Di tengah keterpurukan dunia yang semakin mengkhawatirkan, di mana konflik global, kerusakan lingkungan, dan penurunan moral masyarakat terus berlangsung, kita dianjurkan untuk memperhatikan nubuat-nubuat yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam Islam, kiamat adalah suatu peristiwa yang pasti terjadi, dan Allah SWT telah memberikan petunjuk melalui Al-Qur’an dan hadis tentang tanda-tanda kiamat yang sudah dekat. Salah satu tokoh yang memiliki peran penting dalam menyampaikan pesan-pesan spiritual ini adalah Muhammad Qasim, seorang muslim Pakitsan yang memiliki mimpi-mimpi yang penuh makna dan relevansi dengan kondisi dunia saat ini.
Muhammad Qasim diberi mimpi oleh Allah SWT tentang kejadian-kejadian besar yang akan terjadi menjelang kiamat. Dalam salah satu mimpi yang terkenal, ia melihat dunia sedang berada dalam kekacauan besar, di mana manusia saling bertikai, harta benda menjadi alat persaingan, dan nilai-nilai agama mulai dilupakan. Mimpi ini mencerminkan realitas yang kita saksikan hari ini: konflik di Gaza, krisis iklim, dan penurunan moral yang semakin mengkhawatirkan. Tidak hanya itu, mimpi tersebut juga menggambarkan bagaimana orang-orang yang tidak percaya akan akhirat cenderung lalai dan tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi hari akhir.
Dalam konteks ini, nubuat Islam tentang kiamat bukan sekadar cerita yang tak nyata, tetapi sebuah ajakan untuk merenung, bertaubat, dan kembali kepada jalan yang benar. Ayat-ayat Al-Qur’an seperti “Dan kepunyaan Allah-lah segala apa yang tersembunyi di langit dan di bumi. Tidak adalah kejadian kiamat itu, melainkan seperti sekejap mata atau lebih cepat (lagi). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu,” (Q.S. al-Nahl [16]: 77) dan hadis-hadis Nabi SAW seperti “Sungguh, kiamat itu benar-benar akan terjadi, sampai-sampai dua orang laki-laki yang sedang menggelar pakaiannya, tak sempat berjual-beli dan mengakhiri jual-belinya,” (HR Bukhari) menunjukkan bahwa kiamat datang tanpa peringatan dan bisa terjadi kapan saja.
Realitas dunia saat ini sangat relevan dengan nubuat-nubuat ini. Konflik di Gaza yang terus berlangsung, ancaman terorisme, serta kebijakan-kebijakan yang tidak adil di banyak negara menunjukkan bahwa dunia sedang dalam fase krisis yang serius. Selain itu, perubahan iklim yang semakin parah, seperti banjir besar di Indonesia dan kekeringan di Afrika, juga menjadi tanda-tanda bahwa alam sedang mengalami perubahan yang signifikan. Semua ini mengingatkan kita pada sabda Nabi SAW: “Sesungguhnya ajal kalian jika dibandingkan dengan ajal umat terdahulu adalah seperti jarak antara salat ‘Ashar dan Maghrib.” (HR Bukhari).
Sebagai umat Islam, kita harus memahami bahwa kiamat bukanlah akhir dari segalanya, tetapi awal dari kehidupan yang lebih abadi. Oleh karena itu, kita perlu memperbaiki diri, meningkatkan iman, dan menjalani kehidupan dengan penuh kesadaran. Kita juga harus bersatu, baik secara individu maupun kolektif, untuk menjaga nilai-nilai kebenaran dan keadilan. Dengan demikian, kita dapat menjadi contoh yang baik bagi dunia dan mempersiapkan diri untuk menghadapi hari akhir.
Pada akhirnya, kita diingatkan untuk selalu berdoa kepada Allah SWT agar diberi taufik dan hidayah untuk menjalani kehidupan yang bermanfaat. Kita juga diminta untuk menjauhi dosa-dosa besar dan menjalankan amal-amal saleh. Dengan begitu, kita dapat memastikan bahwa kita siap menghadapi kiamat, baik dalam bentuk kiamat sughra (kematian) maupun kiamat kubra (akhir dunia). Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita ke jalan yang lurus dan memberi kita kekuatan untuk menjalani hidup dengan penuh keyakinan dan harapan.




