Pendahuluan
Di akhir zaman, umat Islam tidak kekurangan dai. Mimbar-mimbar penuh, kajian tersebar luas, dan ilmu agama mudah diakses. Namun, fenomena yang paling mengkhawatirkan justru bukan sedikitnya dai, melainkan melimpahnya dai yang tidak lagi berada dalam bimbingan petunjuk Ilahi. Kajian ini mengulas tanda-tanda para dai yang ditinggalkan petunjuk akhir zaman, agar umat mampu memilah, memahami arah zaman, dan tidak terjerumus dalam fitnah yang semakin dahsyat.
Ilmu yang Dituhankan
Salah satu ciri paling menonjol adalah ketika ilmu tidak lagi menjadi jalan menuju kebenaran, tetapi justru dijadikan sesembahan. Sebagian dai tanpa sadar telah mentuhankan ilmu mereka sendiri. Apa pun yang tidak sesuai dengan standar keilmuan atau kelompoknya dianggap bukan kebenaran. Padahal, sikap seperti ini berbahaya dan menjerumuskan.
Allah telah memperingatkan bahwa kesombongan akan melahirkan penyesalan. Kelak di akhirat, para pengikut akan menghujat tokohnya, dan para tokoh akan menyalahkan setan. Semua itu terjadi karena mereka menolak kebenaran saat masih ada kesempatan untuk bertobat.
Kehilangan Arah Dakwah
Ketika dai tidak lagi dibimbing petunjuk akhir zaman, Allah mengguncang mereka. Di dunia, mereka kehilangan arah dakwah: tidak teratur, reaktif, dan tidak memiliki panduan Ilahi. Di akhirat, guncangan itu lebih dahsyat karena mereka telah mendustakan sebagian nubuwah Nabi Muhammad ﷺ, khususnya tentang al-mubasyirat.
Al-mubasyirat adalah kabar gembira dan peringatan dari Allah, yang sering hadir dalam bentuk rukyā ṣādiqah. Mengabaikannya berarti menutup diri dari rahmat Allah yang disiapkan bagi umat akhir zaman.
Melimpah Dai, Minim Basirah
Ironisnya, banyak dai memiliki ilmu yang luas: hafal Al-Qur’an, memahami tafsir, hadis, dan fikih, bahkan lulusan lembaga-lembaga ternama. Namun keilmuan itu tidak diiringi dengan basirah. Hati mereka tertutup oleh kesombongan, sehingga sulit menerima petunjuk yang datang di luar kerangka pikir mereka.
Padahal, akhir zaman tidak hanya membutuhkan orang berilmu, tetapi orang yang mampu membaca tanda-tanda zaman. Dakwah bukan tentang popularitas atau banyaknya pengikut, melainkan membimbing umat agar selamat dari fitnah akhir zaman.
Dakwah Tanpa Basirah
Allah berfirman dalam Surah Yusuf ayat 108 bahwa jalan dakwah para nabi adalah menyeru kepada Allah dengan basirah. Dakwah tanpa basirah adalah cacat secara manhaj dan berpotensi melahirkan penyimpangan.
Basirah adalah cahaya yang Allah letakkan di dalam hati seorang hamba, berupa ketajaman iman untuk membedakan kebenaran dan kebatilan dalam realita yang gelap. Bentuk basirah bisa berupa pemahaman yang lurus, firasat, ilham, dan kemampuan membaca ayat-ayat Allah dalam kehidupan nyata.
Gagap Membaca Fitnah Zaman
Tanda lain dai yang ditinggalkan petunjuk akhir zaman adalah gagap membaca fitnah dan perubahan zaman. Mereka memahami teks, tetapi gagal menghubungkannya dengan realita. Dalil dan kenyataan tidak bertemu.
Akibatnya, dakwah hanya berkutat pada perdebatan internal, konflik kelompok, dan persoalan cabang fikih, sementara realita besar akhir zaman dibiarkan tanpa arah. Mereka sibuk belajar, tetapi tidak memahami bagaimana ayat dan hadis bekerja dalam kehidupan nyata.
Menolak Isyarat dan Penguatan Allah
Petunjuk Allah tidak hanya turun melalui dalil lahiriah, tetapi juga melalui isyarat batin seperti firasat, ilham, dan rukyā ṣādiqah. Namun, banyak dai menolak bentuk petunjuk ini dengan alasan tidak rasional atau tidak sesuai dengan standar ilmu mereka.
Padahal, Al-Qur’an dan sejarah para nabi menunjukkan bahwa rukyā ṣādiqah adalah bagian dari penguatan Allah, baik bagi orang beriman maupun sebagai peringatan bagi orang kafir. Mengabaikan hal ini berarti menolak kasih sayang Allah yang ingin menyiapkan hamba-Nya sebelum datangnya peristiwa besar.
Dakwah Tanpa Strategi Ilahiah
Tanda berikutnya adalah dakwah yang tidak memiliki strategi ilahiah. Dakwah menjadi reaktif, emosional, dan mengikuti tren. Ketika satu isu ramai, isu itu diangkat; ketika tren berubah, arah dakwah pun berganti.
Padahal, fitnah akhir zaman akan terus berdatangan. Tanpa strategi yang dibimbing wahyu, umat akan mudah panik, bingung, dan kehilangan pegangan. Sebaliknya, orang yang dibimbing oleh mubasyirat akan lebih kokoh karena mengetahui arah dan peta perjuangan.
Ilmu Banyak, Namun Tidak Mengamalkan
Al-Qur’an mengumpamakan orang yang diberi ilmu tetapi tidak mengamalkannya seperti keledai yang membawa kitab-kitab tebal. Bebannya berat, tetapi ia tidak memahami isinya. Inilah gambaran sebagian dai akhir zaman: gelar banyak, kitab banyak, guru banyak, tetapi tidak memiliki basirah.
Allah tidak memandang banyaknya ilmu, melainkan kejujuran hati. Siapa yang mau menerima kebenaran, Allah akan berikan basirah. Sebaliknya, kesombongan akan mencabut cahaya ilmu dari hati seseorang.
Penutup
Fitnah akhir zaman digambarkan Rasulullah ﷺ seperti potongan malam yang gelap gulita. Seseorang bisa beriman di pagi hari dan kafir di sore hari, atau sebaliknya. Dalam kondisi seperti ini, umat sangat membutuhkan dai yang dibimbing petunjuk Ilahi, memiliki basirah, dan memahami arah zaman.
Al-mubasyirat adalah rahmat Allah yang disisakan bagi umat akhir zaman. Ia bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk dijadikan petunjuk, penguat iman, dan penunjuk arah. Semoga Allah memberikan kita hati yang jujur, basirah yang terang, dan kemampuan untuk menerima kebenaran sebelum semuanya menjadi terlambat.



