Perpustakaan Eskatologi Majelis GAZA Part 15

Perpustakaan Eskatologi Majelis GAZA Part 15

PENDAPAT BAHWA MUBASYIRAT UNTUK UMAT, HANYA DITERIMA AL-MAHDI, DIBANTAH LANGSUNG QURAN, HADITS, KITAB ULAMA DAN MIMPI AL-MAHDI SENDIRI

Bismillahirrahmanirrahim.

I. BERAGAM PENAFSIRAN, SUDAH DIJAWAB LANGSUNG DALAM MIMPI AL-MADHI ITU (MUHAMMAD QOSIM) SENDIRI.

Mimpi lama Muhammad Qosim : “Akan ada orang lain yang bermimpi sederajat dengan mimpinya dan mengagumkan.”

Kata “sederajat” dalam konteks mimpi tidak berarti sama kedudukannya, karena calon Imam Mahdi hanya ada satu atau sama kedudukannya, tetapi sederajat dalam KUALITAS RUHANI dan KEBENARAN RU’YA-NYA.

Berikut dijelaskan dari Qur’an, hadits, ulama dan mimpi Muhammad Qosim sendiri.

1. PENJELASAN DARI SISI QUR’AN.

Ru’ya yang benar bersifat universal kepada orang yang Allah sucikan hatinya, bukan pada status kenabian atau utusan.

“Bagi orang beriman ada kabar gembira (busyra) dalam hidup dunia dan akhirat.” (QS. Yunus: 64).

Tafsir Ibn Katsir: “Busyra fid-dunya adalah ru’yaa shadiqah (mimpi benar)”.

2. PENJELASAN HADITS.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Mimpi yang benar adalah salah satu bagian dari kenabian.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Maknanya: Setiap orang yang memiliki mimpi benar memiliki “bagian kenabian”, bukan berarti ia nabi, tetapi ruhnya berada pada frekuensi kejujuran dan ketakwaan yang sama. Sehingga semua orang beriman bisa menerima mubasyirat yang sederajat dengan mubasyirat Al-Mahdi.

Kemudian Rasulullah ﷺ menegaskan: “Yang paling benar mimpinya adalah yang paling jujur lisannya.” (HR. Muslim).

Maka “sederajat” berarti sebanding dalam kejujuran, ketakwaan, dan kejernihan hati, bukan kedudukan kerasulan.

3. MENURUT ULAMA TASAWUF.

a. Ibn Qayyim – Dalam Madarij as-Salikin: Ru’ya shadiqah itu sebanding dengan kadar kejernihan hati dan kebersihan jiwa.

Baca Juga:  Dua Tim Majelis Gaza Mengirim Undangan

b. Al-Ghazali – Dalam Ihya’ Ulum al-Din: Yang melihat ru’ya haqq adalah orang yang hatinya tidak diliputi hawa nafsu, maka mimpinya dapat menjadi ilham bagi umat.

Jadi “sederajat” berarti setara dalam sumber, derajat dan fungsi. Sehingga tidak mimpi petunjuk untuk umat tidak hanya dialami oleh al-Mahdi saja, tapi semua umat beriman yang Allah kehendaki.

4. Mengapa Allah Menetapkan Adanya Orang Lain yang Mimpinya Sederajat?

Agar :
a. Tidak terjadi pemusatan pada satu orang, sehingga terhindar dari kultus, kecuali Rasul/Nabi, karena sifatnya wahyu secara penuh.
b. Ada verifikasi ruhani melalui kesaksian mimpi yang saling menguatkan.
c. Terbentuk jama’ah ruhani, bukan “imam tunggal” tanpa saksi. Dalam hadits: “Akan selalu ada jama’ah yang tegak di atas kebenaran.” (HR. Bukhari).

Jadi cahaya itu tidak turun hanya pada satu orang. Tapi dibagikan kepada beberapa orang yang Allah pilih.

5. TAKWIL MENURUT IBNU SIRIN DARI KALIMAT “SEDERAJAT.

Sederajat” berarti: Kesamaan Kekuatan Ru’yâ Shâdiqah nya.

Ibnu Sirin dalam kitabnya membedakan mimpi :
• Mimpi orang umum → lebih banyak dari nafsu.
• Mimpi orang ikhlas & jujur → mendekati ru’yâ nubuwwah.

Hadits terkait yang dipakai Ibnu Sirin: “Yang paling benar mimpinya adalah yang paling jujur lisannya.” (HR. Muslim)

“Sederajat” menunjukkan: Tanda Jama’ah Ruhani (Saf) yang sama
Ibnu Sirin berkata:

“Apabila mimpi suatu kaum saling menguatkan, maka itu adalah kebenaran.” (Riwayat dalam Târîkh Ibn Sa’ad).

Maka “akan ada orang lain bermimpi sederajat” berarti:
• Allah akan membangkitkan jama’ah yang mimpinya saling bersaksi memberi petunjuk satu sama lain.
• Jadi bukan satu figur saja yang menerima petunjuk.

Baca Juga:  Tiga Karakter Muslim Sejati

Ini membentuk saf (barisan), bukan kultus individu.

II. QUR’AN BICARA MUBASYRAT / MIMPI RAJA MESIR (BUKAN UTUSAN), UNTUK KEPENTINGAN SELURUH NEGARA.

CONTOH PERTAMA:

Surah Yusuf 12:43, “Raja berkata: Aku bermimpi melihat tujuh sapi gemuk dimakan tujuh sapi kurus….. ”

Status Raja :
• Bukan Nabi.
• Bukan Wali.
• Bahkan kafir saat itu.

Namun mimpi itu berasal dari Allah dan menjadi petunjuk bagi bangsa dan rakyatnya.

Karena :
• Mimpi tersebut bukan untuk dirinya.
• Tapi untuk menyelamatkan seluruh rakyat Mesir dan wilayah sekitarnya.

Tujuan Mimpi :
Memberikan petunjuk strategi menghadapi krisis pangan 7 tahun
Menyelamatkan bangsa, ekonomi, dan masyarakat luas.

CONTOH KEDUA:

Surah Yusuf 12:36; “Dua pemuda masuk penjara bersama Yusuf”.

Keduanya bermimpi, dan Yusuf menafsirkannya.

Status mereka :
• Bukan Nabi.
• Bukan utusan.
• Bukan pemimpin.

Namun, makna mimpi mereka terhubung dengan keputusan kerajaan.

Dari takwil mimpi ini → Yusuf dibebaskan → menjadi Menteri Keuangan Mesir → menyelamatkan umat dari krisis.

Mimpi orang biasa → ketika datang dari Allah → menjadi petunjuk bagi seluruh umat.

Ini tercatat dalam Qur’an, bukan sekadar pendapat ulama.

MAKA KESIMPULANNYA TEGAS :

“Pendapat Mimpi untuk umat hanya milik al-Mahdi / utusan.” Salah. Dibantah langsung oleh Qur’an.

Qur’an menunjukkan mimpi orang biasa dapat menjadi pedoman umat jika Allah menghendaki dan orang yang mentakwilkannya benar.

Waluhu’alam.

MAJELIS GAZA
5 November 2025

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Enjoy this blog? Please spread the word :)

Scroll to Top