﷽
Maklumat Majelis Gaza ke 1.
TANAH UZLAH SEDANG MEMPERSIAPKAN & MENGUNDANG JUNDULLAH (TENTARA ALLAH)
DEFINISI.
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: “Dan milik Allah-lah bala tentara langit dan bumi.” (QS. Al-Fath: 7).
Ayat ini menunjukkan :
1). Jundullah mencakup semua alat dan makhluk yang Allah gunakan untuk menegakkan kehendak-Nya.
2). Tidak dibatasi pada manusia.
3). Malaikat, angin, rasa takut, iman, bahkan peristiwa alam termasuk jund (tentara) Allah.
4). Dari Surah & ayat ini, Jundullāh tidak identik otomatis dengan senjata fisik (Angkatan senjata).
5). Jundullah yang dimaksud Majelis GAZA Adalah ;
– Jundullah Tanpa Senjata Fisik / Literal, tapi Makna Ruhani & Akidah.
– Senjata kita adalah Iman & Takwa.
– Kita ingin pemenang, tidak mau jadi pecudang; “Merekalah yang menang.” (QS. Al-Mujadilah: 22)
Ayat ini menjelaskan :
– Jundullah adalah orang-orang beriman
– Kemenangan mereka bukan selalu fisik
– Bisa berupa keteguhan, istiqamah, penjagaan akidah
– Senjata kita Adalah Zikir, bermunajat & melangkah nyata :
– Doa orang beriman adalah senjata.
– Zikir sebagai hisn (benteng).
– Langkah adalah bukti kebenaran.
– Dalam Majmu‘ al-Fatawa, Jilid 10, halaman 40–42, Ibn Taymiyyah menyatakan : “Zikir bagi hati seperti senjata bagi seorang pejuang; sebagaimana senjata bergantung pada orang yang membawanya, maka demikian pula zikir.”
– Maka orang yang :
– Menjaga tauhid.
– Meluruskan akidah.
– Berdiri di barisan kebenaran.
– Bersama secara fisik dan melatih diri untuk menjadi potongan besi di tanah uzlah.
– Walau tanpa pedang.
Itulah Jundullah di ujung akhir zaman versi Majelis GAZA.
LANDASAAN.
1). Hadits-hadits tentang kebangkitan islam dari timur (timur jauh). Dan wangsit-wangsit (petunjuk langit) siliwangi dan Jaya baya.
2). Ada Mubasyirat : Nama GAZA saat nya akan berganti nama (bergantu baju) menjadi Jundullah.
3). Puluhan mimpi lain (kabar gembira), yang mengisyaratkan, majelis GAZA (Sosok-nya) memiliki amanah dari Allah untuk melakukan misi ini.
4). Saat ini sudah masuk fase pertolongan dari Allah, bukan fase gagah-gagahan atau hanya mengandalkan ilmu.
PRINSIP DAN PERGERAKAN NYATA.
Bagi Majelis GAZA, Jundullāh adalah :
1). Ketaatan kepada Allah, bukan dari teriakan lantang/perang/fisik.
2). Bukan kerasnya suara zikir, tapi zikir dalam sunyi.
3). Bukan memenajemen takdir untuk keinginan, tapi isyarat takdir selalu mengejar dan mengingatkan.
4). Seberapa jauh dan seberapa berani melangkah.
5). Seberapa lama dan sejauh mana kuat menahan fitnah, cacian dan tekanan.
6). Tidak mendahului syariat.
7). Tidak menjadikan mimpi untuk mendatangkan hukum islam baru.
8). Tidak menghalalkan darah.
9). Tidak haus/ butuh pengakuan.
10). Dan sejauh mana keiklasan dan mampu untuk melakukan perubahan menjadi sedikit tidur, sedikit makan, sedikit bicara dan seberapa banyak bermuamalah tanpa campur nilai dunia.
PONDASI JUNDULLAH YANG MAJELIS GAZA MAKSUDKAN.
1. Jundullah akidah (tauhid, iman, ilmu).
2. Jundullah ruhani (zikir, sabar, istiqamah).
3. Judullah fisik (menjauh dari linkungan maksiat, menjauh dari lingkungan syirik & mengambil sedikit dunia – Uzlah).
4. Jundullah sosial (amar ma’ruf, dakwah, menjaga umat).
CIRI KOMUNITAS JUNDULLAH YANG DIRIDHAI ALLAH (QS. Al-Fath: 7).
1). Komunitas Jundullah Sejati :
– Taat Qur’an & Sunnah.
– Berkumpul / menyatu karena petunjuk Allah (mubasyirat/ mimpi).
– Mengutamakan adab sebelum aksi.
– Terbuka pada semua pihak.
– Memerima dan mampu bersama dengan latar belakang Firqoh yang berbeda.
– Mau dan konsisten melatih diri dari 2 prinsip dasar = ibadah & pelayanan (bukan nge-bos). Perspektif akhlak Islam: Rasulullah ﷺ bersabda : “Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.” (HR. Abu Nu‘aim – maknanya hasan).
2). Komunitas KLAIM Jundullah (Palsu).
– Rahasia berlebihan (tertutup setelah masuk kelompoknya).
– Observasi yang belum percaya /musuh (prasangka).
– Meremehkan kitab ulama besar (zaman sahabat & tabiin).
– Menghalalkan dusta.
– Merasa “paling terpilih” (klaim golongan kanan tanpa landasan dalil kuat).
Dalil peringatan : QS. Al-Kahfi ayat 103 berbunyi : “Katakanlah (Muhammad), ‘Apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling rugi perbuatannya?’”
Ayat ini adalah pembuka peringatan keras dari Allah. Ayat berikutnya (104) menjelaskan siapa yang dimaksud : “(Yaitu) orang-orang yang sia-sia usahanya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka menyangka telah berbuat sebaik-baiknya.”
Makna pokok menurut tafsir ulama :
– Kerugian terbesar bukan karena tidak beramal.
– Tapi beramal dengan yakin benar, padahal salah secara manhaj.
– Mereka merasa :
– Paling lurus
– Paling berjuang
– Paling ikhlas
namun tidak sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya
– Ibn Katsir menjelaskan: Ayat ini mencakup setiap orang yang beribadah atau beramal tanpa landasan syariat yang benar, lalu mengira dirinya di atas kebenaran.
Relevansi dengan pembahasan sebelumnya : Ayat ini sering dijadikan peringatan terhadap kelompok atau individu yang :
– Mengklaim diri paling benar.
– Merasa “pasukan Allah”. Tapi karena mubasyirat yang menyampaikan itu
– Aktif secara fisik.
– Tetapi keluar dari adab, ilmu, dan bimbingan ulama.
Amal bisa besar, tapi tetap sia-sia jika :
– Niat benar tapi jalan salah.
– Semangat tinggi tapi tanpa ilmu.
– Kolektif kuat tapi manhaj menyimpang.
MAJELIS GAZA
(Diki Candra)
21 Desember 2025

