Perpustakaan Eskatologi Majelis GAZA Part 28

Perpustakaan Eskatologi Majelis GAZA Part 28.

*PENGGUNAAN AI /IT /TEKNOLOGI – ANTARA USTADZ VS JAMAAH (MENJAWAB YANG ANTI CHAT-GPT – SERI 1)*

CATATAN AWAL :

Islam tidak membangun otoritas agama di atas kebodohan jamaah, tapi di atas hujjah, dalil, dan keterbukaan ilmu.

QS. Az-Zumar: 9: “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”

Ayat ini tidak membedakan ustadz vs jamaah,
tetapi siapa pun yang berilmu, dialah yang dimuliakan.

Jadi dimata Allah, sangat bisa jamaahnya lebih mulia.

I. PENYAKIT TOKOH AGAMA: TAKUT KEHILANGAN KEDUDUKAN ILMU.

Cinta Diakui, Popularitas & Pengaruh.

Imam Al-Ghazali – Ihyā’ ‘Ulūmiddīn. Jilid 3, hlm. 199 (Dār al-Ma‘rifah, Beirut).

حُبُّ الْجَاهِ أَصْلُ كُلِّ بَلَاءٍ فِي الْعُلَمَاءِ
“Cinta kedudukan adalah akar dari seluruh kerusakan pada diri para tokoh agama”.

Al-Ghazali menjelaskan dalam bab ini bahwa :

– Sebagian orang berilmu takut kehilangan pengaruh.
– Tidak rela bila murid atau jamaahnya lebih pintar.
– Cenderung menyembunyikan atau membatasi akses ilmu.
– Menolak teknologi (yang membuka kitab, tafsir, dan referensi luas).
– sering kali bukan karena dalil, tapi karena takut kehilangan posisi.

II. TIPU DAYA IBLIS DALAM DUNIA ILMU.

Ilmu Dijadikan Alat pengaruh dirinya :

Imam Ibn al-Jauzi – Talbīs Iblīs
hlm. 96 (Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah).

وَمِنْ تَلْبِيسِ إِبْلِيسَ عَلَى بَعْضِ الْعُلَمَاءِ أَنْ جَعَلَ الْعِلْمَ سُلَّمًا لِلرِّيَاسَةِ
“Termasuk tipu daya Iblis terhadap sebagian ulama adalah menjadikan ilmu sebagai tangga menuju pengaruh (kekuasaan) dan kepemimpinan.”

Baca Juga:  Beberapa Media Memberitakan Secara Berkala serta Mendukung Langkah-langkah Diki Candra Dalam Menyikapi Akhir Zaman

Ibn al-Jauzi melanjutkan :
Mereka takut kehilangan kontrol
Tidak suka jamaah mengakses sumber lain
Membuat larangan-larangan tanpa dalil yang jelas.

Di zaman modern, bentuknya :
– Menakut-nakuti jamaah dari internet.
– Mengharamkan eBook, AI, atau kajian mandiri.
– Mengklaim “cukup dengar saya saja. Karena saya dari kitab.

III. TELADAN ULAMA SEJATI: TIDAK TAKUT KALAH ILMU.

1). Imam Asy-Syafi‘i (w. 204 H). Manaqib al-Syafi‘i – Al-Baihaqi. Jilid 2, hlm. 152 (Dār al-Turats).

مَا نَاظَرْتُ أَحَدًا إِلَّا وَدِدْتُ أَنْ يُظْهِرَ اللَّهُ الْحَقَّ عَلَى لِسَانِهِ
“Aku tidak berdebat dengan siapa pun kecuali aku berharap Allah menampakkan kebenaran melalui lisannya.”

Maknanya:
– Imam Syafi‘i tidak takut muridnya benar.
– Tidak takut kalah argumen.
– Tidak memonopoli ilmu.
– Tidak emosi dengan menuduh (merendahkan) hal lainnya, untuk menutupi kekurangannya.

Mental ini berlawanan dengan ustadz yang takut jamaahnya pintar.

2). Imam Malik (w. 179 H). Jāmi‘ Bayān al-‘Ilm wa Fadlih – Ibn ‘Abdil Barr. Jilid 2, hlm. 32.

كُلٌّ يُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِهِ وَيُرَدُّ إِلَّا صَاحِبَ هَذَا الْقَبْرِ

“Setiap orang bisa diambil dan ditolak pendapatnya, kecuali penghuni kubur ini (Rasulullah ﷺ).”

Imam Malik:
– Tidak mengklaim otoritas absolut
– Tidak melarang murid membaca dan membandingkan.

IV. ULAMA MENGHARAMKAN PEMBLOKIRAN ILMU – SEOLAH HANYA DENGAN CARA BACA LANGSUNG KE KITAB NYA.

1). Ibn Taymiyyah: Melarang Berbagai Pintu Ilmu = Menghalangi Jalan Allah.

Majmū‘ al-Fatāwā
Jilid 20, hlm. 164.

Baca Juga:  Mayoritas Manusia Saat ini Ada Dalam Penjara Dajjal

مَنْ مَنَعَ النَّاسَ مِنَ الْعِلْمِ النَّافِعِ فَهُوَ مِنَ الصَّادِّينَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ
“Barang siapa menghalangi manusia dari ilmu yang bermanfaat, maka ia termasuk orang yang menghalangi jalan Allah.”

Teknologi hari ini adalah pintu ilmu terbesar.

Menghalanginya tanpa dalil syar‘i → bahaya besar.

2). Asy-Syathibi: Mengikat Manusia pada Satu Otoritas adalah Bid‘ah.

Al-Muwāfaqāt
Jilid 4, hlm. 294.

إِلْزَامُ النَّاسِ بِفَهْمٍ وَاحِدٍ فِي الدِّينِ مِنَ الْبِدَعِ
“Memaksa manusia terikat pada satu pemahaman dalam agama termasuk bid‘ah.”

Melarang teknologi agar jamaah hanya dengar satu suara
= praktik yang dikritik ulama ushul.

V. ANALISIS.

Dari kitab-kitan diatas, Secara ilmiah–kitabiyah, fenomena tokoh agama/ ustadz yang takut teknologi biasanya ditandai oleh :
– Takut kehilangan otoritas
– Takut jamaah membaca langsung kitab via teknologi.
– Takut dikoreksi.
– Takut peran eksklusifnya tergeser

Ibn al-Qayyim – Miftāh Dār as-Sa‘ādah. Jilid 1, hlm. 140 : “Ilmu yang benar melahirkan tawadhu‘, bukan ketakutan.”

VI. KESIMPULAN.

– Takut jamaah pintar bukan sifat ulama waratsatul anbiya,
– tapi penyakit nafs yang telah diperingatkan ulama klasik.

Da’i sejati:
– Tidak langsung alergi dengan pintu lain untuk menggali ilmu.
– Membuka akses ilmu.
– Membimbing, bukan menghalangi.
– Gembira jika umat cerdas.

JADI :
– Teknologi hanyalah alat
– Yang terguncang bukan agama — tapi ego otoritas semu.

Walahu’alam.

MAJELIS GAZA
(Diki Candra)
28 Desember 2025

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Enjoy this blog? Please spread the word :)

Scroll to Top