
Kejadian penjarahan yang terjadi di Tapanuli tengah baru-baru ini kembali mengingatkan masyarakat pada pernyataan Ketua Majelis GAZA, Raden Diki Candra Purnama, yang dua tahun lalu telah mewanti-wanti tentang potensi kekacauan sosial akibat krisis ekonomi dan kelangkaan pangan.
Dalam peringatannya, Raden Diki Candra Purnama menekankan bahwa jika tekanan hidup semakin berat, masyarakat bisa sampai pada titik saling berebut kebutuhan dasar, bahkan sekadar sepotong roti. Ia mencontohkan beberapa kejadian di luar negeri yang memperlihatkan betapa cepatnya situasi bisa berubah ketika ketidakpastian ekonomi melanda suatu negara.
Dalam salah satu pesannya, ia memperingatkan dan menjelaskan peristiwa di Nepal, di mana kondisi krisis pernah menyebabkan ketidakstabilan hingga rakyat melakukan tindakan ekstrem kepada pemimpin mereka. Peringatan tersebut bukan sekadar retorika, melainkan ajakan agar dunia bersiap menghadapi tekanan sosial yang mungkin terjadi jika krisis global memburuk.
Peringatan itu disampaikan sebagai refleksi dari berbagai kasus internasional yang memperlihatkan bagaimana tekanan hidup yang ekstrem mampu memicu kekerasan, penjarahan, hingga konflik internal. Di beberapa negara, krisis ekonomi pernah menyebabkan demonstrasi besar, aksi kekerasan, bahkan serangan terhadap pemimpin lokal. Walaupun setiap kejadian memiliki konteks masing-masing, peringatan tersebut dianggap relevan sebagai pengingat agar masyarakat dan pemerintah memperkuat ketahanan sosial sejak dini.
Isyarat Agama: Puncak Ujian Besar Sosial Menjelang Penghujung Akhir Zaman & Petunjuk Allah untuk Umat Melalui Mimpi mubasyirat ,setelah Wahyu kenabian terputus
Kini, dengan munculnya penjarahan di Tapanuli, sebagian masyarakat menilai peringatan tersebut mulai terasa nyata. Meski penyebab utama insiden masih diselidiki, para pengamat sosial menilai bahwa ketidakstabilan ekonomi, kesenjangan sosial, dan tekanan hidup dapat menjadi faktor pemicu.
Sejumlah pemuka agama, tokoh masyarakat, dan pengamat sosial menilai peristiwa ini bisa menjadi peringatan dari Allah agar manusia meningkatkan kepedulian sosial, memperkuat persatuan, serta kembali pada nilai-nilai moral sebelum ujian yang lebih besar datang.
Peristiwa penjarahan yang terjadi di Tapanuli baru-baru ini kembali menggugah perhatian publik dan tokoh agama. Di tengah gejolak sosial dan tekanan ekonomi yang meningkat, sebagian umat melihat fenomena ini sebagai bagian dari isyarat agama tentang datangnya ujian besar sosial menjelang penghujung akhir zaman, sebagaimana telah disampaikan dalam hadits-hadits Rasulullah SAW.
Dalam ajaran Islam, Allah telah memperingatkan manusia bahwa akan datang masa-masa penuh ujian dan kekacauan sosial apabila manusia menjauh dari nilai keadilan, iman, dan kepatuhan kepada-Nya.
1. Al-Qur’an tentang Ujian dan Kekacauan
Allah berfirman:
“Dan sungguh akan Kami uji kalian dengan sedikit rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)
Para ulama menafsirkan bahwa ujian berupa lapar, ketakutan, dan kekurangan harta bisa memicu krisis sosial, penjarahan, dan kekacauan bila iman masyarakat melemah.
2. Hadits tentang Cobaan Sosial di Akhir Zaman
Rasulullah SAW bersabda:
“Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipu daya. Ketika itu orang yang amanah dianggap khianat, dan orang khianat dianggap amanah.” (HR. Thabrani)
“Akan terjadi fitnah seperti potongan malam yang gelap gulita, seseorang pagi hari beriman dan sore hari menjadi kafir (karena dunia).” (HR. Muslim)
Hadits-hadits ini menggambarkan betapa kekacauan sosial, hilangnya amanah, dan pertikaian akan menjadi ciri akhir zaman.
3. Lemahnya Solidaritas
Rasulullah SAW juga memperingatkan:
“Tidak akan tiba Hari Kiamat hingga banyak terjadi pembunuhan.” (HR. Bukhari)
Pembunuhan, penjarahan, dan kekacauan sering kali muncul dari hawa nafsu, tekanan ekonomi, dan hilangnya rasa persaudaraan.
Peran Mubasyirat: Petunjuk Allah Setelah Wahyu Terputus
Islam menetapkan bahwa wahyu kenabian telah berakhir setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Namun, Allah tetap memberi mubasyirat, yaitu mimpi benar kepada sebagian hamba sebagai kabar gembira dan peringatan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak tersisa dari kenabian kecuali mubasyirat.” Para sahabat bertanya, “Apakah mubasyirat itu?” Beliau menjawab, “Mimpi yang baik.” (HR. Bukhari)
Mubasyirat tidak menggantikan wahyu syariat, namun menjadi sinyal petunjuk, motivasi, dan pengingat bagi umat agar kembali kepada jalan yang benar yaitu kembali kepada tauhid murni & memberantas semua bentuk kesyirikan+kesyirikan modern.
Kesimpulan: Peringatan, Refleksi, dan Solusi ( Jalan Kembali )
Peristiwa penjarahan di Tapanuli menjadi sinyal penting bahwa Indonesia harus waspada terhadap memburuknya kondisi sosial. Peringatan Raden Diki Candra Purnama Ketua Majelis Gaza, ayat-ayat Al-Qur’an, hadits Nabi, hingga mubasyirat semuanya mengarah pada satu pesan:
Umat harus kembali kepada Allah memurnikan tauhid & memberantas segala bentuk kesyirikan+kesyirikan modern,sebelum datang ujian yang lebih besar.



