dikatakan Ali radhiallahu ‘anhu:
“Kalimat yang benar, tetapi dimaksudkan untuk kebatilan.”
Inilah awal tahrif makna dalam sejarah Islam—kerusakan pemahaman yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar dosa amalan.
Dengan keyakinan sesat itu, Ibnu Muljam membunuh Ali radhiallahu ‘anhu, mengira sedang menegakkan agama.
Rasulullah ﷺ telah menggambarkan sifat Khawarij:
-
Membaca Al-Qur’an tetapi tidak melewati tenggorokan
-
Keluar dari Islam seperti anak panah keluar dari busurnya
-
Semangat tinggi, tetapi tanpa hikmah dan sunah
Agama tanpa pemahaman, ibadah tanpa sunah, dan semangat tanpa manhaj—inilah pola awal Dajjal.
Ibnu Abbas dan Kemenangan Ilmu atas Emosi
Ketika fitnah Khawarij merebak, Abdullah bin Abbas diutus menemui mereka. Dengan kecerdasan, kelembutan, dan hujah Al-Qur’an dan Sunah, beliau mematahkan seluruh syubhat mereka:
-
Tentang tahkim: Allah membolehkan manusia menjadi hakim bahkan dalam perkara kecil, apalagi untuk mencegah pertumpahan darah.
-
Tentang ghanimah: apakah mereka rela menawan Aisyah binti Abu Bakar?
-
Tentang penghapusan gelar Amirul Mukminin: Rasulullah ﷺ sendiri melakukannya dalam Perjanjian Hudaibiyah.
Hasilnya, sekitar 2.000 orang kembali kepada kebenaran.
Inilah bukti bahwa ilmu yang lurus mampu menyelamatkan umat, bahkan di tengah fitnah besar.
Pola Kedua: Syiah Rafidah dan Abdullah Ibnu Saba
Pola berikutnya adalah fitnah yang dibangun oleh Abdullah bin Saba, seorang Yahudi yang menyusup ke tubuh umat Islam. Ia mengangkat Ali radhiallahu ‘anhu secara berlebihan (ghuluw), mengklaim cinta Ahlul Bait, namun sekaligus:
-
Mencela sahabat-sahabat besar seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah
-
Membangun agama di atas emosi, dendam, dan narasi kezaliman
-
Merusak tauhid atas nama keadilan
Inilah propaganda Dajjal: perasaan diutamakan, wahyu ditinggalkan. Tampak membela, hakikatnya menghancurkan agama dari dalam.
Imam Al-Barbahari menyatakan:
“Bidah pertama yang muncul dalam Islam adalah Rafidah.”
Jika Khawarij merusak makna jihad, maka Rafidah merusak makna wilayah dan cinta Ahlul Bait.
Dajjal: Penyempurna Seluruh Pola Kesesatan
Dajjal tidak membawa pola baru. Ia hanya mengumpulkan dan menyempurnakan seluruh pola kesesatan sebelumnya:
-
Kesalehan palsu ala Khawarij
-
Propaganda emosi ala Rafidah
-
Klaim kebenaran tanpa manhaj
-
Perusakan makna dalil
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak ada fitnah yang lebih besar sejak penciptaan Adam hingga kiamat selain Dajjal.”
Keselamatan tidak diukur dari banyaknya pembahasan tentang Dajjal, tetapi dari kesungguhan seseorang dalam berpegang pada sunah Nabi ﷺ.
Jalan Selamat: Kembali ke Manhaj Salaf dan Mubasyirat
Imam Malik berkata:
“Tidak akan baik umat ini kecuali dengan apa yang telah memperbaiki generasi awalnya.”
Manhaj itu adalah:
-
Al-Qur’an dan Sunah
-
Pemahaman sahabat
-
Ilmu, bukan emosi
-
Sunah, bukan tradisi
-
Manhaj, bukan klaim
Di tengah fitnah akhir zaman yang semakin kompleks, Allah tidak membiarkan hamba-Nya. Dia menguatkan mereka dengan mubasyirat (ru’ya shadiqah) sebagai petunjuk tambahan, bukan pengganti wahyu, tetapi penguat arah di masa gelap.
Penutup
Akhir zaman tidak dibangun dalam satu hari. Ia tumbuh perlahan, melalui fitnah yang dibiarkan tanpa ilmu. Sejarah telah memberi peringatan, namun tidak memaksa.
Siapa yang gagal belajar dari sejarah umat, akan gagal menghadapi akhir zaman.
Keselamatan bukan pada kecerdikan membaca tanda, tetapi pada keteguhan berpegang pada wahyu dan manhaj Nabi ﷺ termasuk memperhatikan Mubasyirat. Bukan malah mengabaikan ataupun menghinakan. Karena Mubasyirat adalah 1 dari 46 bagian Kenabian.
Wallahu a’lam bishshowab.

