Perlu diketahui bahwa tidak ada hadist yang secara jelas menyatakan Al-Mahdi tidak mengetahui kalau dirinya Al-Mahdi. Pernyataan tersebut hanya pandangan dan tafsiran ulama terhadap hadist,
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ
فَيُبَايَعُ لَهُ وَهُوَ كَارِهٌ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ
Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Lalu dibaiatlah ia di antara Rukun dan Maqam dalam keadaan ia tidak menyukainya.” (HR.Al-Baihaqi, Abu Dawud)
Hadist ini menunjukkan bahwa ia tidak tampil dengan klaim, bahkan dibaiat dalam keadaan enggan (tidak menyukai), dan dapat dipahami bahwa kemahdiannya dikenal melalui tanda-tanda, bukan pengakuan diri.
Fakta & Korelasi Terhadap Muhammad Qasim
Muhammad Qasim tidak pernah mengklaim apapun & tidak mencari keuntungan dalam bentuk apapun, hal ini sudah ditegaskan berkali-kali melalui channel youtube maupun tulisannya. Saat sebelum menyebarkan mimpi, Muhammad Qasim tidak mengetahui tentang Al-Mahdi dikarenakan minimnya literasi agamanya secara hujjah. Beliau hanya mengikuti perintah Allah ﷻ dan Rasulullah ﷺ di dalam mimpinya untuk menyebarkan petunjuk Tauhid ini kepada semua orang, tidak lebih.
Kesimpulan:
Al-Mahdi tidak mengetahui bahwa dirinya adalah Al-Mahdi agar ia tidak mengincar kekuasaan, jabatan, atau kemuliaan dunia. Ketidaktahuan ini merupakan bentuk penjagaan ilahi, sehingga langkah-langkah Al-Mahdi lahir dari ketaatan dan ketulusan, bukan ambisi pribadi. Dengan cara ini, Allah memastikan bahwa peran Al-Mahdi berjalan murni sebagai pelaksana kehendak-Nya, bukan sebagai pencari kekuasaan, sekaligus menjadi pembeda tegas antara Al-Mahdi yang hak dan para pengklaim palsu yang justru haus pengaruh dan pengakuan.

