The Way of life !! Ikuti Jalan Para Nabi, Bukan Sebagai Dongeng Saja.

Gaza 6 April 2025

Ternyata tanpa disadari selama ini kita menjalankan Islam seperti yang disampaikan oleh para penceramah dan mengikuti saja seperti air mengalir tanpa berusaha untuk mencari kebenaran sejati dari Islam itu sendiri. Sehingga muncul pribadi dan karakter umat Islam yang saat ini kita rasakan, seperti buih di lautan, berjumlah banyak namun tidak berkualitas. Padahal seharusnya seseorang yang mengaku beragama Islam harus tahu makna dan kebenaran Islam itu sendiri, sehingga muncul keimanan dan ketakwaan. Bukan Islam sebatas keturunan ataupun berislam KTP. The Way of life !! Ikuti Jalan Para Nabi, Bukan Sebagai Dongeng Saja.

Dalam pembahasan kali ini kita uraikan bagaimana mencari makna kebenaran Islam yang tegas bersandar pada jalan yang di tempuh Nabi Ibrahim عَلَیهِ‌ السَّلام (bapak Tauhid, bapaknya para Nabi, termasuk Nabi Muhammadﷺ) sebagai “THE WAY OF LIFE” dengan tujuan agar umat Islam tersadar dan bisa menemukan jalan kebenaran yang sesungguhnya. Sehingga bisa memutuskan pilihan untuk ‘sami’na wa ato’na’ pada ketetapan Allahﷻ dan Rasulullahﷺ.

Dengan samina wa atona pada Allahﷻ, in sya Allah kita bisa menyikapi ayat-ayat Allahﷻ dengan benar. Dengan adanya utusan Allahﷻ yaitu Al Mahdi (saat ini berada di Indonesia), dan bumi yang di tandai gempa-gempa, huru hara dan tsunami yang akan melanda Indonesia dalam waktu dekat. Berdasarkan mubasyirat, perkiraan BMKG dan BRIN. hendaknya umat islam tidak terkecoh dengan lebih mempercayai dukun, peramal, dan indigo sebagai cara menjerumuskan manusia pada kesyirikan.

MENCARI KEBENARAN, IKUTILAH JALAN PARA NABI

Allahﷻ berfirman dalam QS. An-Nahl 16:123 dan QS. Ali ‘Imran 3:95,

ثُمَّ اَوْحَيْنَاۤ اِلَيْكَ اَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًا ۗ وَمَا كَا نَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), “Ikutilah agama ( jalan, cara) Ibrahim yang lurus, dan dia bukanlah termasuk orang musyrik.”

قُلْ صَدَقَ اللّٰهُ ۗ فَا تَّبِعُوْا مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًا ۗ وَمَا كَا نَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

“Katakanlah (Muhammad), “Benarlah (segala yang difirmankan) Allahﷻ.” Maka ikutilah agama ( jalan, cara) Ibrahim yang lurus, dan dia tidaklah termasuk orang musyrik.”

Dua ayat tersebut mengajak manusia untuk mengikuti jalan para Nabi agar tidak termasuk orang yang musyrik. Hal ini bukan hanya didengar sebagai dongeng ataupun didengar tanpa ada perubahan dalam nilai hidup kita.

Jika seluruh manusia di bumi mengerti bahwa apa yang Allahﷻ kisahkan di dalam Al Qur’an, terutama tentang siroh (kisah nabi-nabi), adalah kisah yang harus di teladani dan diikuti semaksimal mungkin. Sebagai contoh; saat manusia mengalami sakit, maka kita kembalikan bagaimana saat Nabi Ayub عَلَیهِ‌ السَّلام mengalami sakit. Allahﷻ memberikan ujian sakit yang lama dan menggerogoti tubuhnya, tapi beliau tetap sabar, ikhlas dan berdoa. Namun tidak pernah menyalahkan diri sendiri maupun menyalahkan Allahﷻ. Beliau memohon kepada Allahﷻ dengan santun “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang paling penyayang di antara semua penyayang.” (QS. Al-Anbiya 21: 83)

Baca Juga:  Pertemuan Muhammad Qasim Dengan Uzma Adalah Perangkap Dajjal

Allahﷻ berfirman:

وَاَ يُّوْبَ اِذْ نَا دٰى رَبَّهٗۤ اَنِّيْ مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَاَ نْتَ اَرْحَمُ الرّٰحِمِيْنَ 

“dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “(Ya Tuhanku), sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.””
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 83)

Doa tersebut mengajarkan kita untuk selalu mengakui kelemahan diri, ketika ditimpa penyakit dan tidak dapat berbuat apa-apa tanpa bantuan Allahﷻ, hanya memohon bantuan dari Allahﷻ. Dan meyakini hanya Allahﷻ yang dapat menyembuhkan penyakitnya, serta mempercayai kasih sayang dan kekuasaan-Nya dengan tetap istiqamah menyembah Allahﷻ semata.

Prioritaskan untuk sememinta pertama segala sesuatu pada Allahﷻ dahulu, bukan menyembah dan minta pertolongan pada manusia apalagi pada kuburan. Seperti sekarang ini umat Islam lebih percaya pada dokter, dukun atau ahli pengobatan dibandingkan meminta kesembuhan pada Allahﷻ ketika mengalami sakit. Tanpa disadari perbuatan tersebut termasuk syirik.

Maka dari itu perlu bagi kita untuk belajar memurnikan kalimat “Laa illahha illallaah” di setiap aspek kehidupan. Karena berislam bukan hanya sekedar menjalankan sholat, puasa dan haji. Tetapi bagaimana keyakinan diri, bahwa Allahﷻ adalah satu satunya yang kita sembah, tempat minta tolong, berharap, bersandar dan tempat sujud meyerahkan diri.

Jika kita sudah konsisten dan komitmen dengan berislam sesuai dengan cara Nabi terdahulu, maka kita baru paham dan sadar bahwa utusan Allahﷻ saat ini telah datang, yaitu Al Mahdi yang di tunggu-tunggu kehadirannya sudah ada di Indonesia, yaitu Muhammad Qasim bin Abdul Karim.

JALAN PARA NABI DALAM QURAN

Jalan para nabi yang disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai jalan yang harus diikuti umat Islam saat ini diantaranya adalah:

Nabi Adam عَلَیهِ‌ السَّلام sebagaimana yang terdapat dalam QS. Al-A’raf: 11

– Jalan yang harus diikuti: Ketaatan kepada Allahﷻ dan kesadaran akan kelemahan diri sendiri.
– Ayat: “Dan Kami telah menciptakan kamu, kemudian Kami telah membentuk kamu, kemudian Kami berfirman kepada malaikat-malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam’, maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Dia tidak termasuk mereka yang sujud.” (QS. Al-A’raf: 11)

Nabi Nuh عَلَیهِ‌ السَّلام
– Jalan yang harus diikuti: Kesabaran dan keteguhan dalam menghadapi kesulitan.
– Ayat: “Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia tinggal di antara mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka itu Kami timpakan banjir besar, maka Kami jadikan mereka sebagai pelajaran.” (QS. Al-Ankabut: 14)

Baca Juga:  Pesan Muhammad Qassim Pada Umat Muslim

Nabi Ibrahim عَلَیهِ‌ السَّلام:
– Jalan yang harus diikuti: Ketaatan kepada Allah SWT dan keberanian dalam menghadapi tantangan.
– Ayat: “Dan Ibrahim telah berkata: ‘Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah) negeri yang aman dan berilah rezeki kepada penduduknya dari buah-buahan, bagi yang beriman di antara mereka dan yang tidak beriman’.” (QS. Al-Baqarah: 126)

Nabi Musa عَلَیهِ‌ السَّلام:
– Jalan yang harus diikuti: Keberanian dalam menghadapi kesulitan dan kesadaran akan kelemahan diri sendiri.
– Ayat: “Dan Musa berkata: ‘Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah urusanku dan lepaskanlah kekakuan lidahku’.” (QS. Taha: 25-27)

Nabi Isa عَلَیهِ‌ السَّلام:
– Jalan yang harus diikuti: Kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama manusia.
– Ayat: “Dan Isa berkata: ‘Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi’.” (QS. Maryam: 30)

Nabi Muhammadﷺ
– Jalan yang harus diikuti: Ketaatan kepada Allah SWT, kesabaran, dan kasih sayang terhadap sesama manusia.
– Ayat: “Katakanlah (Muhammad): ‘Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu’.” (QS. Ali Imran: 31)

Nabi-nabi lain
– Nabi-nabi lain yang disebutkan dalam Al-Qur’an antara lain:
– Nabi Hud عَلَیهِ‌ السَّلام (QS. Al-A’raf: 65-72)
– Nabi Saleh عَلَیهِ‌ السَّلام (QS. Al-A’raf: 73-79)
– Nabi Syu’aib عَلَیهِ‌ السَّلام(QS. Al-A’raf: 85-93)
– Nabi Yusuf عَلَیهِ‌ السَّلام (QS. Yusuf: 1-111)
– Nabi Daud عَلَیهِ‌ السَّلام (QS. Al-Baqarah: 251)
– Nabi Sulaiman عَلَیهِ‌ السَّلام (QS. Al-Baqarah: 102)

Ayat-ayat tersebut menunjukkan jalan yang harus diikuti oleh para nabi dan umat manusia untuk mencapai kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan di akhirat.

Semoga Allahﷻ mudahkan umat Islam untuk mengikuti jalan para Nabi, agar bisa berfikir menggunakan akal sehat dan menganalisis sumber hukum Islam dengan benar, serta mempraktikkannya dalam kehidupan sehari hari. Sehingga bisa mencapai kebersihan diri, kejujuran dalam beragama dan tercipta kesadaran diri untuk beriman diatas Islam dan sesuai ajaran Rasulullahﷺ.

Dengan kesadaran diri yang tinggi dan tepat, manusia akan mudah mengambil sikap dan keputusan yang tepat, termasuk menempatkan “sami’na wa ato’na” dengan tepat.
“kami mendengar dan kami taat”. Taat terhadap perintah Allahﷻ dan menjauhi laranganNya sesuai pedoman Al Qur’an dan Hadits, bukan hawa nafsu dan mengikuti orang-orang kebanyakan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Enjoy this blog? Please spread the word :)

Scroll to Top