Perpustakaan Eskatologi Majelis Gaza Part 1

Berikut ini Perpustakaan Eskatologi Majelis Gaza Part 1. Dengan mengharap ridho Allahﷻ majelis Gaza terus bergerak dan berusaha mencapai tujuan utama demi kebangkitan Islam. Berikut merupakan Perpustakaan Eskatologi Majelis Gaza yang terbagi menjadi dua:

2).PETUNJUK AL-MAHDI DALAM BENTUK MIMPI
Berdasarkan Dalil dari Al Qur’an dan Hadits, serta Literatur Klasik.

Berikut ringkasan tulisan, mengkaji relasi antara konsep al-Mahdi sebagai sosok yang “mendapat petunjuk” dengan mekanisme transmisi ilahiah berupa ru’ya ṣaliḥah (mimpi yang benar).

Upaya ini menguraikan secara komprehensif bagaimana petunjuk al-Mahdi dalam sejarah Islam dipahami sebagai bentuk ru’ya ṣadiqah (mimpi yang benar), bukan wahyu baru, melainkan bagian dari kesinambungan ilham yang diwariskan pasca wafatnya Nabi Muhammad ﷺ.

Argumentasi ini didasarkan pada teks-teks otoritatif al-Qur’an, hadits, serta pandangan ulama klasik. Umat Islam mengetahui bahwa setelah wafatnya Nabi Muhammad ﷺ, tidak ada lagi wahyu yang turun, tetapi masih tersisa bentuk “petunjuk” berupa mimpi yang benar.

Dengan demikian, petunjuk al-Mahdi secara ruhaniyah dapat difahami sebagai proses ilhām (inspirasi) dan ru’ya sadiqah (mimpi benar) yang berfungsi meneguhkan serta membimbing perannya sebagai hujjah akhir zaman.

1). PENDAHULUAN.

Dalam literatur eskatologi Islam, figur al-Mahdi menempati posisi penting sebagai pemimpin yang akan menegakkan keadilan menjelang akhir zaman.

Secara etimologis, “al-Mahdī” berasal dari kata huda (petunjuk), sehingga berarti “orang yang diberi petunjuk”.

Namun, bentuk petunjuk ini bukanlah wahyu sebagaimana diterima Nabi Muhammad ﷺ, sebab wahyu telah terputus dengan wafatnya beliau.

Pertanyaan ilmiah yang muncul adalah: melalui mekanisme apakah al-Mahdi menerima petunjuk Allahﷻ?

Tulisan ini menjelaskan bahwa petunjuk tersebut terjadi melalui mimpi yang benar (ru’ya sadiqah), yang oleh Nabi ﷺ ditegaskan sebagai “bagian dari nubuwah” yang masih tersisa pasca wafat beliau.

2). Landasan Teologis: Wahyu dan Ru’ya Ṣadiqah.

2.1. Terputusnya Wahyu.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya kerasulan dan kenabian telah terputus, maka tidak ada lagi rasul dan nabi setelahku.” (HR. Tirmidzi, no. 2272; sahih).

Hadits ini menegaskan bahwa pasca wafat Nabi, tidak ada lagi mekanisme wahyu syar‘i.

2.2. Ru’ya Ṣaliḥah sebagai Warisan Nubuwah.

Namun Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Tidak tersisa dari kabar kenabian kecuali al-mubashshirat.” Para sahabat bertanya: “Apakah al-mubashshirat itu?” Beliau menjawab: “Yaitu mimpi yang baik (ru’ya ṣaliḥah) yang dilihat oleh seorang muslim atau diperlihatkan kepadanya.”(HR. Bukhari, no. 6989).

Hadits lain menambahkan: “Mimpi yang benar adalah satu bagian dari empat puluh enam bagian kenabian.” (HR. Bukhari, no. 6986; Muslim, no. 2263).

Dengan demikian, mimpi benar memiliki legitimasi sebagai bentuk petunjuk ilahiah non-wahyu (beberapa kitab menyampaikan itu adalah wahyu kecil yang tidak membawa syiriat baru).

2.3. Ru’ya dalam al-Qur’an.

Al-Qur’an merekam fungsi petunjuk dalam mimpi :
• Nabi Ibrahim a.s. bermimpi menyembelih Ismail (QS. ash-Shaffat: 102–105).
• Nabi Yusuf a.s. menerima visi profetik melalui mimpi (QS. Yusuf: 4–6).

Kedua contoh ini menunjukkan bahwa ru’ya ṣadiqah dapat berfungsi sebagai petunjuk ilahi yang autentik.

3). Mahdiyah sebagai Figur yang Mendapat Petunjuk.

3.1. Makna Linguistik.
Istilah al-Mahdi berarti “yang diberi petunjuk” (al-ladzi hadahu Allah). Imam Ibn Katsir dalam an-Nihayah fī al-Fitan wa al-Malahim menjelaskan: “Dinamakan al-Mahdi karena ia mendapat petunjuk kepada kebenaran.”

3.2. Hadits-Hadits tentang al-Mahdi.

• Nabi ﷺ bersabda: “Al-Mahdi dari umatku, dari keturunan Fatimah.” (HR. Abu Dawud, no. 4286; sahih).
• Dalam riwayat lain: “Kami, Ahlul Bait, Allah memilih untuk kami yang terakhir sebagaimana Dia memilih untuk kami yang pertama. Akan ada al-Mahdi dari Ahlul Baitku…” (HR. Ibn Majah, no. 4086).

Betul, memang tidak ada hadits sahih yang menyatakan langsung bahwa al-Mahdi menerima petunjuk berupa mubasyirat. Namun istilah Mahdi mengindikasikan ia memperoleh hudā (petunjuk khusus).

4).Ru’ya sebagai Mekanisme Petunjuk al-Mahdi.

4.1.Ketiadaan Wahyu Baru.

Karena wahyu telah terputus, maka bentuk petunjuk al-Mahdi bukanlah wahyu syar‘i, melainkan inspirasi ilahiah dan mimpi yang benar. Imam an-Nawawi dalam Syarh Muslim menjelaskan: “Mimpi benar adalah sesuatu yang Allah tampakkan sebagai tanda bagi hamba-Nya, sebagai penguat (petunjuk), peringatan, dan kabar gembira.”

4.2. Hubungan Mimpi dengan Petunjuk Akhir Zaman.

Dalam konteks akhir zaman, mimpi memiliki signifikansi besar. Nabi ﷺ bersabda; “Apabila telah dekat masa (akhir zaman), hampir tidak ada mimpi seorang muslim yang dusta.” (HR. Muslim, no. 2263).

Hadits ini menegaskan bahwa validitas mimpi semakin dominan menjelang akhir zaman — masa di mana al-Mahdi akan muncul.

4.3. Mimpi sebagai Legitimas Ruhaniyah Mahdi.

Sejumlah ulama akhir zaman, seperti Imam as-Suyuthi dalam al-‘Urf al-Wardi fī Akhbar al-Mahdi, menegaskan bahwa tanda-tanda Mahdi dapat terhubung dengan ru’ya.

Sebab, meski al-Mahdi bukan nabi, ia tetap seorang hamba yang diberi petunjuk khusus, dan sarana petunjuk sah itu adalah ru’ya ṣaliḥah.

5). Implikasi Epistemologis.

5.1. Al-Mahdi bukan penerima wahyu, sehingga ia tidak membawa syariat baru, tetapi membangkitkan kembali Islam murni.

5.2. Petunjuk ruhaniyah al-Mahdi berasal dari mimpi yang benar, sejalan dengan hadits tentang “sisa kenabian”.

5.3. Mimpi berfungsi sebagai legitimasi kolektif — baik bagi dirinya maupun pengikutnya — karena mimpi tentang Mahdi akan tersebar di berbagai penjuru (ru’ya jama‘iyyah).

5.4. Aspek ilmiah: Mimpi dapat diteliti melalui pendekatan epistemologi Islam, psikologi transpersonal, dan kajian sejarah eskatologi.

6). Kesimpulan.

Berdasarkan dalil Qur’an, hadits, dan penjelasan ulama :

6.1. Wahyu telah terputus dengan wafatnya Nabi Muhammad ﷺ.

6.2. Satu-satunya bentuk “petunjuk ilahi” yang sah pasca kenabian adalah ru’ya sadiqah (mimpi benar).

6.3. Sebutan “al-Mahdi” menegaskan bahwa ia adalah figur yang mendapat petunjuk, dan bentuk petunjuk tersebut terjadi melalui mimpi yang benar, bukan wahyu.

Baca Juga:  Dokumenter Kampung Uzlah Majelis Akhir Zaman (Gaza)

6.4. Dengan demikian, bahwa petunjuk al-Mahdi adalah melalui mimpi memiliki dasar teologis, historis, dan epistemologis yang kuat.

6.5. Mimpi benar adalah sisa kenabian yang diakui dalam hadis sahih.

6.6. Ulama klasik dan kontemporer sama-sama menegaskan legitimasi mimpi sebagai petunjuk ruhani.

6.7. Maka, dapat dipahami bahwa al-Mahdi sebagai figur akhir zaman akan mendapat petunjuk melalui mimpi, bukan wahyu baru.

Rujukan Utama:
• Al-Qur’an: QS. Yusuf: 4–6; QS. ash-Shaffat: 102–105.
• Shahih Bukhari no. 6986, 6989; Shahih Muslim no. 2263.
• Sunan Abu Dawud no. 4286; Sunan Ibn Majah no. 4086.
• Ibn Katsir, an-Nihayah fī al-Fitan wa al-Malahim.
• Jalaluddin as-Suyuthi, al-‘Urf al-Wardi fī Akhbar al-Mahdi.
• Imam an-Nawawi, Syarh Sahih Muslim.

2) AL-MAHDI & PUTRA BANI TAMIM (PBT) ADALAH SOSOK UMMI MAKNAWI – BAGAIMANA BENTUK BIMBINGAN ALLAH UNTUK PBT ?

I. Konsep Ummiyyah dalam Sunnatullah Risalah.

1. Makna dasar.

Secara bahasa:
berasal dari kata umm, yaitu “ibu”, sehingga ummī berarti orang yang tetap seperti keadaan saat dilahirkan ibunya — belum belajar membaca, menulis, atau mengambil ilmu dari manusia.

Maka ummiyyah maknawiyyah berarti:
Bersih dari pengaruh ideologi, ilmu manusia, atau sistem dunia, dan mendapat bimbingan langsung dari Allah.

2. Prinsip Qur’ani yang universal.

QS. Asy-Syūrā [42]: 52;
“Demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (wahyu) dari perintah Kami. Sebelumnya engkau tidak mengetahui apa itu Kitab dan apa itu iman. Tetapi Kami jadikan ia sebagai cahaya yang dengannya Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.”

Tafsir Fakhruddin ar-Rāzī:
Ayat ini menunjukkan sunnatullah bahwa seseorang yang ditunjuk Allah membawa petunjuk akan mendapat ilmu langsung (nūr ilāhī) tanpa melalui perantara manusia.

Kesimpulan:

Semua yang dipilih Allahﷻ sebagai hujjah-Nya di bumi — baik nabi, rasul, maupun mujaddid dan pemimpin akhir zaman — memiliki jalur wahbiy (pemberian langsung), bukan kasbiy (hasil belajar).

II. Dalil-dalil bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah ummī (tidak belajar sebelumnya).

1. Dalil utama: QS. al-‘Ankabūt [29]: 48;
“Dan engkau (wahai Muhammad) tidak pernah membaca suatu kitab sebelumnya dan tidak (pula) menulisnya dengan tangan kananmu; seandainya demikian, tentulah orang-orang yang batil akan ragu.”

Makna tafsir (Ibn Katsir, al-Ṭabarī, al-Qurṭubī):
Ayat ini menegaskan bahwa Rasulullah ﷺ tidak pernah belajar dari kitab mana pun sebelum diwahyukan kepadanya al-Qur’an. Hikmahnya adalah agar tidak ada yang menuduh bahwa beliau hanya menyalin dari kitab sebelumnya.

Ummī di sini bukan cela, tapi mukjizat — bahwa beliau membawa wahyu yang paling sempurna tanpa belajar dari manusia.

2. Dalil lain: QS. al-A‘rāf [7]: 157–158;
“(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummī, yang mereka dapati tertulis (berita tentangnya) di Taurat dan Injil yang ada pada mereka.”

Tafsir al-Rāzī dan al-Qurṭubī:
Kata al-Ummī berarti “yang tidak menulis dan tidak membaca”, seperti kondisi kebanyakan orang Arab waktu itu. Namun di sisi lain, maknanya juga “yang masih murni”, belum terkontaminasi oleh ajaran-ajaran buatan manusia.

3. Hadits sahih.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Kita adalah umat yang ummī, tidak menulis dan tidak menghitung (berdasar sistem rumit).”
— (HR. al-Bukhārī no. 1913, Muslim no. 1080).

Penjelasan ulama:
Hadits ini bukan merendahkan umat Islam, tapi menegaskan kesederhanaan dan keaslian wahyu — Islam tidak bergantung pada kecanggihan ilmu duniawi, tetapi pada petunjuk wahyu langsung dari Allah.

III. Apakah semua nabi “ummi” atau tidak berilmu sebelumnya?

Secara mayoritas ulama tafsir dan aqidah, tidak semua nabi “ummi” secara literal (tidak bisa membaca/menulis), tetapi semua nabi “ummi” secara maknawi, yaitu: “Tidak mendapatkan ilmu risalah dari manusia sebelumnya.”

1. Dalil universal: QS. asy-Syūrā [42]: 52
“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (wahyu) dari perintah Kami. Sebelumnya engkau tidak mengetahui apa itu Kitab dan apa itu iman, tetapi Kami jadikan ia sebagai cahaya…”

Tafsir:
Menurut Imam Fakhruddin al-Rāzī dan al-Ṭabarī, ayat ini tidak hanya untuk Nabi Muhammad ﷺ, tapi menggambarkan sunnatullah risalah:

Para nabi sebelum menerima wahyu tidak mengenal detail syariat langit, bahkan kadang tidak tahu bahwa dirinya akan menjadi nabi.

2). Nabi Musa As.

Sebelum diangkat menjadi nabi, Musa hanya dikenal sebagai pangeran istana Firaun dan penggembala kambing di Madyan, bukan ulama Taurat.

QS. Ṭāhā [20]: 9–14;
Kisah panggilan di lembah Thuwa: Allah memanggil Musa langsung, lalu memberinya mukjizat dan risalah setelah masa pengembaraan dan tanpa guru manusia.

Ini menunjukkan pengangkatan langsung oleh Allah, bukan hasil pendidikan manusia.

3. Nabi Ibrahim As.

Beliau hidup di tengah penyembah berhala, bahkan ayahnya sendiri pembuat patung.

Beliau sampai pada tauhid melalui ilham dan fitrah, bukan karena belajar dari kitab atau guru.

QS. al-An‘ām [6]: 76–79;
“Tatkala malam telah gelap, ia melihat bintang… kemudian bulan… kemudian matahari… lalu berkata: sesungguhnya aku hadapkan wajahku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi.”

Ini menggambarkan proses ilham fitri, bukan hasil pelajaran formal.

4. Nabi Isa As.

Ini justru lebih tegas: Beliau berbicara dalam buaian, tanpa guru, tanpa belajar.

QS. Maryam [19]: 30;
“Dia berkata: Sesungguhnya aku adalah hamba Allah; Dia memberiku kitab dan menjadikanku nabi.”

Nabi Isa adalah contoh ummi sejak lahir, tetapi diberi ilmu langsung oleh Allah.

5. Nabi Nuh As., Hud As., Shalih, dan nabi-nabi Arab.
Tidak ada riwayat bahwa mereka mempelajari kitab sebelumnya; bahkan mereka diutus kepada kaum yang tidak memiliki tradisi kitab suci. Maka jelas bahwa risalah mereka murni dari wahyu, bukan dari pendidikan manusia.

Baca Juga:  Banyak yang Percaya Mimpi Muhammad Qasim Namun Tidak Banyak yang Mau Berjuang

IV. Hikmah Kenabian Ummi.

1). Menegaskan sumber ilmu risalah langsung dari Allah.

Tidak ada unsur imitasi, plagiarisme, atau pengaruh manusia.

2. Mukjizat epistemologis.

Seorang yang tidak belajar bisa berbicara paling benar tentang hukum, akhlak, dan metafisika — karena ilmunya bukan dari dunia, tapi dari langit.

3. Mendidik manusia bahwa petunjuk Allah lebih tinggi dari pendidikan manusia.

“Ilmu adalah cahaya yang Allah pancarkan ke dalam hati.” (perkataan Imam al-Syafi‘i).

4. Menjaga keaslian wahyu / Petunjuk.

Seandainya para nabi adalah lulusan lembaga keagamaan sebelumnya, maka manusia akan berkata, “Dia hanya meneruskan ajaran gurunya.”

V. Dalil bahwa Al-Mahdi Dibimbing Langsung oleh Allah.

1. Hadits Sahih:
“Allah akan memperbaikinya (al-Mahdi) dalam satu malam.”
— HR. Ibn Mājah no. 4085; Ahmad (1/84); sanad hasan menurut al-Albānī.

Penjelasan:

• Imam Ibn Katsir (al-Bidāyah wa an-Nihāyah, 19/27) menjelaskan :

“Maknanya: Allah memberinya taufik, hikmah, dan ilham dalam satu malam setelah sebelumnya bukan ahli politik, bukan ulama besar, bukan orang yang menonjol.”

• Ibn al-Qayyim menambahkan:
“Allah akan membukakan pintu ilmu dan hikmah di hatinya tanpa guru dan tanpa belajar panjang.”

Ini adalah definisi sempurna dari ummiyyah maknawiyyah:
Tidak melalui lembaga, tapi langsung disucikan dan diajari oleh Allah.

2. Hadits lain: Al-Mahdi mengikuti sunnah langsung Rasulullah ﷺ

“Al-Mahdi itu dari keturunanku, ia akan beramal dengan sunnahku, dan Allah akan menurunkan hujan karenanya.”
— (HR. al-Ḥākim, al-Mustadrak, 4/557; sanad sahih)

Makna tafsir:

Al-Mahdi tidak belajar sunnah dari ulama formal, tetapi Allah yang “menurunkan” pemahaman sunnah itu kepadanya
— sesuai QS. al-Baqarah [2]:269; “Allah memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki.”

3. Ciri khas al-Mahdi: Dikenal setelah sebelumnya “tidak dikenal”
“Manusia tidak mengenalnya, lalu Allah menampakkannya dalam satu malam.” — (HR. Nu‘aim bin Ḥammād, Kitāb al-Fitan, 1/363).

Implikasi maknawi:

Al-Mahdi tidak berasal dari sistem pendidikan ulama konvensional; dia tampil dengan bimbingan ilahiyah langsung — karena ia ummī maknawi, bukan produk sistem manusia.

VI. Putra Banī Tamīm: Pembuka Jalan al-Mahdi dan Ilmu Wahbiy.

1. Hadits dan atsar tentang Panji dari Timur.

“Akan keluar panji-panji hitam dari Khurasan, tidak ada yang bisa menghalanginya sampai ditegakkan di Baitul Maqdis.”
— (HR. Ibn Mājah no. 4082; al-Hākim 4/463, sahih).

Riwayat lain menambahkan:
“Di antara mereka ada seorang laki-laki dari Banī Tamīm, bernama Syu‘aib bin Ṣāliḥ.” — (HR. Nu‘aim bin Ḥammād, Kitāb al-Fitan, no. 573).

2. Karakter ruhani Putra Banī Tamīm (PBT).

Para ulama seperti Imam al-Qurṭubī (Tadhkirah, hal. 701) menjelaskan :

“Putra Banī Tamīm bukanlah ulama kitab, tetapi pemuda saleh yang diberi bashīrah (penglihatan batin) dan keberanian ilahi, hingga menjadi panglima panji-panji hitam.”

Analisis maknawi:

• Tidak disebut sebagai “faqīh” atau “muhaddits”.

• Dipilih karena iman, bashīrah, dan kesucian jiwanya.

• Ini menandakan ummiyyah maknawiyyah — kesucian fitrah dan ilmu ladunni yang Allah tanamkan.

3. Dalil Qur’ani: Ilmu Ladunni untuk Orang Saleh, bukan hanya Nabi

QS. al-Kahfi [18]: 65;
“Lalu mereka mendapati seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami anugerahkan rahmat dari sisi Kami dan Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.”

Ulama sepakat ini tentang Khidhr, yang bukan nabi menurut banyak pendapat, tapi diberi ilmu ladunni (langsung dari Allah).

Maka logis jika Putra Banī Tamīm dan al-Mahdī pun mendapat ilmu ladunni sebagai imam dan pembuka jalan di akhir zaman — ummi maknawi dalam konteks wahbiy (ilham langsung).

VII. Ilmiah-Tauhidiyah: Ummiyyah Maknawiyyah Sebagai Tanda Ilmu Wahbiy.

Aspek Nabi / Rasul Al-Mahdi Putra Banī Tamīm
Sumber ilmu Wahyu langsung dari Allah Ilham dan taufiq langsung dari Allah (“yushliḥuhullāhu fī laylah”) Bashīrah dan ilham ladunni
Belajar dari manusia? Tidak Tidak dikenal berguru pada ulama besar Tidak disebut sebagai ulama, tetapi komandan panji
Fungsi ummiyyah Menjaga kemurnian risalah Menjadi bukti petunjuk Allah bukan buatan Menjadi jalan dan saksi kebenaran ilham ilahi
Dalil Qur’an/Hadits utama Al-‘Ankabūt:48, Asy-Syūrā:52 Ibn Mājah 4085, Ahmad 1/84 Al-Kahfi:65, Fitan Nu‘aim bin Ḥammād 573
Makna maknawi Tidak terikat sistem manusia Dibimbing langsung oleh Allah Fitrah dan ilham murni dari Rabb al-‘Ālamīn

VIII. Kesimpulan Teologis.

1). Al-Mahdi dan Putra Banī Tamīm adalah ummī secara maknawi, yaitu:

a. Tidak berguru kepada manusia,
b. Tidak mengadopsi sistem politik atau agama duniawi,
c. Ilmunya datang dari nūr ilāhī (ilham dan taufiq langsung).

2). Dalil Qur’an mendukung pola ini melalui kisah Musa–Khidhr, Ibrahim, dan Rasulullah ﷺ sendiri.

3). Hadits-hadits sahih menegaskan bahwa al-Mahdi akan diperbaiki Allah “dalam semalam” dan muncul dari ketidakdikenalan menjadi pemimpin akhir zaman — ini hanya mungkin jika ia mendapat ilmu wahbiy (ladunni).

4). Putra Banī Tamīm sebagai pembuka jalan bukan karena ilmunya duniawi, tetapi karena kesucian fitrah dan karāmah bashīrah-nya, sebagaimana Khidhr.

MAJELIS GAZA
5 Oktober 2025

———————————————————————-

SOSMED MAJELIS GAZA :

1. Gazatv Arabic :

@gazatv_arabic


https://s.snackvideo.com/u/@gazatvarabic/odKuf9YV
https://www.instagram.com/gazatv_arabic/

2. GAZAtv internasional:

@gazatv_internasional


https://s.snackvideo.com/u/@gazatv_internasional/vdZiMOuZ
https://www.instagram.com/gazatv_internasional/

3. Membahas Khusus Kebangkitan Islam Dari Timur.

@qiblat.timur


https://www.facebook.com/profile.php?id=61578353100292
https://s.snackvideo.com/u/@kebangkitan_islam/Gd5Isxwe
https://x.com/QiblatTimur?t=a4-ZFu7kJGktILG4hFr4Rg&s=09
https://www.instagram.com/qiblat_timur/?next=%2F
https://sck.io/u/@qiblattimur/dawh9zUw

4. Membahas Takwil Mimpi :
https://youtube.com/@perpustakaanberitalangit?si=tiC_tGfdmEjwP-Aj

@tafsirmimpi_gazatv


https://www.facebook.com/profile.php?id=61580302644359
https://s.snackvideo.com/u/@tafsirmimpigaz/qbgsdQOZ
https://www.instagram.com/tafsirmimpi_gazatv/

5. Khusus Untuk anak-anak remaja :

@gazayouth_official


https://s.snackvideo.com/u/@gazakidstv/BnuvsBdJ
https://sck.io/u/@gazayouth/jN4X5g2j

@remajagaza09


https://www.instagram.com/gazayouth_official?igsh=MTQ4dWU5ZzB5dWR4dw

6. Kuliah di Tanah Uzlah :

@gaza_institut


https://www.facebook.com/share/16serWX2mu/
https://www.facebook.com/profile.php?id=61576602160295
https://s.snackvideo.com/u/@gazainstitut/vwGAMLdc
https://www.instagram.com/gaza_institut/

7. Kultum (Kuliah 7 Menit) :
https://www.youtube.com/channel/UC6pBO3XlSnrt2Pyf4pSnrsA

@kultum_gazatv


https://s.snackvideo.com/u/@kultumgazatv/MkvFndE5
https://sck.io/u/@Gazatv_id/dvyfNBd7

8. Tadabur Qur’an :

@tadabburquran_gazatv


https://www.instagram.com/tadabburquran_gazatv/
https://www.facebook.com/profile.php?id=61580247297097&locale=id_ID

9. GAZA Official :
https://youtube.com/@gaza_nusantara?si=jchB6jWSWbUw82sn
https://youtube.com/@gazatv_id?si=ZGrORmfIEbzqprWM

@gazatv_official


https://s.snackvideo.com/u/@gazatv_official/qckdXSub
https://sck.io/u/@gerakanakhirza/jygPcY4w

@gazadreamsqasim


https://x.com/gazadreamsqasim?t=1tGsGkhjkWMKqrshEug_cw&s=09
https://www.lahtube.com/@gerakanakhirzaman

10). Tujuan Lainnya :

@emak_gaza


https://x.com/GazaMalaysia?t=wgwQ4nXvu4DpCKJmcV09Hg&s=09
https://s.snackvideo.com/u/@nubuahalmubasy/dOwvzGr3

11). Website :
https://gazadreamsqasim.com/

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Enjoy this blog? Please spread the word :)

Scroll to Top