Kaitan Tafsir Tematik Surah Al-A‘raf dengan Pesan Mubasyirāt Muhammad Qasim: Seruan Menghindari Kesyirikan

Salah satu benang merah paling kuat dalam tafsir tematik Surah Al-A‘raf ayat 59–93 adalah penegasan tauhid dan peringatan keras terhadap kesyirikan. Lima kisah nabi yang disampaikan secara berurutan—Nabi Nuh, Hud, Saleh, Luth, dan Syuaib—menunjukkan bahwa kerusakan terbesar umat manusia selalu bermula dari penyimpangan tauhid, bukan semata-mata dari kerusakan moral atau sosial.

Tauhid sebagai Inti Dakwah Para Nabi

Dalam Surah Al-A‘raf, seruan dakwah para nabi hampir identik:

“Sembahlah Allah, tidak ada Tuhan bagi kalian selain Dia.”

Pengulangan kalimat ini pada ayat 59, 65, 73, dan 85 menegaskan bahwa tauhid adalah fondasi utama dakwah, sedangkan seluruh bentuk kemungkaran lainnya hanyalah cabang dari rusaknya tauhid tersebut. Ketika tauhid runtuh, maka kesombongan, kezaliman, penyimpangan seksual, dan kecurangan ekonomi akan mengikuti.

Kesyirikan: Awal Kehancuran Umat

Kisah Nabi Nuh secara khusus memperlihatkan bagaimana kesyirikan tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi melalui proses bertahap:

  1. Penghormatan berlebihan terhadap orang saleh

  2. Pembuatan simbol dan monumen

  3. Ritual pengagungan

  4. Ketergantungan batin

  5. Penyembahan

Baca Juga:  Banjir di Aceh: Dampak pada 16 Kabupaten Tahun 2025

Inilah pola yang terus berulang hingga akhir zaman, meskipun bentuknya berbeda. Kesyirikan di akhir zaman seringkali tampil lebih halus, tersembunyi di balik istilah budaya, tradisi, spiritualitas, bahkan ekonomi dan kekuasaan.

Pesan Mubasyirāt Muhammad Qasim dan Penegasan Tauhid

Dalam banyak mimpi Muhammad Qasim yang beredar, salah satu pesan paling dominan adalah peringatan agar umat Islam kembali kepada tauhid dan menjauhi kesyirikan. Pesan ini bukanlah hal baru, melainkan pengulangan misi para nabi terdahulu, sebagaimana digambarkan dalam Surah Al-A‘raf.

Mubasyirāt tersebut tidak datang membawa syariat baru, tidak pula mengklaim kenabian, tetapi berfungsi sebagai peringatan (tadzkirah) bahwa umat Islam di akhir zaman menghadapi bahaya besar berupa:

  • Syirik yang dibungkus modernitas seperti banyaknya foto/gambar makhluk hidup yang dipajang dirumah, jalan/ baliho ataupun dikemasan produk

  • Ketergantungan pada selain Allah

  • Pengultusan tokoh, sistem, atau kekuatan dunia

  • Menggeser kepercayaan dari Allah kepada sebab-sebab materi misalkan menisbatkan prestasi/ kesuksesan sebagai hasil kerja keras pribadi

Dalam konteks ini, mimpi sebagai mubasyirāt berperan sebagai alarm spiritual, bukan sumber hukum, tetapi pengingat bahwa sunnatullah dalam Surah Al-A‘raf sedang terulang.

Baca Juga:  Alyaban dan Nusantara dalam Perspektif Akhir Zaman: Kajian Ciri-Ciri Kebangkitan dari Timur

Relevansi Akhir Zaman

Surah Al-A‘raf menunjukkan bahwa ketika kesyirikan dan kemaksiatan telah menjadi budaya, maka azab Allah datang secara kolektif, sementara keselamatan hanya diberikan kepada mereka yang beriman dan teguh dalam tauhid, meskipun jumlahnya sedikit (ghurabā’).

Pesan ini sejalan dengan makna mubasyirāt:
bukan untuk menakut-nakuti semata, tetapi untuk membangunkan kesadaran umat agar kembali kepada Allah sebelum terlambat.

Penutup

Kaitan antara tafsir tematik Surah Al-A‘raf dan pesan mubasyirāt Muhammad Qasim terletak pada kesatuan pesan ilahiah:
👉 tauhid tidak boleh dinegosiasikan,
👉 kesyirikan adalah awal kehancuran,
👉 sejarah akan berulang jika manusia mengulangi kesalahan yang sama.

Dengan demikian, baik Al-Qur’an maupun mubasyirāt mengarahkan umat Islam pada satu sikap utama di akhir zaman:
membersihkan tauhid, menjauhi kesyirikan, dan kembali bergantung penuh kepada Allah semata.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Enjoy this blog? Please spread the word :)

Scroll to Top