Diutusnya Al-Mahdi di akhir zaman merupakan ujian besar bagi hati manusia. Allah menjadikan kemunculannya sebagai alat penyaring iman, untuk membedakan siapa yang tunduk kepada petunjuk-Nya dan siapa yang lebih memilih hawa nafsu, logika, atau otoritas manusia. Dalam ujian ini, yang dinilai bukan kecerdasan, status, atau keilmuan, melainkan kejujuran hati dalam menerima kebenaran ketika ia datang dengan cara yang tidak sesuai harapan.
اَفَكُلَّمَا جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌۢ بِمَا لَا تَهْوٰىٓ اَنْفُسُكُمُ اسْتَكْبَرْتُمْۚ فَفَرِيْقًا كَذَّبْتُمْ وَفَرِيْقًا تَقْتُلُوْنَ
“Mengapa setiap kali rasul datang kepadamu (membawa) sesuatu (pelajaran) yang tidak kamu inginkan, kamu menyombongkan diri? Lalu, sebagian(-nya) kamu dustakan dan sebagian (yang lain) kamu bunuh?” (Al-Baqarah :87)
Al-Mahdi bukan Rasul karena kenabian sudah terputus ketika wafatnya Rasulullah ﷺ, tapi statusnya tetap seorang utusan. Sifat sejarah selalu berulang, mayoritas umat menolak bukan karena kebatilan risalah, tetapi itu bertentangan dengan keinginan, hawa nafsu & kebiasaan mereka.
أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) berkata, “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji?” (Al-Ankabut :2)
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ:
إِذَا خَرَجَ الْمَهْدِيُّ افْتَرَقَ النَّاسُ فِيهِ ثَلَاثَ فِرَقٍ:
فِرْقَةٌ تُكَذِّبُهُ وَتُبْغِضُهُ،
وَفِرْقَةٌ تَشُكُّ فِيهِ وَتَرْتَابُ،
وَفِرْقَةٌ صَدَقَتْ قُلُوبُهُمْ فَآمَنُوا بِهِ، فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Apabila al-Mahdi keluar, manusia akan terpecah menjadi tiga golongan:
- Golongan yang mendustakannya dan membencinya,
- Golongan yang ragu dan bimbang terhadapnya,
- Dan golongan yang jujur hatinya lalu membenarkannya; maka mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman.” (Kitab Al-Fitan karya Nu‘aim bin Hammad, guru Imam Bukhari)
Fakta & Korelasi Terhadap Muhammad Qasim & Mimpinya
“Sebenarnya Allah ingin menguji hati manusia tentang hal ini (mimpi-mimpi petunjuk Muhammad Qasim), untuk melihat siapakah yang ada kedengkian dan kesombongan dalam hatinya serta siapa yang suci hatinya. Allah terus memilih mereka dengan RahmatNya dari seluruh penjuru dunia, baik dari indonesia, malaysia, amerika, dll. Siapapun, dimanapun Allah memilih mereka satu persatu dengan RahmatNya.” (Mimpi Muhammad Qasim; pidato)
Kesimpulan :
Orang yang mengaku dan merasa beriman pun di akhirzaman akan kembali diuji keimanan serta kebersihan hatiya melalui Sosok Al-Mahdi yang tidak sesuai harapan atau paradigma mereka. Mayoritas umat terjebak harapan sosok Al-Mahdi yang muncul membawa petunjuk harus orang yang ahli kitab, bersorban agamis, gagah dan penuh wibawah.
Mayoritas umat menolak petunjuk Al-Mahdi bukan karena bertentangan dengan Al-Qur’an dan hadist, tetapi karena tidak sesuai dengan hasil ijtihad, tafsiran, dan konstruksi pemahaman yang telah mereka mapankan sendiri. Penolakan ini lahir dari sikap mendahulukan otoritas manusia di atas nash, sehingga kebenaran yang datang justru diukur dengan selera mazhab dan paradigma lama. Padahal apa yang disampaikan Al-Mahdi tidak keluar dari Al-Qur’an dan hadist, melainkan mengembalikan umat kepada keduanya secara murni, tanpa kompromi dengan kepentingan dan fanatisme.

