Al-Mahdi harus berasal dari keturunan langsung Rasulullah ﷺ, dan ketentuan ini ditegaskan secara jelas dalam banyak hadist yang shahih. Nasab Al-Mahdi disambungkan kepada Ahlul Bait, sebagai bentuk penjagaan Allahﷻ terhadap kemurnian risalah dan kesinambungan dakwah tauhid. Ketentuan nasab ini bukan simbol kehormatan semata, tetapi hujjah yang membedakan Al-Mahdi yang haq dari klaim-klaim palsu, karena Allah ﷻ tidak mengutus figur sebesar Al-Mahdi kecuali dari garis keturunan Nabi-Nya sendiri yang telah dimuliakan.
عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
«الْمَهْدِيُّ مِنَّا أَهْلَ الْبَيْتِ، يُصْلِحُهُ اللَّهُ فِي لَيْلَةٍ»
Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه berkata, Rasulullah ﷺ bersabda: “Al-Mahdi itu dari kami Ahlul Bait. Allah akan memperbaikinya dalam satu malam.” (HR.Ibnu Majah)
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «الْمَهْدِيُّ مِنْ عِتْرَتِي، مِنْ أَهْلِ بَيْتِي»
Ummu Salamah رضي الله عنها (istri Nabi ﷺ) berkata, Rasulullah ﷺ bersabda: “Al-Mahdi itu dari keturunanku, dari Ahlul Baitku.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah)
Fakta & Korelasi Terhadap Muhammad Qasim & mimpinya
Fakta 1:
Muhammad Qasim pernah mendapatkan penjelasan dari almarhum Ayahnya (semasa beliau masih hidup) dan juga keluarganya bahwa dirinya berasal dari keturunan Bani Quraisy dari jalur almarhum ayahnya, Abdul Karim. Paman beliau juga pernah memberi kesaksian saat para helper (pembantu penyebar mimpi) saat sedang bertabayyun ke Lahore, Pakistan.
Fakta 2:

Syekh Habibullah Astani (Mursyid Thariqah) dan dr. Jaya Mualimin Munawar (dinkes kalimantan timur) yang pada saat itu sebagai perwakilan dari Dewan Penasehat GAZA (Gerakan Akhir Zaman).
Mereka bersama Helper Muhammad Qasim di Kalimantan, menemui pemegang nasab Al-Hasani di Indonesia, Habib Abdul Qadir Al Hasni. Keturunan Rasulullah ﷺ dari jalur Imam Hasan RA tersebut memaparkan dan menunjukkan manuskrip tentang silsilah Nabi Muhammad ﷺ. Beliau menjelaskan banyak keturunan Rasulullah ﷺ yang berhijrah dari Makkah dan Madinah menuju ke Maroko (Maghribi). Sebagian ada yang berhijrah ke Yaman, sebagian lagi hijrah ke Hindustan.
Habib Abdul Qadir Al Hasni berpesan, “Apabila kamu bertemu dengan Sayyid Muhammad Qasim, sampaikan salam saya kepada beliau. Insya Allah beliau mengetahui saya karena kami masih sedarah.”
Fakta 3:
“Mimpi ini pada 10 April 2015. Nabi Muhammad ﷺ menyapaku dan berkata kepadaku: “Anakku Qasim, sebelum hari penghakiman, 4 tanda Besar kiamat akan muncul.” Lalu beliau berkata lagi: “Tanda besar pertama adalah kemunculan dirimu Anakku Qasim!”
Setelah 3 atau 4 Minggu, aku bermimpi bahwa Nabi terakhir Muhammad ﷺ menyampaikan bahwa tanda besar kedua Akan ditunjukkan di tahun-tahun mendatang yaitu Munculnya Dajjal. Beliau juga menunjukkan kepadaku Bahwa 2 tanda besar terakhir termasuk turunnya Isa ‘Alaihissalam dan kehancuran yang dilakukan oleh Yajuj dan Majuj.” (Mimpi Muhammad Qasim;web-pdf)
Dalam mimpi ini, secara tegas Rasulullah ﷺ memanggil Qasim dengan sebutan “Anak”. Tak hanya itu Rasulullah ﷺ, juga menegaskan bahwa Kemunculan Qasim adalah salah satu tanda besar kiamat.
Kesimpulan:
Berdasarkan fakta yang ada, Muhammad Qasim memiliki nasab yang tersambung langsung kepada Rasulullah ﷺ, sebuah syarat utama yang ditegaskan dalam hadist tentang Al-Mahdi. Nasab ini tidak berdiri sendiri, tetapi disertai dengan tanda peristiwa yang sejalan, khususnya dalam hal petunjuk tauhid yang disampaikan secara konsisten. Oleh karena itu, beliau tidak dapat diposisikan sebagai figur biasa, melainkan salah satu sosok besar yang Allah ﷻ utus di akhir zaman untuk menyampaikan peringatan dan mengajak umat kembali kepada tauhid murni. Penolakan terhadap fakta ini bukanlah masalah kurangnya dalil, tetapi cerminan dari sikap umat yang berulang kali menolak petunjuk sebagaimana umat-umat terdahulu menolak para utusan Allah ﷻ.

